Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXIII/02 - 8 Agustus 2004
   
Film

Dari Dunia Si Buruk Rupa

Diangkat dari komik karya Mike Mignola, Hellboy berhasil menampilkan kekelaman makhluk neraka.

HELLBOY
Sutradara: Guillermo del Toro
Skenario: Mike Mignola dan Guillermo del Toro
Pemain: Ron Perlman, David Hyde Pierce
Produksi: Columbia Pictures

Bara itu berawal dari sebuah kecupan lembut. Dari seorang lelaki tua yang menyelinap ke kamar seorang gadis cantik di suatu malam berangin. Gadis itu tetap terlelap, namun kecupan itu melahirkan mimpi tentang tiga bocah lelaki yang menyerangnya. Tersudut di pagar, segumpal api biru menyala di tangannya. Nyala api itu membungkus tubuhnya yang masih terbujur di ranjang.

Kemampuan pyrokinesis ini menyebabkan sang gadis meledakkan rumah sakit jiwa, tempat tinggalnya selama ini. Kejadian tak sengaja itu mendorongnya kembali ke habitatnya, Bureau for Paranormal Research and Defense, divisi khusus dalam tubuh FBI yang dibentuk Presiden Roosevelt. Saat Perang Dunia II, AS mengkhawatirkan perhatian khusus Hitler pada klenik. Beberapa paranormal dikirim ke Eropa demi menggagalkan proyek sihir hitam Nazi. Salah satunya ke sebuah gereja tua di Skotlandia.

Di halaman gereja itu, seorang ilmuwan Rusia mencoba mengaktifkan sebuah pintu gerbang untuk mendatangkan iblis dari neraka. Proyek ini gagal, dan paranormal itu menemukan kera kecil berwarna merah yang lantas diangkatnya menjadi anak bernama Hellboy.

Inilah tokoh protagonis yang hidup dalam serial komik karya Mike Mignola produksi Dark Horse Comics. Oleh Guillermo del Toro, komik ini diangkat menjadi film yang menarik.

Pertama, Hellboy bukanlah superhero dan berwajah jauh dari tampan, sehingga film ini bisa dijauhi oleh segmentasi penonton remaja perempuan pemuja superhero hunky—alias ganteng—seperti Batman dan Superman. Kedua, Hellboy tak memiliki kemampuan khusus selain kekuatan fisik belaka. Berbeda dengan karakter komik lainnya seperti Spider-Man, Flash, Invisible Man, atau Daredevil, Hellboy bertemperamen kasar, kerap mengumpat, penggemar cerutu, dan peminum.

Del Toro mengambil risiko untuk tetap mempertahankan karakter tak bersahabat ini melalui akting Ron Perlman sebagai Hellboy atau HB atau Big Red—demikian panggilan akrabnya—yang penuh sungut, tetapi toh tetap mempertahankan humor.

Del Toro menulis skenario yang diambilnya dari volume 1, Seeds of Destruction, yakni tentang misi Hellboy (Ron Perlman) membasmi Samael, monster dari neraka yang dihidupkan Grigori (Karel Roden), titisan Rasputin, dukun ilmu hitam dari Rusia. Ia dibantu Abe Sapien (Doug Jones), alien berkemampuan meramal.

Dalam misi ini, Hellboy menghadapi kematian Dr. Trevor "Broom" Bruttenholm (John Hart), ayah angkatnya. Selain itu, dia harus mengatasi kecemburuannya terhadap John Myers (Rupert Evans), agen anyar FBI yang tampan itu. Syahdan, Liz Sherman (diperankan dengan cemerlang oleh Selma Blair), gadis berkekuatan pyrokinesis itu, sungguh menarik hati Hellboy. Tetapi, bukankah Myers yang teramat tampan itu mengajak Liz berkencan?

Kenikmatan film terutama terletak pada visualisasi komik yang berpindah ke atas layar: penataan gambar dan warna. Dramatisasi dan rasionalisasi dunia komik tetap dipertahankan. Lihatlah betapa dramatisnya adegan Hellboy di atap rumah di bawah hujan deras yang menatap peti mati ayahnya yang tengah diusung.

Del Toro bukanlah sineas baru dalam dunia komik dan film. Ia lazim menciptakan dunia visual yang kelam dari komik seperti dalam film Blade II, tentang pembasmi vampir, yang juga diangkat dari komik. Dilihat dari sejarah perfilmannya, sutradara kelahiran Guadalajara, Meksiko, 9 Oktober 1964, ini memang akrab dengan cerita horor, action, dan komik. Selain Mimic dan Blade II, ia juga menggarap Cronos, film horor yang juga dibintangi Ron Perlman, Geometria (1987), dan The Devil's Backbone (2001).

Menyerahkan Hellboy ke tangan Del Toro memang pilihan tepat. Ia memiliki kelugasan bercerita—sesuatu yang dibutuhkan bagi komik yang dianggap "maskulin" seperti Hellboy—sekaligus mengaduknya dengan humor.

F. Dewi Ria Utari


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data