Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXIII/02 - 8 Agustus 2004
   
Indonesiana

Dikejar Piala Terkotor

HADIAH selalu membuat senang orang yang menerimanya. Tapi sungguh lain piala bergilir yang diberikan oleh Bupati Madiun ini. Gara-gara mendapat trofi tersebut, Edy Purwanto, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Madiun, justru menjadi murung. Ia juga menjadi bahan ejekan rekan-rekannya.

"Musibah" terjadi pada peringatan hari jadi Kota Madiun yang ke-436, Senin dua pekan lalu. Puncak perhelatan dipusatkan di Pendapa Muda Graha, Kabupaten Madiun. Seperti tradisi tahunan sebelumnya, yang dilakukan sejak 2001, Bupati Djunaedi Mahendra membagikan hadiah bagi kecamatan atau instansi yang masuk kategori tebersih atau terkotor. Penilaian dilaksanakan pada 6-17 Juli, diikuti 61 kantor unit kerja dan 15 kantor kecamatan.

Sungguh beruntung jika mendapat hadiah karena lingkungan kerja instansi yang dipimpinnya dinilai tebersih. Namun yang dialami Edy Purwanto sebaliknya. Dia mendapat piala bergilir karena kantornya, bagian tata pemerintahan, dianggap paling kotor alias jorok.

Hadiahnya? Ini yang membuat Edy kian tersipu. Dia mendapat sebuah sulak (pembersih debu dari bulu ayam, kemoceng) yang panjangnya satu meter. Dengan wajah malu dan langkah berat, Edy menerima kemoceng raksasa itu dari Bupati Djunaedi di pendapa kabupaten.

Edy menjadi bahan olok-olok kawan-kawannya karena sebelumnya pernah mendapat hadiah yang sama, saat ia masih menjadi Camat Dagangan. Ia tak habis pikir, juri sepertinya mengincar dia. "Jurinya mungkin bingung. Wong, semua ruang di kantor instansi saya bersih, kok," ujarnya bersungut-sungut.

Toh, seusai lomba, ia langsung menginstruksikan agar semua anak buahnya melakukan penataan ulang dan memperketat aturan kebersihan kantor.

Untuk tahun depan, usahanya mungkin baru kelihatan hasilnya. Selama menunggu, selama setahun Edy harus rela menjadi bahan ejekan. "Sulaknya cinta sama Pak Edy, ke mana-mana selalu ikut," celetuk salah satu pemimpin unit kerja.

Edy hanya bisa nyengar-nyengir sambil memegang sulak yang dibencinya.

Tergiur Sofa Empuk

INI nasihat penting bagi setiap calon maling: jangan pernah mencuri bila mata sudah mengantuk! Bila "petuah" tersebut tak diindahkan, niscaya nasibnya akan sama dengan Yuliandi, 28 tahun, pria yang sehari-hari menjadi tukang ojek di Batam.

Lelaki asal Sumatera Utara itu sebelumnya pusing memikirkan angsuran kredit motor ojeknya yang tiga bulan menunggak. Dia juga mesti memenuhi kebutuhan makanan tambahan untuk anak balitanya. Dari hasil mengojek, uang yang didapat belum cukup untuk menutup semua keperluan itu.

Lalu datanglah sebuah tawaran menggiurkan. Seorang teman mengajaknya mencuri. Sasarannya sebuah rumah-toko berlantai tiga di kawasan Batam Center, Blok 2 Nomor 4. Tanpa pikir panjang, pria berkumis ini langsung mengiyakan.

Pada Minggu dua pekan lalu, mereka beraksi. Melalui jendela kamar mandi lantai dua, Yuliandi bersama temannya—polisi merahasiakan namanya agar tak kabur dari Batam—masuk. Setelah mereka mengecek sana-sini, ternyata hanya ada satu unit komputer di lantai tiga yang mereka nilai berharga. Teman Yuliandi lantas berusaha memereteli komputer tersebut agar gampang dibawa.

Saat itulah Yuliandi melihat sofa empuk. Dia pun rebahan di sana. "Saya baring-baring dulu, ya," kata Yuliandi kepada temannya. "Boleh, baring-baring saja dulu. Saya cari barang yang lain," sahut temannya menyetujui. Waktu sudah menjelang subuh.

Tak dinyana, si pemilik rumah, Gemuk Sitepu, 28 tahun, yang tidur di lantai dua, terbangun. Gemuk merasa mendengar suara-suara aneh dari lantai di atasnya. Dia segera memeriksa. Teman Yuliandi, yang kepergok, berhasil lari sambil membawa komputer. Dia tak sempat membangunkan rekannya.

Gemuk segera menghubungi satuan pengaman setempat tanpa membangunkan "si tamu" yang tidur di sofanya. Begitu bangun, Yuliandi sudah dikepung beberapa orang satpam dan tuan rumah.

Maka dia pun diantar ke Kepolisian Sektor Batam Center. Tentu saja tidak untuk melanjutkan tidurnya. "Saya kecapekan, makanya saya tidur. Tapi, saya akui, ini perbuatan bodoh," katanya kepada TEMPO. Bodoh ketiduran atau menyesal mencuri, nih?

Andy Marhaendra, Rohman Taufiq (Madiun), Rumbadi Dalle (Batam)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data