Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/XXXIII/20 - 26 September 2004
   
Buku

Simbiosis Kiai-Blater

Pola relasi kiai-blater semula kultural. Kini berkembang secara ekonomis-politis.

Menabur Kharisma Menuai Kuasa: Kiprah Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura

Penulis: Abdur Razaki

Penerbit: Pustaka Marwa, Yogyakarta, 2004

Tebal: xxvi + 214 halaman



Madura adalah koeksistensi dua kekuatan: para kiai yang punya kredibilitas religius, dan para blater (jagoan) yang menguasai dunia hitam. Madura, seperti dicitrakan sosiolog Kuntowidjojo, lebih banyak dilekatkan dengan Syaikhona Kholil, masjid, dan pesantren. Namun, buku Menabur Kharisma Menuai Kuasa: Kiprah Kiai dan Blater sebagai Dua Rezim Kembar di Madura memberi gambaran lebih lengkap.

Ada blater yang menyukai sabung ayam, judi, ilmu kebal, dan tak berkompromi jika sudah bertalian dengan "kehormatan diri". Dan buku itu—tesis pengarang pada Pascasarjana UGM—tidak berhenti di situ. Ia mengurai relasi kuasa kiai dan blater dalam dinamika masyarakat Madura.

Mereka dari dunia berbeda, tapi dalam praksisnya terjadi dialektika cukup rumit dan unik. Masing-masing, misalnya, mengakui kewalian Kiai Cholil berdasarkan kepentingan sendiri. Kiai mengikat batin, meruap berkah, dan memperoleh pengukuhan keulamaannya. Blater tak suka khoul, tapi suka bersemadi di makam Kiai Kholil demi kemampuan magis. Kini, pola relasi yang semula bersifat kultural itu lalu berkembang secara ekonomi-politik.

Ada kalanya koeksistensi malah saling meneguhkan. Demi perlindungan, seorang anak blater sengaja dipilih sebagai kepala sekolah agama. Wakil blater ada di dalam sekolah, tapi proses belajar-mengajar tak terusik. Pemilihan klebun (kepala desa) didominasi blater, tapi restu kiai dibutuhkan untuk menarik suara warga. Sebaliknya, kiai yang punya akses partai politik dalam pemilihan bupati juga membutuhkan beking keamanan dari blater.

Ya, di mata pengarang, hubungan keduanya simbiosis yang cukup kompleks, unik, bahkan menegangkan. Tapi, tak salah jika adanya motif ekonomi-politik telah melibatkan kiai-blater bersama-sama meraih kekuasaan dan kekayaan. Di wilayah ekonomi-politik ini, tampak kesucian kiai dilucuti. Namun, yang penting, buku ini menyenandungkan pemikiran baru atas koeksistensi kiai-blater sebagai elite sosial yang sudah mengakar di Madura

Nur Mursidi

peminat masalah sosial-keagamaan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data