Asap Wangi dari Metromini BPPT mengubah minyak kelapa sawit menjadi biodiesel. Asap knalpot pun lebih sehat dan wangi. |
Para pendamba tubuh langsing boleh saja benci setengah mati kepada minyak kelapa sawit. Tak usah sebotol, sesendok minyak itu sudah cukup untuk mendatangkan kegemukan, kolesterol, dan sederet penyakit mengerikan. Tapi bagi Makmuri Nuramin justru sebaliknya. Dia bermimpi menyehatkan dunia dengan minyak yang dituding sebagai biang penyakit itu.
Dan Makmuri tak berhenti di mimpi. Sejak 1999, Manajer Teknik Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ini bersama delapan rekannya berusaha keras mengubah minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar penggerak mesin yang ramah lingkungan. Di dunia, minyak sayur seperti ini disebut biodiesel.
Bahkan Makmuri rela menjadi kelinci percobaan. Ke mana-mana, mobil Panther yang dia kendarai menggunakan solar nabati dari minyak kelapa sawit. Panther tua itu bahkan sudah kenyang biodiesel selama setahun terakhir ini. Perjalanan Serpong-Jakarta adalah rute rutin sang Panther mengantar Makmuri dari rumah atau kantornya di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong ke kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Thamrin. Perjalanan Jakarta-Riau juga dilalap hampir setiap bulan karena mobil itu menjadi kendaraan penghubung kantor BPPT di Jakarta dengan pabrik biodiesel di Riau. "Asapnya benar-benar bersih dan mesin tak pernah ada masalah," kata alumni Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro itu.
Berhasil dengan Panther, Makmuri mencoba biodiesel pada bus metromini yang hendak menjalani uji kir. Setelah memakai biodiesel, metromini tak lagi jadi raja ngebul. Emisinya bersih, asapnya juga harum. "Seperti bau pisang goreng hangat, ha-ha-ha…," kata Makmuri bercanda.
Tes di laboratorium memang membuktikan biodiesel jauh lebih ramah ketimbang solar biasa. Penggunaan biodiesel B30—yang terbuat dari 30 persen biodiesel dicampur dengan 70 persen solar biasa—telah menurunkan angka polusi secara signifikan. Biodiesel B30 bisa menurunkan jumlah partikel asap yang menyembur dari knalpot hingga 83 persen dibandingkan dengan solar biasa. Kadar racun nitrogennya (NOx) juga menurun hingga 24 persen. Senyawa hidrokarbon (HC) pun turun hingga 32 persen.
Yang juga menggembirakan, biodiesel ternyata menurunkan emisi racun karbon monoksida—zat pembuat efek rumah kaca. Penggunaan biodiesel 30 persen bisa menurunkan racun itu hingga 16 persen dibandingkan dengan solar biasa. Bahan bakar ini juga bebas sulfur. Padahal itu baru menggunakan biodiesel yang 30 persen, belum 100 persen. Andai semua kendaraan berbahan bakar solar beralih ke biodiesel, bayangkan berapa banyak racun asap bermotor yang bisa dihilangkan. Asal tahu saja, saat ini 60 persen konsumsi bahan bakar di Indonesia menggunakan solar.
Kehebatan biodiesel sebetulnya sudah teruji di berbagai negara. Di Jerman, misalnya, konsumsi biodiesel sudah mencapai 5 persen dari total konsumsi bahan bakar minyak. Australia, Nikaragua, dan juga negeri jiran seperti Singapura dan Thailand sudah mulai memakainya. Bedanya, ada yang membuat biodiesel dari minyak kedelai, ada juga yang dari minyak jagung.
Indonesia sebenarnya sudah meneliti solar nabati ini sejak 1996. Berbagai lembaga seperti Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas)—lembaga pemerintah yang paling kompeten soal industri minyak dan gas di Indonesia—dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sudah menguji minyak ini. Sayangnya, sejauh ini, penelitian itu cuma sebatas uji di laboratorium.
Tapi BPPT menempuh jalan berbeda. Mereka tak hanya berkutat dari laboratorium ke laboratorium. Tahun lalu, mereka membuat temuan istimewa dengan merancang pabrik biodiesel yang layak dari hitung-hitungan bisnis. Mereka juga berhasil memangkas proses kimiawi sehingga pabrik biodiesel bisa efisien. "Kami bisa membuat biodiesel dari CPO (crude palm oil, minyak kelapa sawit) dari kualitas yang bagus hingga limbah CPO," kata Soni Solistia Wirawan, Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT.
Untuk mengubah minyak sawit menjadi biodiesel, prosesnya tak rumit. Minyak sawit cukup ditambahkan dengan metanol untuk memotong rantai karbonnya. Seperti kita tahu, susunan kimiawi solar dan minyak sawit pada dasarnya mirip. Hanya, rantai karbon pada minyak sawit lebih banyak ketimbang solar. Rantai karbon minyak sawit berjumlah 14-22, sedangkan solar 12-18.
Minyak sawit plus metanol dan ditambah lagi larutan katalis (untuk mempercepat reaksi) ini kemudian dialirkan ke reaktor dan dicampur agar membentuk campuran homogen. Dalam reaktor ini, rantai karbon yang kepanjangan dipotong sehingga mirip solar. Selanjutnya, campuran ini dicuci dan dimurnikan menjadi biodiesel. Hasil sampingannya menjadi metanol dan gliserin. Hasil samping metanol inilah yang bisa membuat pabrik diesel bikinan BPPT lebih efisien ketimbang temuan lembaga lain.
Temuan BPPT ini membuat banyak investor dari luar negeri kesengsem pada prototipe pabrik biodiesel di Serpong dan di Riau. Di Serpong, BPPT bisa memproduksi 1,5 ton biodiesel per hari, sedangkan di Riau bisa 8 ton per hari. "Banyak sekali tawaran kerja sama," ujar Makmuri. Ia menyebut perusahaan Jepang seperti Toyota dan Mitsubishi dan beberapa perusahaan lainnya. Bahkan, "Ada yang meminta kami memproduksi biodiesel hingga 100 ribu ton per tahun," tutur Makmuri sembari menunjukkan e-mail tawaran itu kepada Tempo.
Di Indonesia, pemakaian biodiesel masih terbatas. Di Jabotabek, baru BPPT yang mewajibkan 23 bus antar-jemputnya menggunakan biodiesel. Beberapa industri juga mulai tertarik menggunakan bahan bakar berbau harum ini. Salah satunya adalah PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Sejak setahun lalu, mereka memakai biodiesel B5 (5 persen biodiesel dan 95 persen solar) untuk forklift. Terbukti, kualitas udara di dalam pabrik jadi lebih sehat.
Menteri Riset dan Teknologi yang juga Kepala BPPT Hatta Radjasa bertekad memasyarakatkan bahan bakar alternatif ini. Biodiesel, menurut dia, sangat strategis. Soalnya, selama ini, Indonesia dalam setahun menghabiskan 16 juta kiloliter solar. Dari jumlah itu, 30 persen di antaranya hasil impor. "Bayangkan, bila bisa mengganti solar itu dengan biodiesel 10 persen saja, itu artinya sudah 1,6 juta kiloliter," katanya.
Impian itu sementara masih di awang-awang. Soalnya, menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Iin Arifin Takhyan, salah satu kendalanya adalah harga biodiesel yang kelewat mahal, yakni Rp 5.000 per liter. "Ini kan sama dengan harga minyak goreng," katanya. Tapi, menurut Makmuri, sebenarnya dengan biodiesel B10 (10 persen biodiesel dan 90 persen solar) harga minyak ini kompetitif, yakni cuma sekitar Rp 2.050 per liter.
"Kalau kita bisa mengurangi emisi 10 persen, itu kemajuan besar," katanya. Dan dengan minyak sayur ini, Jakarta—kota nomor tiga terparah di dunia dalam soal emisi, bersama Bombay dan Kota Meksiko—bisa mengucapkan good-bye kepada raja ngebul.
Burhan Sholihin
|