Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/XXXIII/04 - 10 Oktober 2004
   
Luar Negeri

Tony Blair dan Islamofobia

SAAT Perdana Menteri Tony Blair mengaku menunggu kontak dari kelompok radikal Irak yang menculik Kenneth Bigley, dua intelektual Islam "bergerilya" di Bagdad. Mereka—Dr. Daud Abdullah dan Dr. Musharraf Husain—berusaha menemui kelompok penculik. Tim dari Dewan Muslim Inggris ini berada di Irak untuk menyelamatkan Ken Bigley dari ancaman pemancungan kaum penculik yang diduga dari kelompok radikal Tawhid wal Jihad pimpinan Abu Musab al-Zarqawi.

Daud Abdullah dan Musharraf Husain tampil di televisi Al-Jazeera untuk membuka kontak langsung dengan penculik. Mereka juga mengedarkan 50 ribu selebaran berisi permohonan keluarga Bigley agar melepaskan Kenneth. Pada saat yang sama di Blackburn, Inggris, kelompok muslim pendukung Partai Buruh menggelar aksi demonstrasi mencela pemerintah Inggris yang tak cukup berupaya membebaskan Bigley.

Sejak serangan 11 September terhadap gedung kembar World Trade Center di New York, pemimpin dan organisasi muslim di Inggris aktif menyerukan kepada penduduk muslim Inggris agar bekerja sama dengan pihak berwenang setempat melawan terorisme. "Penting sekali mencegah warga muda muslim Inggris terbujuk beberapa unsur jahat untuk melakukan tindak kekerasan," ujar Iqbal Sacranie, Sekretaris Jenderal Dewan Muslim Inggris.

Dewan Muslim Inggris merupakan kelompok lobi terbesar untuk 1,8 juta penduduk muslim Inggris. Lembaga ini aktif mengorganisasi khotbah Jumat dengan seruan agar umat Islam Inggris melaporkan kegiatan yang mencurigakan kepada polisi. Pasalnya, serangan teroris meningkatkan Islamofobia, atau ketakutan terhadap Islam, di Inggris. Umat Islam semakin terpojok dengan penangkapan delapan warga muslim Inggris atas tuduhan berencana melakukan serangan di negeri itu.

Polisi menangkap seorang imam masjid di London, Abu Hamzah, 47 tahun, untuk diekstradisi ke Amerika Serikat berkaitan dengan tuduhan mendukung kegiatan terorisme. Imam asal Mesir yang hanya punya satu mata dan satu tangan palsu dari baja itu menjadi kontroversi, karena khotbahnya yang radikal di masjid Finsbury, utara London. Dia dikeluarkan dari masjid itu oleh Komisi Lembaga Sosial Inggris.

Satu laporan menyebutkan, masalah Islamofobia yang hingga kini belum teratasi bisa merupakan bom waktu. Menurut laporan itu, umat Islam di Inggris semakin mengalami kesulitan sejak serangan 11 September. Seorang murid perempuan berusia 15 tahun dilarang mengenakan jilbab di sekolahnya pada September 2002. Kepala sekolah berdalih, dia berusaha melindungi murid itu dari tekanan untuk mengenakan pakaian tradisional. Belakangan pengadilan tinggi di London mendukung larangan tersebut.

Ironisnya, sebagian besar tekanan terhadap komunitas muslim Inggris ini terjadi pada masa pemerintahan Perdana Menteri Tony Blair dari Partai Buruh. Padahal umat Islam Inggris adalah pendukung tradisional Partai Buruh. Tapi keterlibatan Inggris dalam Perang Irak mengakibatkan melorotnya dukungan warga muslim terhadap partai ini. Jajak pendapat koran The Guardian menunjukkan dukungan penduduk muslim kepada Partai Buruh hanya tersisa 36 persen dari 76 persen pada pemilu sebelumnya.

RFX (BBC, The Guardian)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data