Tersandera Rumah Impian Dua tenaga kerja Indonesia yang menjadi sandera di Irak akhirnya dilepas tanpa syarat. Kisruh jatidiri akibat memegang identitas palsu. |
NUR Sukayah ingat betul apa yang dibawa adiknya pada hari keberangkatannya, suatu pagi akhir Februari delapan bulan lalu. Hanya ada uang Rp 150 ribu hasil pinjaman di dompet Istiqomah dan beberapa helai pakaian lusuh bekalnya berganti baju. Itulah saat terakhir Istiqomah pamit sebelum berangkat bekerja ke Yordania.
Niatnya mengumpulkan uang untuk membangun rumah sendiri, berpisah dari mertua, melandasi perantauan ibu rumah tangga berusia 32 tahun itu. Karena itu, "Saya sangat terkejut mendengar adik saya ditahan di Irak," kata Sukayah dalam logat Jawa-Osing yang kental layaknya sebagian penduduk Banyuwangi, Jawa Timur.
Kabar musibah yang datang menjelang magrib Ahad dua pekan lalu itu khusus dibawa seorang tetangga yang menonton siaran berita petang di televisi. Seraya terengah-engah, sang tetangga menyatakan wajah Isti muncul sebagai satu dari dua warga Indonesia yang disandera sekelompok orang bersenjata, nun di negeri Irak. Ia merasa yakin mengenali Istiqomah karena pakaian yang dikenakannya.
Tetapi, alih-alih terima kasih, yang didapatnya dari Sukayah justru kemarahan dan tudingan menyebar gosip picisan. Sukayah, yang tahu adiknya sedang mengais rezeki di Yordania, tidak bisa menerima kabar Istiqomah disandera di Irak. Namun, meski wanita 38 tahun itu menampik, kekhawatiran segera menggayuti benaknya, juga semua anggota keluarga.
Tak pelak, sejak itu seluruh penghuni rumah berdinding tepas di pojok Dusun Kebonsari, Desa Tambong, Banyuwangi, itu mulai kegerahan. Apalagi ketika malamnya serombongan orang bermobil datang berkunjung. Polisi. Mereka menelisik satu per satu dokumen yang berkaitan dengan Istiqomah, mulai dari ijazah SD, surat nikah, sampai beberapa lembar foto terbaru.
Ketika polisi mulai menanyai Imron, menantu Sukayah, mendadak seorang anggota keluarga jauh datang dengan lipatan koran di tangan. Saat dibuka, koran terbitan Jawa Timur itu memuat dua foto besar korban penyanderaan di Irak. Kecuali polisi, semua penghuni rumah terenyak. "Saya ingat betul baju kotak-kotak hitam yang sering dipakai Lik Is itu," kata Imron, "karena saya juga sering pinjam memakainya."
Tak berbeda dengan Isti, Casingkem, warga Blok Pununggul, Desa Bongas, Indramayu, Jawa Barat, juga berangkat ke Timur Tengah dengan modal pinjaman. Diding Ismail, suaminya, pontang-panting mencari pinjaman hingga terkumpul dana tak kurang dari Rp 4 juta. Begitu genap, langsung saja pinjaman lintah darat berbunga 20 persen per bulan itu diserahkan Diding ke tangan calo tenaga kerja.
Para makelar yang kelayapan mendatangi satu demi satu kampung di Indramayu itu menyebut diri mereka sponsor yang mengurus administrasi tenaga kerja Indonesia (TKI). "Saya sudah melarangnya, tapi suaminya seperti memaksa dia pergi," kata Kaspin, ayah Casingkem. Kaspin melihat, Diding seperti silau akan keberhasilan rumah tangga rekan-rekan sekampung yang istrinya berangkat bekerja di tanah Arab.
Banyak di antara mereka yang tadinya sama seperti Diding, menumpang hidup di rumah mertua, akhirnya bisa membangun rumah sendiri. Rumah yang kukuh bergenting keramik, bertembok semen dan batu bata. Niat yang sama dan latar belakang kemiskinan yang nyaris sama akhirnya mempertemukan Istiqomah dengan Casingkem di sarang gerombolan bersenjata Irak.
Sebelumnya, di Jakarta, mereka juga menghuni tempat penampungan yang sama, PT Sabrina Paramitha, yang beralamat di Jalan Buluh, Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Dari penampungan, hingga awal September lalu Isti sempat dua kali berkirim surat ke Banyuwangi. "Ia minta dislameti jenang abang," kata Sukayah, merujuk bubur beras ketan bercampur gula merah yang menjadi tradisi selamatan sebagian kalangan di Jawa.
Dari tempat penampungan itulah cerita duka dimulai. Kedua wanita lugu itu manut saja ketika Riana, karyawan PT Sabrina, mengubah identitas mereka. Entah mengapa, Riana melihat ada kemiripan antara Istiqomah dan Rosidah binti Amuh, warga Sukabumi, Jawa Barat, yang meskipun paspor dan visanya sudah lama selesai, tak kunjung datang memenuhi panggilan.
Ketika Riana meminta Istiqomah mengaku sebagai Rosidah, perempuan dusun yang sudah mulai bosan terkungkung di penampungan itu pun tak perlu berpikir lama untuk menyanggupi. Casingkem sedikit lebih mujur. Nama yang tertera di paspornya tak berubah. Tetapi, "Melalui PT Sabrina, saya nembak KTP di Sukabumi karena tak punya KTP Indramayu," Casingkem mengaku.
Ternyata, hari tibanya surat Istiqomah di Banyuwangi, 30 September, merupakan hari ia dan Casingkem disergap. Keduanya tiba di Amman, Yordania, pada 23 September. Hanya selang beberapa hari, perusahaan pengerah tenaga kerja setempat yang merekrut mereka, Anas Abu Zaid, menempatkan keduanya bekerja pada keluarga Bassem Matar Jumeir, warga negara Irak, dan Raidah Kamil Ali, warga Yordania yang bertempat tinggal di Fallujah, Irak.
Dengan kendaraan pribadi, bersama majikan mereka suami-istri, Isti dan Casingkem diboyong dari Amman ke Fallujah. "Di tengah jalan, mereka dihadang sekelompok orang bersenjata," kata Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab, Faisal Bafadal, yang turut menangani pembebasan mereka. Kelompok yang mengaku Tentara Islam di Irak (Jaiz al-Islam fil Iraq) itu kemudian melepas kedua suami-istri tersebut, tapi menahan Isti dan Casingkem.
Faisal menyatakan, dari pembicaraannya dengan Isti dan Casingkem, keduanya mengaku tidak mengetahui tempat mereka ditawan. "Mereka hanya mengatakan tempatnya seperti penjara," kata Faisal. Ada seorang di antara penyandera yang bisa berbahasa Indonesia. Dia inilah yang menanyai keduanya saat interogasi pertama. Namun, Faisal tidak bisa memastikan apakah ia warga negara Indonesia atau bukan.
Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman mencurigai tempat penyanderaan itu berada di Bagdad. "Di sebelah barat kota," kata Kepala Bidang Konsuler KBRI Amman, Muhammad Gufron, kepada Tempo. Ia menjelaskan, perkiraan lokasi penyanderaan itu diperoleh lewat penyelidikan staf lokal KBRI di Bagdad, Wahid Gatak.
Apa yang dialami kedua buruh migran itu selama disekap? "Kami diperlakukan baik," kata Istiqomah sekembalinya ke Tanah Air, Kamis petang lalu. Menurut Isti, ia memang sempat dipukul seorang penyandera. Tetapi itu terjadi sebelum mereka diinterogasi, yang kemudian ditayangkan televisi Al-Jazeera. "Setelah tahu kami beragama Islam dan warga Indonesia, mereka baik sekali," katanya. Senin pekan lalu, keduanya dibebaskan tanpa syarat.
Simpelnya proses pembebasan membuat banyak pihak, termasuk Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, harus menerka-nerka apa yang dicari para penyandera. "Kalau dilihat dari cara penghadangan, bisa jadi ini hanya by accident saja," kata Hassan. Belakangan, ketika mengetahui agama dan kewarganegaraan sandera, mereka berubah pikiran. "Mudah-mudahan begitu," katanya.
Dramanya justru lebih seru di dalam negeri. Selama masa penyanderaan, identitas kedua sandera terus berubah. Awalnya mereka mengaku Rosidah binti Anam dan Rafikan binti Anim. Lalu muncul nama baru, Rosidah binti Anom dan Rafikan binti Aming. Belakangan, ada keluarga yang mengenali keduanya sebagai Istiqomah binti Misnad dan Ikma Novitasari. Novita inilah yang kemudian terungkap sebagai Casingkem, hanya beberapa saat sebelum kembali ke Indonesia.
Darmawan Sepriyossa, Mahbub Djunaidi, Ivansyah
|