Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXIII/18 - 24 Oktober 2004
   
Film

Mimpi Buruk dari Jonathan Demme

Sebuah pembuatan ulang dari film tahun 1962. Pemilihan tema dan setting lebih menarik, tetapi penuturannya sangat ruwet.

THE MANCHURIAN CANDIDATE
Sutradara: Jonathan Demme
Skenario: Daniel Pyne dan Dean Georgares
Pemain: Denzel Washington, Merryl Streep, Jon Voight



Sebuah masa lalu terbetik seketika. Hanya sedetik. Melesat. Tetapi itu mengguncang seluruh kesadaran Kapten Bennet Marco (Denzel Washington). Adakah seluruh kisah dan penghargaan Medal of Honor bagi Sersan Raymon Shaw, bawahannya, sesuatu yang seharusnya terjadi? Benarkah seluruh kisah yang dilontarkan dirinya dan semua anak buahnya saat Perang Teluk itu benar? Benarkah ketika peleton yang dipimpinnya diculik pihak Irak di Kuwait itu, Shaw menjadi pahlawan penyelamat? Benarkah seluruh cerita itu? Lalu, kenapa mereka semua berkisah dengan kalimat yang sama, ritme yang sama, kosa kata yang persis sama? Dan mengapa mereka semua dihampiri mimpi buruk yang sama? Setiap malam, ketika matahari turun, semua anggota peleton itu hidup dalam sebuah mimpi buruk yang sama.

Film karya Jonathan Demme ini sejak awal sudah memproklamasikan diri—dari warna gelap, kusam, dan bau anyir darah dan tipu daya—bahwa film ini bukan sebuah piknik ke taman untuk bergembira ria. Film ini sudah menyatakan diri sebagai sebuah mimpi buruk dalam hidup nyata. Kapten Bennet Marco, yang semula melihat hidupnya sebagai garis lurus yang bersih, tiba-tiba saja kedatangan salah seorang anak buahnya yang melontarkan satu pertanyaan yang mengganggu seluruh hidupnya: "Apakah kau pernah bermimpi buruk tentang masa-masa di Kuwait?" katanya sembari memperlihatkan beberapa sketsa yang menampilkan visualisasi mimpi buruknya yang mirip dengan lukisan Salvador Dali. Dalam mimpi buruk itu, jarum jam seolah terhenti. Begitu lama, dan begitu perih.

Kemudian selanjutnya, hingga akhir film, Jonathan Demme mengabdikan film ini untuk sebuah perjalanan mencari kebenaran. Tentu saja Marco menjadi tokoh utama yang dianggap "gila" untuk mengganggu dan mengguncang Raymon Shaw, calon wakil presiden dan putra dari senator terkemuka, Nyonya Shaw (yang diperankan dengan cemerlang oleh Merryl Streep).

Kenyataan demi kenyataan berikutnya, soal cuci otak, soal peletakan chip di tubuh para serdadu, dan ambisi gaya Machiavellian serta paranoia konspirasi dalam sindroma industri-militer (military-industrial complex) semakin terasa absurd dan mengundang rasa kantuk. Perang dan akibatnya saja sudah cukup menghancurkan para korban dan keturunannya. Menambahkannya dengan konspirasi dan teknologi cuci otak pada masa pasca-perang membuat tema yang sudah kompleks ini menjadi konyol. Jonathan Demme, su-tradara terbaik untuk film The Silence of the Lambs itu, kehilangan sentuhan sang master. Ini memang sebuah pembuatan ulang. Di masa lalu, film ini dibintangi oleh Frank Sinatra sebagai pemeran utama dan komunisme sebagai musuh besar. Demme menggunakan setting dan "musuh" masa kini yang lebih kompleks, tetapi dia memilih keruwetan dalam bertutur. Dan penuturan yang ruwet dan kacau adalah musuh utama dalam seni visualisasi dan tekstual seperti sastra dan film.

Yang menyelamatkan film ini—dari keruwetan cara bertutur—adalah penampilan para bintang: Denzel Washington, Merryl Streep, dan Jon Voight. Ketiga aktor besar ini, meski memberikan penyajian buruk pun, masih akan tetap tampil sebagai aktor/aktris kelas papan atas. Streep memperlakukan tokohnya sebagai seorang politisi kejam yang memiliki gairah terhadap kariernya, sama seperti dirinya yang memiliki gairah dalam akting. Selebihnya, Jonathan Demme layak duduk kembali agar di masa yang akan datang ia mampu melahirkan karya gemilang seperti The Silence of the Lambs. Atau mungkin benar kata-kata itu: seorang seniman hanya melahirkan satu karya besar.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data