Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Kado Menjelang Akhir Tahun

Indeks Bursa Jakarta berlari kencang meninggalkan bursa-bursa lain di Asia di luar Filipina?dipicu membaiknya sektor telekomunikasi dan perbankan.

INDONESIA tengah bersiap mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di antara bursa-bursa Asia. Sampai awal pekan ini, indeks saham gabungan Bursa Jakarta masih bertahan di kisaran 888,738 setelah pada pekan sebelumnya mencatat rekor baru di posisi 893,639. Dibandingkan posisi awal tahun, indeks Bursa Jakarta naik hampir 27 persen.

Dibandingkan bursa-bursa lain, indeks Bursa Jakarta dalam 10 bulan pertama tahun ini mencatat kenaikan tertinggi. Namun, jika dihitung dalam besaran dolar AS, Indonesia berada di tempat kedua setelah Filipina. Dengan perhitungan yang terakhir ini, kenaikan indeks Bursa Jakarta mencapai 20 persen?Manila mencatat kenaikan 24-25 persen.

Posisi Jakarta tahun ini jauh lebih baik dibandingkan Bangkok, yang tahun lalu berada selangkah di depan Indonesia. Ketika itu indeks Bursa Bangkok naik 109 persen; Jakarta hanya 63 persen. Sampai akhir pekan lalu, Bursa Bangkok malah mencatat pertumbuhan negatif hampir 18 persen. "Pertikaian di Selatan dan jebloknya kinerja emiten di sana sangat mengecewakan para investor," kata ekonom Bank Mandiri, Martin Panggabean.

Lain halnya dengan Jakarta. Sejumlah perusahaan yang tergabung di Bursa Jakarta mencatat kenaikan kinerja luar biasa. "Sektor telekomunikasi dan perbankan mencatat perbaikan kinerja sangat mengesankan," kata analis Danareksa, Erwan Teguh. Kinerja dua perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Indosat dan Telkom, misalnya, sangat bagus. Dua perusahaan ini sama-sama mencatat kenaikan laba operasi di atas 30 persen. "Kenaikan itu jauh di atas ekspektasi pasar," Erwan menambahkan.

Di sektor perbankan, kata Erwan, banyak investor yang menduga kinerjanya akan menurun akibat suku bunga tidak turun. Kenyataannya, pendapatan perbankan justru tumbuh sangat pesat. BNI dan BCA, misalnya, masing-masing mencatat kenaikan laba bersih 120 persen dan 40 persen pada September 2004, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyebabnya, apalagi kalau bukan meningkatnya kredit konsumtif. "Dalam dua pekan terakhir, saham bank meningkat signifikan," kata Erwan.

Menurut Erwan, tahun ini indeks bisa saja menembus angka 900. Namun, ini baru bersifat jangka pendek atawa karena sentimen pasar. Secara fundamental belum bisa diprediksi, sebab semuanya tergantung kinerja perusahaan hingga akhir tahun ini, terutama perusahaan yang menjual barangnya secara kredit. "Ternyata penjualan kita bukan karena ada duit, tetapi karena para konsumen berutang," Erwin menjelaskan. "Dengan kata lain, daya beli kita masih lemah."

Direktur PT Anugerah Sekurindo Indah, David M.J. Ferdinandus, menambahkan, selain karena kinerja, kinclongnya indeks bursa Jakarta dipicu oleh kebijakan pemerintah lalu dengan program divestasi, atau menjual aset-aset publik ke pihak asing, yang menyebabkan kinerja perusahaan yang bersangkutan membaik. Hal ini bisa dilihat, lagi-lagi, di perbankan dan telekomunikasi. Padahal, dua-tiga tahun terakhir, kinerja keuangan bank selalu merugi. "Jadi, asing turut menjaga pasarnya juga," katanya.

Jangan lupa kondisi keamanan yang cenderung stabil, terutama di daerah-daerah rawan konflik seperti Aceh dan Ambon. Lahirnya pemerintahan baru diharapkan bisa memberi warna tersendiri kepada bursa, khususnya dalam hal penegakan hukum dengan menomorsatukan pemberantasan korupsi. Lahirnya saham-saham baru juga memberi kontribusi yang tidak kecil dalam mendorong pergerakan indeks.

Melihat trennya, bukan tak mungkin kenaikan harga saham rata-rata di Bursa Jakarta bakal naik sampai 1.000. "Jika kondisi dalam negeri kondusif, seperti stabilitas ekonomi makro, adanya kepastian hukum dan keamanan, indeks bisa melewati titik psikologis 900 poin, bahkan melewati angka 1.000," kata Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Erry Firmansyah.

Erry mengungkapkan sejumlah parameter yang menunjukkan kinerja Bursa Jakarta memang jauh lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. Sampai awal November, rata-rata nilai transaksi harian sudah mencapai Rp 939 miliar, jauh di atas target yang dipatok BEJ, senilai Rp 750 miliar per hari. Tahun lalu, rata-rata transaksi baru mencapai Rp 516 miliar. Kapitalisasi pasar juga naik lumayan dari Rp 493 triliun menjadi Rp 600 triliun. "Masih mungkin ada perubahan. Kita tunggu sampai akhir tahun," kata Erry.

Erry memang patut berhati-hati. Bursa Jakarta masih didominasi dana asing. "Proporsinya masih di atas 60 persen," katanya. Uang akan mengalir ke tempat yang masih menguntungkan. Kebetulan, harga saham di Bursa Jakarta memang masih murah?salah satu indikasinya adalah price to earning ratio (PER). Saat ini, PER rata-rata Bursa Jakarta masih di bawah 10 persen, masih di bawah Thailand yang berada di kisaran 12 persen. Dengan posisi seperti itu, peluang untuk menangguk keuntungan masih terbuka lebar.

Memang, masih ada ancaman di dalam negeri yang bisa memorak-porandakan bursa. Salah satu yang utama adalah harga minyak mentah di pasar internasional yang masih tetap tinggi. Jika pemerintah sudah tak punya pilihan selain menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), yang terancam adalah para emiten yang bergerak di sektor industri. "Karena sampai saat ini harga BBM belum naik, margin mereka masih tinggi," kata David Ferdinandus. "Tapi, kalau nanti akhirnya dinaikkan, pengaruhnya pasti kuat."

Ujungnya pasti bisa ditebak. Tarif listrik ada kemungkinan naik, daya beli melemah, dan kinerja sektor industri diperkirakan akan menurun. Tapi, ini memang buah simalakama bagi pemerintahan baru yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono. Jika pemerintah tak menaikkan harga BBM, beban anggaran akan semakin berat dan akan mempengaruhi anggaran pembangunan yang bisa dikucurkan ke publik. Sebaliknya, jika dinaikkan, efek berantainya juga sungguh tidak ringan.

Karena itulah, tiga bulan pertama ini sungguh menjadi ujian penting bagi pemerintahan Yudhoyono. Kado indeks yang sangat tinggi di awal pemerintahan harus dibaca sebagai harapan akan keadaan yang lebih baik. Kalau terjadi sebaliknya, bukan hal mustahil kondisi akan jungkir balik.

Thailand bisa menjadi contoh gamblang. Pada awal tahun ini, harapan begitu membuncah. Maklumlah, harga saham rata-rata di Bursa Bangkok naik lebih dari dua kali lipat. Pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintahan Thaksin dianggap gagal mengatasi krisis di Selatan yang berbuntut terbunuhnya puluhan orang belum lama ini. Sementara itu, perusahaan-perusahaan Thailand juga gagal menunjukkan perbaikan kinerja seperti yang sebelumnya diharapkan.

Hal yang sama bisa saja terjadi di Indonesia, karena posisi Indonesia tak banyak berbeda dengan Thailand. Indonesia memiliki potensi konflik daerah yang lumayan tinggi. Selain itu, tingginya kredit konsumsi harus juga dibaca sebagai lampu kuning yang mulai patut disiasati. Jika tidak berhati-hati, Indonesia bisa terjeblos pada lubang yang sama.

M. Taufiqurohman, M. Syakur Usman, Taufik Kamil


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data