Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Kesehatan

Imunisasi yang Belum Selesai

Serangan campak di Alor bukanlah yang pertama. Di Indonesia, penyakit yang sama telah menyerang beberapa kali pada tahun ini. Pada Agustus lalu, wabah campak muncul di Desa Margamulya, Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. Dari 91 balita yang terserang, dua di antaranya meninggal.

Pada bulan yang sama, campak juga menjangkiti 44 anak di Desa Mekarsari, Kecamatan Sukawening, Garut, Jawa Barat, kendati tak sampai merenggut nyawa. Lalu, di Desa Cabean, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, penyakit ini juga datang dan merenggut nyawa bocah 8 tahun.

Munculnya sejumlah wabah itu cukup mengherankan. Soalnya, pemberantasan campak sudah lama dilakukan di negeri ini. Program imunisasi campak mulai dijalankan pada 1982, antara lain dengan memberikan imunisasi rutin sebanyak dua kali terhadap bayi 9-11 bulan dan anak-anak tingkatan usia kelas I Sekolah Dasar. Bahkan pada 1991, Indonesia dinyatakan telah mencapai UCI (universal child immunization) secara nasional.

Menurut Yusharmen, Direktur Epidemiologi dan Imunisasi, Departemen Kesehatan, Indonesia sebenarnya bisa meredam campak dengan program imunisasi. Pemerataannya mencapai sekitar 80 persen. Memang belum tuntas. "Sekarang ini kita tinggal melakukan usaha ekstra untuk mengatasi wabah yang muncul di daerah tertentu seperti di Alor," katanya.



Asal-muasal Campak

Penyakit ini dipicu infeksi virus paramyxo, dan bisa ditularkan lewat batuk, bersin dan tangan yang kotor dengan cairan hidung. Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan imunisasi pada umur 1-2 tahun

Tanda-tanda

  • Penderita mengalami sejumlah gejala seperti demam tinggi (paling tinggi dicapai setelah 4 hari), muncul bintik putih pada bagian dalam pipi, mata merah dan berair.
  • Mengalami sakit tenggorokan, pilek, batuk yang khas kering dan keras. Beberapa penderita kerap juga muntah-muntah dan diare.
  • Muncul bintik hitam di belakang telinga, menyebar ke muka kemudian ke seluruh badan.
  • Penyakit ini juga bisa diikuti komplikasi, seperti infeksi telinga bagian tengah, bronkhitis (infeksi saluran pernapasan bagian bawah), pneumonia (infeksi paru-paru), dan encephalitis (radang otak).

Pengobatan
Penderita dianjurkan tinggal di rumah agar penyakitnya tidak menular. Mereka juga disarankan beristirahat dan minum banyak cairan, minum obat antidemam, serta obat batuk. Bila keluar cairan dari telinga, demam terus-menerus, kejang-kejang atau mengantuk, penderita harus segera dibawa ke dokter.

Nurdin (berbagai sumber)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data