Ramai Terbang Tak Pasti Untung Bila harga minyak tidak turun, tarif penerbangan harus dinaikkan. Air Asia datang sebagai pesaing baru. |
LEBARAN hingga Natal tahun ini bagaikan dewa penolong industri penerbangan domestik. Ketika banyak maskapai tercekik harga minyak mentah dunia yang enggan turun, penumpang membludak luar biasa. Sampai akhir tahun, hampir semua kursi penerbangan do-mestik sudah terpesan.
Padatnya penumpang membuat perusahaan penerbangan bisa mematok tarif lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Selama enam bulan terakhir perusahaan penerbangan menghadapi dilema pelik. Ongkos bahan bakar naik tajam, avtur melonjak hampir 70 persen menjadi US$ 42 sen per liter.
Lonjakan harga avtur membuat proporsi biaya bahan bakar terhadap total biaya perusahaan penerbangan menanjak dari 30 persen menjadi 50 persen. Maskapai tak berani menaikkan tarif lantaran persaingan kian tajam. ?Kita tidak mungkin menaikkan tarif sendirian, karena penumpang akan lari ke maskapai lain,? kata Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Tengku Burhanudin.
Direktur Utama Lion Air, Rusdi Kirana, mengakui beratnya persaingan di industri penerbangan. Namun hingga kini Lion belum menaikkan tarif. Yang dilakukan perusahaan penerbangan terbesar kedua di Indonesia ini adalah mematok harga barang kebutuhan perusahaan dari para pemasoknya.
Garuda Indonesia menempuh cara lain: mengurangi biaya promosi. Kendati sudah melakukan banyak upaya, Rusdi melihat maskapai penerbangan tak mungkin tidak menaikkan harga tiket. Secara tersirat Rusdi mengisyaratkan kenaikan harga sebaiknya dilakukan bersama, agar penumpang tidak lari. Dia menyarankan kenaikan itu tidak lebih dari Rp 20 ribu per rute.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Bachrul Hakim, mengatakan Garuda sebetulnya sudah mengusulkan harga ekstra (surcharge) Rp 10 ribu-20 ribu untuk penerbangan domestik, tapi tak semua maskapai setuju. Garuda berharap surcharge sudah bisa diterapkan akhir tahun ini.
Akibat gonjang-ganjing minyak ini, menurut Bachrul, Garuda bakal tak mencapai target pendapatan. Ditambah lagi persaingan harga yang berlangsung sebelumnya, perusahaan tak bisa menetapkan harga sebebas dulu. ?Hanya 25 persen penumpang pesawat yang tidak sensitif terhadap harga,? kata Bachrul.
Kondisi yang sama dihadapi Lion. ?Kami sengaja tidak menargetkan pertumbuhan pendapatan. Dana perusahaan lebih banyak diinvestasikan untuk menambah armada baru,? kata Rusdi. Dan itulah hebatnya kedua perusahaan papan atas ini. Kendati tahun ini babak-belur, keduanya malah berancang-ancang ekspansi ke rute-rute internasional.
Dengan tambahan 10 pesawat, Garuda akan menerbangi rute luar negeri seperti India, Dubai, Korea, dan Taiwan. Lion Air, yang juga menambah 20 armada baru, tahun depan akan terbang ke Korea, India, dan Cina. ?Margin laba perusahaan penerbangan hanya 3-7 persen,? kata Bachrul. ?Kami baru bisa mendongkrak laba jika menambah armada dan membuka rute baru.?
Langkah keduanya tergolong berani karena persaingan tahun depan bakal lebih seru. Air Asia, yang dikenal dengan konsep low cost, kabarnya sudah membeli saham Awair dan menjadi perusahaan lokal. Masuknya pemain baru dari Malaysia yang punya modal kuat ini tentu akan memanaskan persaingan.
Bisa jadi, target pertumbuhan penumpang sampai 27,5 juta pada 2005 sulit diraih. Tahun ini, dari target 18,75 juta, jumlah penumpang pesawat hingga Juli sudah 13 juta. Namun, besarnya jumlah penumpang ternyata tak menjamin perusahaan penerbangan bisa meraih untung.
Taufik Kamil
|