Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXIII/22 - 28 November 2004
   
Inovasi

Inovasi

Semprotkan Coca-Cola, Sayang

Bingung karena hama memusnahkan tanaman cabai? Beri saja Coca-Cola. Lho? Ya, para petani di India berhasil membuktikan bahwa semprotan minuman bersoda itu ternyata bisa menghalau hama pengganggu tanaman cabai dan kapas. Yang pasti, selain lebih murah dan tidak beracun dibanding pestisida kimia, cara ini juga mudah dilakukan. Dan kini, seperti dilaporkan koran Inggris The Guardian, ratusan petani di wilayah Andhra Pradesh dan Chattisgarh, India, tiba-tiba beralih menggunakan Coca-Cola. Sayang, tak disebut siapa yang pertama kali menemukan ide unik ini. "Saya melihat hama-hama pengganggu ini mati setelah meminum cola yang saya semprotkan ke ta-naman kapas," kata Gotu Lax-maiah, petani dari Ramakrishnapuram.

Menurut Gotu, Coca-Cola jelas lebih murah dibanding pestisida. Untuk seliter pestisida, petani India harus mengeluarkan dana 120 pound atau sekitar Rp 1,8 juta. Sedangkan untuk setengah liter Cola-Cola lokal hanya butuh sekitar Rp 7.500.

Tapi juru bicara Coca-Cola buru-buru menyebut minuman ringan ini tidak seampuh pestisida. "Tak ada penelitian resmi mengenai hal ini. Penggunaan minuman ringan bukanlah cara efektif mengatasi hama." Jangan-jangan hama cuma mabuk karena kekenyangan cola?

Tikus Antigemuk

Penelitian dari Australia ini barangkali bisa menjadi cikal pengobatan mereka yang kegemukan. Para peneliti dari Garvan Institute berhasil menciptakan tikus yang tetap langsing meski memakan semua jenis makanan sebanyak apa pun.

Menurut Profesor David James dari Garvan Institute, tikus yang dijuluki hot mouse ini mampu membakar energi lebih banyak dari tikus normal. Caranya dengan menghilangkan satu gen yang disebut c-Cbl—gen yang mengandung blueprint bagi protein penyebab kegemukan. Dengan hilangnya satu gen ini, tikus bisa melahap makanan satu setengah kali lebih banyak dibanding porsi biasa tanpa berisiko kegemukan.

"Tidak adanya satu gen ini memperlambat proses makanan menjadi lemak," kata James. Nah, kesamaan gen membuat si profesor yakin, teori yang sama bisa dilakukan pada manusia. Satu-satunya efek samping hilangnya gen ini adalah meningkatnya suhu tubuh dan level energi.

CD Jagung

Memberikan arti pada slogan ramah lingkungan, Pioneer Corp. mengatakan tengah mengembangkan generasi baru cakram digital berbahan dasar jagung. Blu-ray, itulah nama produk baru yang 87 persen bahannya adalah ekstrak polimer dari jagung. "Jika ekstrak polimer jagung dibakar, tidak akan mengeluarkan dioksin atau bahan kimia berbahaya lainnya," tulis Pioneer dalam siaran persnya.

Tak kalah dengan disk bia-sa, dia bisa digunakan sekali merekam dengan kapasitas data lumayan besar: 25 gigabyte. Dan jangan remehkan kekuatannya. Cakram setebal 0,1 milimeter ini sama kerasnya dengan cakram lain.

Pada saat yang sama, gabungan dua perusahaan Jepang lainnya, Sony Corp. dan Toppan Printing, juga tengah mengembangkan cakram je-nis baru. Mereka mengatakan akan membuat cakram dari kertas yang bila hendak di-musnahkan cukup digunting saja.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data