Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXIII/22 - 28 November 2004
   
Luar Negeri

Saat Kami Bersentuhan dengan Kafiyehnya

Kisah Palestina adalah kisah Yasser Arafat. Beberapa wartawan Tempo mewawancarainya pada tiga kesempatan yang berbeda dalam setiap perkembangan Palestina.

Jakarta telah ditelan malam ketika sebuah pesan meluncur melalui pager?media komunikasi: "Your request to interview His Excellency has been approved. Get ready!"

Hotel Hilton sudah mulai sepi dari ratusan wartawan yang meliput Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Jakarta pada 1992, yang melibatkan lebih dari 100 negara, ketika saya sudah hampir tertidur menanti kabar janji wawancara dengan Yasser Arafat. Jarum jam sudah menunjukkan malam telah bergerak menuju hari berikutnya. Dua pengawal tegap dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Ribhi Awad, kemudian mengantar saya melalui lorong yang panjang menuju suite yang ditempati Yasser Arafat.

Di dalam ruang itu, dia didampingi Menteri Luar Negeri Farouk Kadoumi dan beberapa petinggi Palestina lainnya. Itu dia. Sepasang mata yang menyala di bawah untaian kafiyeh yang selalu menjadi ciri utama penampilannya. Dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan saya. Saya sempat melirik sepucuk pistol Beretta di pinggang kanannya, ciri khasnya yang kedua. "Maaf, kami telah menggiringmu selarut ini. Bagi orang Palestina, hidup dimulai saat tengah malam...," kata Arafat, yang langsung disambut gemuruh seisi ruang.

Saat itu, pada 1992, dunia tengah dikurung oleh drama Perang Teluk pertama. Irak menduduki Kuwait, seluruh dunia mengutuk. Dan dengan licinnya Saddam Hussein berseru Irak akan keluar dari Kuwait jika Israel keluar dari Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ketika saya menanyakan mengapa dia percaya pada pernyataan Saddam Hussein yang jelas ingin sekadar memanfaatkan isu Palestina, Arafat terdiam. "Anda harus mengerti mentalitas rakyat Palestina. Kami ditindas oleh Israel sejak tahun 1948. Karena itu, Anda harus memahami bahwa pernyataan itu dianggap sebagai salah satu cara untuk lepas dari pendudukan Israel."

Pertemuan ini bukanlah pertemuan Tempo yang pertama dengan Yasser Arafat. Praginanto pada tahun 1989 pernah mewawancarai Arafat di Tunis, jauh sebelum akhirnya Arafat kembali ke Palestina. Wawancara Tempo yang kedua adalah pada 1992, ketika saya menemuinya di antara KTT Gerakan Non-Blok di Jakarta. Kesempatan Tempo berikutnya adalah tahun berikutnya ketika Yuli Ismartono menemuinya di Wisma Negara, Jakarta. Terakhir, saya dan Endah W.S. menemuinya pada tahun 2000 saat pemerintahan Abdurrahman Wahid. Tahun demi tahun, pemimpin Palestina itu tampak semakin ringkih digerogoti usia; rambutnya yang diselimuti warna putih menyembul dari balik kafiyeh dan jari-jarinya semakin lama semakin bergetar di antara upayanya menjawab pertanyaan kami dengan gaya orator. Pada setiap pertemuan, Arafat tampak semakin yakin bahwa berkompromi dengan Israel?melalui berbagai perjanjian dan kesepakatan?memang telah membuat dia dan Yitzhak Rabin meraih hadiah Nobel Perdamaian. Tetapi dia bersikukuh tentang status Yerusalem yang seyogianya diproklamasikan menjadi ibu kota Palestina. Dia menyadari betul bahwa Yerusalem adalah sebuah luka sejarah, karena inilah kota terpenting bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen, tetapi kompromi tentang status Yerusalem baginya adalah sebuah absurditas. Dia tak ingin dikenang sebagai seseorang yang berkompromi dalam cita-cita memperjuangkan Palestina. Itulah sebabnya Arafat menolak skenario Presiden AS Bill Clinton untuk membagi Yerusalem.

Pada pertemuan kami yang kedua, empat tahun silam, penyakit sudah semakin menghajar tubuhnya yang tua. Dia tak lagi serta-merta berdiri dan menyalami saya. Duduk di sofa Suite 1838 Hotel Borobudur, satu-satunya yang masih menyala dari tubuhnya adalah sepasang matanya. Meski jari-jarinya dan bibirnya bergetar, dengan berapi-api Arafat berbicara tentang janjinya untuk bertemu di Yerusalem. Janji yang selalu dikatakan kepada setiap wartawan Tempo yang mewawancarainya, "Semoga kita bertemu kembali di Yerusalem," demikian ujarnya dengan suara yang teguh. "Yerusalem berarti Ur Salem. Ur dalam bahasa Arab berarti Madinah (kota). Jadi, Ur Salem berarti Madinah Salem...," tuturnya mengisahkan sejarah Kota Yerusalem, sebuah kota suci yang selalu dicita-citakannya untuk menjadi ibu kota Palestina, dan sebuah kota yang diharapkannya menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir.

Dan hingga ia mengembuskan napasnya yang terakhir pada Ramadan silam, dia tahu cita-citanya masih harus diteruskan oleh rakyat Palestina. Tanpa dirinya.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data