Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Olahraga

Sekelam Mendung di Cipayung

Prestasi pebulu-tangkis tunggal putri Indonesia masih terpuruk sepanjang 2004. Perlu dua tahun buat membangkitkan mereka.

HARI masih pagi, sekitar pukul setengah delapan. Langit di atas padepokan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Cipayung, Jakarta Timur, tampak mendung. Kendati udara tidak terlalu panas, pagi itu Andrianti Firdasari, 18 tahun, sudah bermandikan keringat. Dia terengah-engah meladeni permainan cepat lawannya, Anggun Nugroho, pebulu-tangkis putra yang jadi spesialis ganda campuran. Sebuah bola lob dilontarkan Anggun, yang kemudian disusul dengan drop shot di pojok lapangan, memaksa Firda menyerah 15-8. Dia lalu buru-buru menyingkir ke pinggir lapangan sambil mengelap keringat yang membasahi tubuhnya.

Di lapangan lain, Fransisca Ratnasari Haris, 18 tahun, juga tampak keteteran melawan pemain putra lainnya, Rizal Muhamad. Pelatih tunggal putri, Hendrawan, sesekali memberi instruksi dari pinggir lapangan. Dua pemain tunggal putri lainnya, Silvi Antarini, 20 tahun, dan Maria Kristin, 19 tahun, sejak tadi asyik menyimak permainan itu dan sesekali memberi semangat kepada rekannya.

Latih tanding dengan pemain putra seperti ini hanya dilakukan sesekali bila program latihan sedang longgar, seperti Selasa pekan lalu itu, yang kebetulan merupakan latihan pertama setelah libur Natal. Firda dan Fransisca bisa merasakan manfaatnya. "Pemain putra bermain amat cepat. Saya banyak belajar kecepatan dan teknik dari mereka,'' kata Fransisca, yang sempat membuat kejutan di ajang Indonesia Open yang digelar di Jakarta 13-19 Desember lalu. Saat itu ia bisa menumbangkan unggulan pertama Pi Hongya asal Prancis, kendati akhirnya tersingkir di perempat final.

Di luar kejutan Fransisca, ajang Indonesia Open hanya menggarisbawahi masih terpuruknya prestasi pemain putri kita. Tiga pemain lain dari pemusatan latihan nasional (pelatnas) malah tersingkir lebih dulu di babak kedua. Artinya, di depan publik sendiri, para pemain tunggal putri lagi-lagi gagal menyumbang gelar. Sebelumnya, pertengahan tahun lalu, sebagai tim mereka juga tak mampu merebut kembali Piala Uber.

Hanya, Hendrawan, 32 tahun, meng-aku melihat kemajuan cukup pesat para pemain asuhannya. "Secara teknik, cara main mereka meningkat," kata pelatih yang baru dua bulan di pelatnas ini. Bekas juara dunia 2001 itu mengemban tugas berat untuk membangkitkan sektor tunggal putri Indonesia yang sudah hampir lima tahun tenggelam.

Setelah kejayaan Susi Susanti di awal era 1990-an yang disambung kecemerlangan Mia Audina di akhir dekade itu, tunggal putri Indonesia praktis tak kelihatan prestasinya. Sementara sebelumnya Indonesia termasuk empat kekuatan elite dunia bersama Cina, Denmark, dan Korea Selatan, kini kita sudah kedodoran menghadapi negara lapis dua seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. "Ini berarti sudah terjadi penurunan level dari kelas Cina ke kelas Malaysia," kata Hendrawan.

Empat pemain pelatnas saat ini tak satu pun yang menghuni posisi 50 besar dunia. Peringkat tertinggi dihuni Silvi Antarini, yakni 54, disusul Firdasari (peringkat 61), Maria Kristin (65), dan Fransisca Ratnasari (135). Penampilan para pemain ini memang kurang meyakinkan. Di berbagai turnamen bergengsi, mereka lebih sering tersingkir di babak kualifikasi. Di bahwa pimpinan Sutiyoso, PBSI akhirnya mengubah haluan, hanya mengirimkan para pemain ini ke turnamen-turnamen kecil.

Tiada pilihan lain, untuk mendongkrak kemampuan, pemain putri kita perlu latihan yang lebih keras. Ini tampak pula dalam penggemblengan di Cipayung. Ketika matahari mulai meninggi sekitar pukul sembilan pagi itu, Hendrawan belum mengistirahatkan pemainnya. Ia mengajak mereka melakukan latihan ganda campuran. Dia sendiri langsung terjun berpasangan dengan Firdasari. Mereka melawan Fransisca, yang berpasangan dengan Sandiarto, asisten pelatih. Latihan itu berlangsung seru dan asyik dilihat. Firda bermain ofensif dengan smash-smash kerasnya. Fransisca, yang dikenal dengan permainan rally-nya, lebih sering mengecoh dengan bola-bola pendek. Sambil bermain, Hendrawan tak henti memberi instruksi.

Kecepatan dan stamina dinilai Hendrawan menjadi kelemahan para pemain tunggal putri saat ini. Inilah yang dicoba diatasinya lewat program-program latihan yang spartan. Selain itu, dia juga merencanakan menggelar latih tanding antara para pemainnya dan pemain putra secara rutin seminggu sekali untuk menggenjot kemampuan mereka. Bagi Firdasari, materi latihan yang diberikan Hendrawan sebenarnya tak beda dengan pelatih lain. "Cuma, latihannya kini lebih lama. Latihan stroke yang semula 10 menit, misalnya, jadi 20 menit. Dia juga sangat menekankan disiplin," katanya.

Menurut Susi Susanti, disiplin dan tekad baja memang jadi kunci para pemain untuk memperbaiki ketertinggalan. Kondisi para pemain putri saat ini hampir sama dengan saat dia baru masuk ke pelatnas, tahun 1986-an. Saat itu Susi dan kawan-kawan juga kerap tersingkir di babak kualifikasi di berbagai turnamen besar, sehingga pengurus PBSI berkali-kali mengancam tak akan mengirim mereka ke luar negeri. "Tapi saya sendiri tak pernah putus asa, terus dan terus mencoba lagi, dan ternyata akhirnya bisa berhasil," kata peraih emas Olimpiade 1992 itu.

Selain faktor latihan, terpuruknya prestasi tunggal putri Indonesia saat ini juga tak lepas dari gagalnya proses re-generasi. Menurut Susi, saat Mia Audina mulai muncul di akhir 1990-an, pengurus PB PBSI melakukan kesalahan dengan membuang sekaligus tujuh pemain dari pelatnas, antara lain Leny Permana, Yuni Kartika, dan Yuliana, karena dianggap tak bisa berkembang. PBSI, yang mengandalkan diri pada Mia, baru terhenyak ketika Mia hengkang ke Belanda pada tahun 1999. PBSI kehilangan pegangan karena, sepeninggal Mia, pelapis di bawahnya belum siap.

Tak gampang pula mencari bibit pemain saat ini. Soalnya, minat masyarakat pada bulu tangkis saat ini tak lagi se-antusias dulu. "Mereka sekarang lebih suka jadi model atau bintang sinetron daripada menekuni olahraga yang dianggap kurang menjanjikan masa depan," ujar Icuk Sugiarto, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI.

Ketua Klub Jaya Raya Jakarta, Retno Kustiyah, juga mengungkapkan kesulitan yang sama. Ia menuturkan, selain empat pemain yang ada di pelatnas, di klub-klub pun stok pemain putri yang bisa jadi pelapis tidaklah banyak. Yang ada pun tak satu pun yang memiliki bakat menonjol seperti Susi atau Mia. "Doakan saja agar kami bisa segera menemukan bakat menonjol seperti Susi dan Mia," kata pengurus PB PBSI bidang daerah ini.

Sebetulnya pemerintah bisa berperan untuk menjadikan atlet bulu tangkis sebagai profesi yang menarik. Menurut Hendrawan, sejauh ini perhatian pemerintah atas nasib atlet terasa kurang. Ia pernah mengalami sendiri. Meski pernah mengharumkan nama bangsa dengan menjadi juara dunia, dirinya tak mendapat perhatian. Se-telah pensiun, dia pun mesti pusing mencari kerja untuk menyambung hidup. "Untung ada kenalan komisaris perusahaan oli yang menawari saya pekerjaan," katanya.

Di Cipayung, para pebulu-tangkis putri tampak belum memikirkan nasib mereka di masa depan setelah perannya tak dibutuhkan. Mereka hanya berlatih dan berlatih untuk memburu prestasi. Paling tidak, itulah yang kesan yang muncul dari arena latihan pagi itu. Barulah setelah jarum jam menunjuk angka 10.30, mereka beristirahat. Hendrawan menutup latihan dengan memberikan pengarahan singkat kepada para pemainnya yang tampak kelelahan. Menurut Hendrawan, latihan hari itu sesungguhnya masih longgar. "Hari ini adalah hari pertama latihan. Saya pun belum banyak menjalankan program," ujarnya tegas. Esok hari latihan yang lebih berat dan melelahkan akan menanti pemain.

Ketika para pemain meninggalkan tempat latihan, mendung masih bergumpal di atas Cipayung. Kelamnya awam mirip prestasi pebulu-tangkis putri kita yang tak kunjung bersinar. Hanya, Hendrawan optimistis, mereka akan mulai bisa memanen prestasi dua tahun lagi. Dan, "Jika dalam empat tahun ke depan mereka tak bisa mencetak prestasi, berarti saya tak mampu. Saya akan mundur," tuturnya.

Nurdin, Eni Saeni


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data