Mikropolitik Sang Bunglon Perupa Fendry Ekel mengemukakan masalah identitas dan identifikasi lingkungan dalam karya-karyanya. |
Lagu Song of Life mengalun. Lagu yang liriknya ditulis Bunda Teresa (1910-1997) itu membuka pameran seni rupa karya-karya Fendry Ekel yang bertajuk F.E.A.R di Galeri Lontar, Jakarta. Hari itu, 20 Desember 2004, para pengamen dari kelompok Suara Minoritas ikut membuka sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari karya-karya Ekel yang dipamerkan hingga 4 Januari 2005 itu.
Lirik lagu itu—bersama dengan teks F.E.A.R—dikantongi Ekel sejak dari Amsterdam sebagai sebuah preteks untuk karyanya. Tinggal selama lebih-kurang dua bulan di Yogyakarta untuk membuat karyanya, di hari pertama Ekel bertemu dengan kelompok pengamen ini di Kampung Prawirotaman. Ekel segera tertarik dengan penampilan mereka dan menawarkan kerja sama untuk karya seni rupa videonya.
Ekel merekam penampilan para pengamen ini dengan dua latar berbeda, terkait dengan pandangannya mengenai problem identitas dan budaya. Yang pertama di atas sebuah jembatan yang ramai, yang kedua di dalam ruangan kelas SMP Budi Luhur untuk anak-anak luar biasa, tak jauh dari markas para pengamen itu.
Kerja sama Ekel dengan para pengamen menunjukkan pandangannya di dalam berkarya. Identitas bagi Ekel adalah sebuah kode bersama (sharing code). Kode bersama itulah yang akan mampu menciptakan korelasi antara sistem konseptual atau cara berpikir sang seniman dan sistem bahasa yang berlaku. Meneguhkan keyakinan ini, Ekel berupaya melampaui batas identitas atau subyektivitas yang mengurungnya untuk melahirkan sebuah makna bersama dengan para kolaborator. Di dalam pandangan Ekel, makna (dihasilkan oleh sebuah sistem bahasa, termasuk representasi di dalam seni rupa) tidak berada di dalam suatu obyek atau individu, tetapi di dalam sebuah proses "kekitaan" yang memiliki kepentingan untuk bersama-sama mewujudkannya. Pertemuan dengan "yang lain" dengan demikian selalu menjadi muara bagi pemikiran di dalam karya-karya seni rupa Ekel.
"Identitas serta identifikasi lingkungan di mana saya berada merupakan tema utama karya-karya saya," kata Ekel. Pada tingkat individu, seni rupanya adalah jejak-jejak "sang bunglon" yang menciptakan jalan untuk mempertemukan masa silam dan masa depannya.
Penampilan para pengamen di atas sebuah jembatan yang ramai dapat menunjukkan kepada kita akan pluralitas di dalam representasi karya Ekel, yang tampak sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada saat itu seakan Ekel tidak membutuhkan metafora apa pun bagi seni rupanya, karena seluruh peristiwa di dalam kehidupan dapat dirasakan sebagai kehadiran sebuah metafora raksasa.
Dengan merancukan antara yang metafora dan kehidupan sehari-hari, Ekel seakan dapat merelatifkan posisinya sendiri sebagai seorang seniman pendatang baru. Memang, kehidupan sehari-hari yang beraneka ragam yang ditemuinya di Indonesia bukanlah sebuah teks yang sama sekali baru bagi Ekel. Ekel lahir di Jakarta, 1971. Setelah berkali-kali berpindah kota, akhirnya Ekel dan keluarganya pindah ke Belanda. Ia kemudian belajar seni rupa di Rietveld Academie (1992-1997) dan Rijksakademie (1998-1999), Amsterdam. Ingatan berpindah-pindah itulah yang mewarnai horizon penciptaan karya Ekel.
Namun, kunci untuk membuka pameran F.E.A.R hemat saya tidak pada karya videonya. Pembuka wacana untuk pameran ini adalah sebuah foto yang diperbesarnya, diperoleh dari majalah Tempo edisi 8-14 November 2004 (The Cave, 2004). Foto itu menggambarkan kegiatan para arkeolog Indonesia di situs Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang membawa mereka ke penemuan kerangka manusia prasejarah yang menggegerkan dunia, Homo floresiensis. Pada foto gua itu, Ekel seakan menemukan sebuah analogi dengan apa yang dirasakannya sebagai problem identitas. Foto sejumlah arkeolog yang tampak kecil di tengah gua di dalam penglihatannya seakan berubah menjadi obyek-obyek yang diteliti, bukan lagi subyek penentu yang meneliti. Dengan kata lain, di dalam foto itu subyek dan obyek menjadi sesuatu yang tak jelas bedanya. Para peneliti di dalam foto itu tampak tengah meneliti diri mereka sendiri ketimbang sibuk menggali penemuan di situs Liang Bua.
Foto itu seakan mengamini pangkal kesangsian Ekel tentang identitas di dalam seninya. Baginya, subyektivitas seniman selalu ditantang kembali oleh berbagai pertemuan dengan dunia yang ditemui oleh sang subyek itu sendiri. Pada titik itu, sang subyek berubah menjadi obyek bagi dirinya sendiri. Ekel mengatakan bahwa persamaan setiap manusia justru terletak pada perbedaan-perbedaan mereka masing-masing; dan dengan menggali perbedaan setiap individu, kita dapat menciptakan sebuah wadah pertemuan antar-pikiran. Teks F.E.A.R agaknya bersandar pada paradoks ini.
Kalau kita amati lagi karya video Ekel dengan latar sebuah kelas (No Title, 2004), tersirat apa yang diutarakannya. Para pengamen itu justru menemukan identitas diri mereka di luar sekolah yang bertujuan untuk membentuk "budi luhur". Kini mereka bernaung di sebuah komunitas independen "Anak Jalanan Merdeka", yang dapat menjadi payung sekaligus melindungi anggota-anggotanya dari keganasan hidup di sebuah kota. Demikianlah identitas mereka terbentuk di dalam kumpulan yang amat majemuk di luar sekolah formal (tukang parkir, penjual burung, mahasiswa, siswa drop out). Dan bukankah latar jembatan pada karya videonya yang lain (No Title, 2004) dapat bermakna mengaburkan batas-batas ekstrem yang sering kita andaikan?
Tatkala para pengamen itu menyanyikan Song of Life, lirik-lirik lagu itu menjelma sebagai sebuah bahasa atau representasi untuk menyatakan identitas bersama sebagai kelompok. Dengan jeli, Ekel melihat persoalan itu dan menampilkan kehidupan sehari-hari—inilah sebuah mikropolitik—sebagai sebuah narasi yang kuat di dalam karyanya. Partitur Song of Life dituliskan oleh Ekel pada delapan lembar kain batik berbagai warna, digantung di dalam galeri. Partitur raksasa itu menggambarkan kekhasan di dalam setiap alat musik yang digunakan oleh para pengamen, dan kini membentuk sebuah teks bersama, tidak lagi sebagai paradigma "satu lawan satu" sebagaimana Ekel menyebutnya untuk pembacaan lukisan.
Karya Ekel yang lain adalah sebuah anyaman tikar dari kertas-kertas koran bekas yang diperolehnya seusai orang-orang bersembahyang Idul Fitri di alun-alun, Yogyakarta. Ekel menganyamnya kembali menjadi sebuah bentuk baru (News Matt, 2004). Alas duduk itu, sebuah anyaman informasi yang begitu rapat, kemudian membentang di depan sebuah karya videonya di dalam galeri.
Teks F.E.A.R sesungguhnya adalah sebuah lirik lagu Ian Brown, seorang pemusik pop-rock Inggris yang pernah tergabung dalam kelompok Stone Roses. F.E.A.R merupakan akronim untuk berbagai pernyataan tentang eksistensi individu atau segala sesuatu, salah satunya dipilih oleh Ekel untuk tajuk pamerannya: Finding Everything and Realising. Namun, kumpulan frase F.E.A.R diartikan oleh Ekel bukan sebagai suatu kecemasan atau ketakutan, melainkan justru sebagai suatu tanda atau lubang untuk memasuki berbagai situasi yang tak terduga, asing, atau baru dari dunia "yang lain".
Di dalam perjumpaannya dengan "yang lain", Ekel tidak bermaksud mencari, tetapi menemukan dan menyatakan sesuatu di dalam lingkup perjalanan itu sendiri. Kehidupan sehari-hari adalah nutrisi yang kaya baginya, seperti seniman kontemporer yang lain pada umumnya.
Hendro Wiyanto, kurator
|