Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXIII/10 - 16 Januari 2005
   
Kolom

Lempeng-lempeng Bencana

Syu'bah Asa

  • Wartawan dan budayawan

    Ketika Tuhan menciptakan lempeng-lempeng bumi, dalam proses penjadian planet kita yang konon dimulai, sebagai gas, tiga miliaran tahun lalu, adakah terbetik kehendak—dari Yang Mahasuci—untuk menjadikannya sewaktu-waktu alat penghukum umat yang durhaka?

    Pertemuan lempeng-lempeng Indoaustralia dan Eurasia itu sudah dari semula terletak di situ, di sebelah barat Pulau Sumatera—dan itulah yang, ketika berbenturan semau mereka, menimbulkan gelombang musibah luar biasa sampai ke India dan pantai timur Afrika. Tapi sebetulnya juga kepulauan Nusantara terletak di atas berbagai pertemuan lempengan, yang menjadikan wilayah luas kita ini hakikatnya rawan gempa maupun tsunami, hanya saja ada yang aktif dan ada yang tidak.

    Pertanyaannya, apakah lalu penduduk di atas patahan-patahan itu, ya, kita-kita ini, termasuk yang paling potensial mendapat hukuman Allah.

    Akan selalu, memang, kita mengingat faktor Tuhan Seru Sekalian Alam. Tuhan sebagai mahapenggerak, setelah mahapemelihara. Tuhan yang muncul dengan perkasa di segala bencana. Kitab-kitab suci dihiasi gambaran ini. Sodom dan Gomorah. Al-Mu'tafikah dalam Al-Quran. Penduduk Hijir yang mendustakan para utusan. Kaum Nabi Luth. Kaum Nabi Nuh yang dilanda banjir, yang tak kita ketahui apakah tsunami. Bumi berguncang, bumi terbelah. Hujan batu dari angkasa. Dan orang durhaka terjerembap ditelan tanah.

    Itulah sebabnya, selalu saja orang mencocok-cocokkan dengan Al-Quran, atau kitab yang lain, setiap kali bencana datang dan orang merasa dihadapkan pada kebesaran Tuhan. Apa salahku? Apa salah mereka itu? Apakah salah orang di Aceh? Apa karena di sana orang bertengkar, atau karena banyak tanaman ganja? Apa karena memberlakukan syariat Islam? Atau "tidak serius" dalam hal itu? Apa salah orang Malaysia, atau negara Islam kecil bernama Maladewa?

    Sebagian khatib di mimbar Jumat sibuk menebak-nebak kehendak Allah. Juga di Kuwait, ada dikatakan bahwa yang terjadi di negara-negara sebelah timur itu azab namanya. Dan bila orang menyebut itu, ia akan menyatakannya dengan mata disorotkan tajam. Ia sedang mewakili Tuhan.

    Dan tiba-tiba penduduk Aceh, yang berenang-renang dalam kepanikan besar di tengah gelombang, dan yang menjeritkan nama Allah ketika melihat anak-anaknya terseret arus dan hilang, menjadi penuh dosa dan hitam. Sama dengan semua jahanam yang dahulu memusuhi para utusan, yang hancur, dan betul-betul habis, oleh kepastian hukuman.

    Padahal tidak. Justru para bajingan yang hidup di tengah kita bukan saja tetap hidup dan tetap sehat, tapi juga tidak menjadi mayat. Bahkan bisa menyumbang. Di manakah persamaannya dengan yang tersurat dalam Quran?

    Yang jadi soal ialah karena orang memahami Kitab Suci dengan semangat kesejarahan. Bukan membiarkan lukisan peristiwa-peristiwanya berbicara sebagai 'ibrah, pengajaran, yang untuk keperluan menjadi pegangan dilakukan pemutlakan dan ekstremisasi (mubalaghah) dalam gaya Al-Quran, setelah penyederhanaan gambaran.

    Sementara itu penghayatan ketuhanan yang lain justru tidak diambil. Dan itu pendekatan musibah. Tidak ada musibah yang tidak tergendong di belakangnya kasih Tuhan. "Tidak ada seorang mukmin yang dikenai satu musibah, sampai-sampai hanya tercocok duri, yang tidak menjadi alasan diampuni dosanya atau rahmat Allah turun kepadanya," dengarlah Nabi bersabda. "Tidak ada seseorang yang dikenai musibah yang menyangkut kedua benda kecintaannya (yakni mata, alias menjadi buta) yang tidak mendapat ganti dengan surga." "Siapa yang Allah kasihi, Ia kenai musibah." Juga musibah tenggelam—salah satu jenis yang orangnya, menurut kesimpulan Imam Ghazali, bernilai "syahid akhirat": di dunia dianggap biasa, di akhirat bisa langsung ke surga.

    Pendekatan musibah adalah pendekatan kemanusiaan. Dengan pendekatan musibah—dan bukan hukuman—itulah seluruh dunia menangis dalam duka, kemarin ini. Respons yang diberikan memang luar biasa. Seperti untuk pertama kalinya kita melihat seluruh bumi seperasaan. Tidak penting andaipun terselip beberapa "tujuan tertentu" dalam sebagian pemberian sumbangan. Juga tidak peduli bahwa, kalau tak hati-hati, hanya akan sebagian saja dari seluruh komitmen keuangan itu yang nantinya benar-benar terealisasi. Untuk perjalanan ke depan, kenyataan besar itu sendiri sudah suatu harapan.


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

     

    Berita lainnya

    Habib Hussein Al Habsyi Laporkan Kasus Korupsi - 24 Jul 2008 | 12:48 WIB
    Rumah Mewah Terbakar, 10 Anjing Tewas - 24 Jul 2008 | 12:35 WIB
    JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
    Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
    Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
    50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
    MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
    Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
    Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
    Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data