Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Tak Keberatan Berbagi Gas

Pemerintah memilih opsi kerja sama operasi AAF-Pupuk Iskandar Muda. Geliat pascatsunami.

NYAMAN nian perasaan Hidayat Nyak Man. Terkabul harapan Direktur Utama Pupuk Iskandar Muda (PIM) ini menyaksikan tiga pabrik pupuk tak jadi mati di Tanah Rencong. Pemerintah akhirnya memilih opsi kerja sama operasi Asean Aceh Fertilizer (AAF) dengan PIM ketimbang merger, Kamis pekan lalu.

Dengan begitu, pemerintah menjatah gas bumi ke tiga pabrik di Bumi Serambi Mekah. "Tiga pabrik pupuk itu lambang industrialisasi di Aceh," kata Hidayat. Karena itu Hidayat merasa tak keberatan harus berbagi gas bumi dengan AAF, meski ia menilai opsi merger lebih bagus untuk jangka panjang, karena manajemen dilebur jadi satu.

Tapi, itulah, karena kemampuan AAF membayar gaji karyawan hanya sampai bulan ini, sejak pabrik mati, Agustus 2003, jalan keluar harus segera diambil. Opsi kerja sama operasi ini sebenarnya berbeda dari keputusan sidang kabinet masa Presiden Megawati Soekarnoputri.

Ketika itu pemerintah lebih suka memilih opsi menutup AAF di tengah keterbatasan gas Arun. Kini vonis mati itu dicabut pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan AAF justru dipertahankan melalui kerja sama operasi dengan PIM. Menurut Menteri Negara BUMN Sugiharto, opsi kerja sama operasi diambil lantaran sepanjang tahun ini pasokan gas yang tersedia cuma untuk dua pabrik atau setara 12 kargo gas alam cair (LNG).

Supaya tiga pabrik bisa "hidup", pemerintah terpaksa menjatah gasnya. Caranya, pabrik PIM I beroperasi selama enam bulan pertama hingga Juni. Pabrik AAF beroperasi enam bulan kedua (Juli-Desember)?saat itu pula PIM I masuk tahap perbaikan. PIM II, yang akan diresmikan presiden Maret nanti, beroperasi penuh setahun.

"Kami ingin karyawan PIM dan AAF tetap bekerja," kata Sugiharto kepada Tempo. "Apalagi setelah bencana tsunami, BUMN di sana harus menggeliat juga." Dengan penjatahan gas, pemerintah membatasi penjualan pupuk urea AAF ke pasar ekspor. Demi menjaga ketersediaan pupuk di Aceh dan Sumatera Utara, AAF wajib menjual sebagian ureanya ke sana.

Tak cuma itu, selama AAF tidak beroperasi, PIM akan menalangi pembayaran gaji karyawan AAF: US$ 300 ribu per bulan. Ini seperti utang AAF kepada PIM, yang akan dilunasi setelah pabrik beroperasi pada Juli nanti. "Ini memang solusi jangka pendek satu tahun," ujar Sugiharto. "Solusi jangka panjang, gasnya dari lapangan Blok A."

Kondisi lapangan gas Arun kini tinggal kerak. Cadangan gas 17 triliun kaki kubik, sejak penemuan 1972, kini tinggal 10 persen. Menurut Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas), pasokan gas ke dua pabrik pupuk di Aceh setidaknya terjamin 10 tahun ke depan. Untuk periode 2006-2009, pemerintah mengalihkan sebagian kontrak LNG Arun ke lapangan Bontang di Kalimantan Timur. Sama seperti komitmen tahun ini, Bontang hanya mampu menerima 12 kargo.

Setelah 2009, pasokan gasnya berasal dari lapangan Blok A, yang mulai berproduksi pada 2008. Dengan cadangan 560 miliar kaki kubik, Blok A cukup memasok gas ke dua pabrik selama enam tahun pertama. Setelah itu, gas yang tersisa hanya cukup untuk satu pabrik selama 6-8 tahun atau paling lama hingga 2022.

Menteri Perindustrian Andung A. Nitimihardja setuju saja atas opsi kerja sama operasi ini. Yang penting, dari sisi industri, pasokan gas untuk dua pabrik itu benar-benar dipenuhi. "Mau merger atau kerja sama operasi, itu urusan Meneg BUMN selaku pemegang saham," katanya.

Rasa senang juga diungkapkan Direktur Utama AAF Rauf Purnama. Yang penting, pabrik kembali beroperasi setelah hampir 17 bulan mati. Menurut perhitungan manajemen, jika pabrik bisa berproduksi enam bulan dan seluruh produknya diekspor, AAF akan memperoleh laba sebelum pajak US$ 12 juta (Rp 108 miliar). "Kalaupun sebagian urea kami diwajibkan ke pasar domestik, kami tetap untung karena harga gasnya disubsidi pemerintah," kata Rauf.

M. Syakur Usman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Isu Teroris Tidak Mempengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Bukittinggi - 09 Jul 2008 | 12:02 WIB
Hari Ini Warga Maluku Pilih Gubernur - 09 Jul 2008 | 11:48 WIB
16 Traffic Light Mati Kemcetan Terjadi - 09 Jul 2008 | 11:43 WIB
Tujuh Pasangan Calon Gubernur Lampung Ditetapkan - 09 Jul 2008 | 11:38 WIB
Kalla akan Ambil Nomor Urut Peserta Pemilu - 09 Jul 2008 | 11:32 WIB
Menyuntik Tenaga Organizer - 09 Jul 2008 | 11:09 WIB
40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data