Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXIII/17 - 23 Januari 2005
   
Hukum

Saya Bukan Pengkhianat

Tak banyak yang tahu dia adalah satu dari sedikit orang yang sangat mengenal sisi gelap Amerika, negaranya sendiri. Frederick B. Burks, laki-laki 47 tahun ini, adalah bekas penerjemah khusus Gedung Putih. Kefasihannya berbahasa Indonesia membuat Gedung Putih merekrutnya sebagai penerjemah dokumen dan rapat-rapat rahasia di ruang kerja presiden di Gedung Putih yang menyangkut Indonesia.

Dia menjadi saksi bagaimana Amerika sangat mengincar Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Melalui Burks pula agen khusus CIA, atas perintah langsung Bush, datang ke Indonesia dan meminta Pre-siden (saat itu) Megawati menangkap sang ustad. "Megawati dengan kalem menolak. Saya juga heran, dia bisa begitu tegas," kata Burks menggambarkan reaksi Mega saat mendengar permintaan tersebut.

Kini, Burks telah mengundurkan diri dari posisinya sebagai penerjemah. Namun, karena dia tahu banyak ihwal peran Amerika dalam kasus Abu Bakar Ba'asyir, Wirawan Adnan, salah satu pengacara sang ustad, memintanya datang ke Indonesia. Kamis pekan lalu, Burks duduk sebagai saksi dan mengungkapkan bahwa penangkapan Ba'asyir adalah hasil tekanan Amerika.

Pria lajang ini sekarang hidup dari tabungannya. Kesibukannya adalah mengelola empat situs yang menyingkap kepentingan global Amerika. Salah satu situsnya adalah www.wanttoknow.info. Kepada wartawan Tempo Nurlis E. Meuko, Hanibal W.Y.W, dan Faisal Assegaf, sehari sebelum bersaksi di sidang Ba'asyir, Burks mengungkapkan apa yang terjadi dalam pertemuan utusan khusus Bush dengan Megawati pada September 2002 itu. Wawancara berlangsung di kantor Adnan Buyung Nasution and Partners di Sudirman Square, Jalan Sudirman, Jakarta, sehari setelah ia tiba di Jakarta.



Bagaimana ceritanya Anda bisa menjadi penerjemah Gedung Putih?

Di Amerika, guru bahasa Indonesia saya adalah Arief Budiman (sosiolog, kini menetap di Australia). Lalu, pada 1980, waktu itu saya masih mahasiswa di Universitas Santa Crus, San Francisco, saya memutuskan pergi ke Pontianak. Di sini saya setahun dan sempat menjadi guru di Departemen Kesehatan. Saya pun makin fasih berbahasa Indonesia. Bagi saya, bahasa Indonesia adalah bahasa yang termudah dipelajari di dunia.


Kemudian saya ke Cina. Pulang dari sana, saya dengar ada lowongan sebagai penerjemah di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Saya melamar, diterima, dan bekerja di Gedung Putih sejak 1985. Status saya tenaga kontrak tanpa batasan waktu. Sistem kerjanya, mereka memanggil kalau perlu.


Berapa gaji Anda?

Sistem pembayarannya bertingkat. Untuk tingkat biasa dibayar US$ 240 per hari, tingkat kedua US$ 320 per hari, sedangkan tingkat tinggi US$ 500 per hari. Sejak bertugas di Gedung Putih, saya mulai berhubungan dengan Indonesia pada 1985. Waktu itu Presiden AS masih Bill Clinton dan bertemu Presiden RI Soeharto. Tapi tak ada yang rahasia di sini.


Selama menjadi penerjemah presiden, tentu banyak rahasia negara yang Anda ketahui?

Sebenarnya tak terlalu banyak. Rahasia memang ada, tetapi sedikit.


Anda terikat sumpah merahasiakan apa yang Anda terjemahkan?

Nah, ini yang aneh. Selama menjadi penerjemah, saya tak pernah disumpah untuk apa pun. Yang ada hanya ikatan moral dan etika. Menurut saya, ini memang terlalu longgar.


Kok selonggar itu? Apa memang tak ada aturannya?

Peraturan sebenarnya sudah ada sejak empat tahun lalu. Isinya, segala apa yang dilihat dan didengar tidak boleh dibicarakan dengan orang lain, kecuali ada izin tertulis dari atasan. Tetapi ini tidak wajib. Jadi saya menolak menanda-tangani ketentuan itu. Tetapi, sejak Oktober 2004, peraturan itu diberlakukan dengan ketat dan harus ditandatangani dalam perpanjangan kontrak. Jadi, saya minta maaf. Karena terlalu ketat, saya menolak dan mundur dari posisi penerjemah.


Selama menjadi penerjemah, berapa kali bertemu Megawati?

Hanya empat kali. Ketika bertemu Bush, Megawati selalu minta diberi akses ke Hambali (warga Indonesia yang ditawan oleh Amerika atas tuduhan menjadi pentolan Jamaah Islamiyah). Bush tak pernah menolak langsung. Dia selalu bilang permintaan itu memang penting, tapi nanti saja. Sedangkan menyangkut Abu Bakar Ba'asyir, hanya sekali saja dibicarakan.


Bisa Anda ceritakan bagaimana awal pertemuan dengan Megawati itu?

Bulan September 2002, saat sedang di rumah di San Francisco, saya menerima telepon ahli Indonesia dari Dewan Keamanan Nasional AS, Karen Brooks. Dia sebenarnya teman pribadi Presiden Megawati. Melalui telepon itu dia memberi tahu akan ada pembicaraan rahasia di rumah Megawati.


Nah, di rumah Megawati?saya lupa di mana persisnya, yang pasti setengah jam bermobil dari Kedutaan Amerika di Jakarta?yang ikut pertemuan adalah Duta Besar Amerika di Indonesia Ralph Boyce, Brooks, dan seorang wanita yang diperkenalkan ke Mega sebagai utusan khusus Presiden Bush. Dia memperkenalkan diri sebagai agen CIA. Kepada Mega, utusan ini menyampaikan pesan Bush agar Mega menangkap Ba'asyir. Dia bilang Ba'asyir dua kali mencoba membunuh Megawati. Dia juga mengaku memiliki bukti bahwa Ba'asyir dalang pengeboman di malam Natal tahun 2000. Ba'asyir juga disebut sebagai imamnya Jamaah Islamiyah (JI). Karena itu, kata dia, Amerika ingin Presiden Megawati menangkap Ba'asyir dan menyerahkan kepada Amerika. Si utusan ini sempat menyebut-nyebut nama Umar Al-Farouk.


Apa jawaban Megawati?

Megawati meminta maaf. Dia bilang, kalau orang sekaliber Umar Al-Farouk, dia bisa melakukannya. Sebab, Farouk tak begitu terkenal. Jadi, orang tak peduli kalau dia hilang. Tapi Ba'asyir? Dia punya pengikut dan terkenal. Megawati bilang, jika dia ditangkap, itu akan menyulitkan dirinya. Jadi, Mega menolak.


Apa reaksi utusan Amerika?

Mereka bingung, saling menoleh. Akhirnya, si utusan khusus itu bilang sebenarnya mereka mengerti penolakan Megawati. Tetapi, kemudian dia melan jutkan bahwa Ba'asyir perlu diserahkan. Kalau tidak, akan terjadi sesuatu dalam pertemuan APEC. Kelihatannya itu seperti ancaman halus.


Megawati menjawab, hanya ada satu cara untuk menyerahkan Ba'asyir, yaitu jika terjadi sesuatu sehingga opini masyarakat berbalik menentangnya. Mega mengatakan itu dengan tenang. Saya juga heran, dia memang bisa tegas, tapi dengan tetap kalem.


Barangkali, Megawati menolak karena tak ada bukti?

Dugaan saya, Megawati tak begitu percaya. Di dalam rapat itu, si utusan bilang bukti-bukti sudah didapat dari Umar Al-Farouk. Padahal tak ada yang tahu Umar dibawa ke mana. Mungkin dia dibawa ke Guantanamo, atau bisa saja dia sudah disiksa untuk membuat pengakuan itu. Si utusan pun hanya memberi paparan. Tapi, kata dia, semua informasi itu sudah diberikan ke polisi Indonesia dan BIN. Sepulang dari rumah Mega, mereka berkumpul di rumah Boyce. Setelah itu, saya tak terlibat lagi.


Beberapa minggu kemudian meledak bom di Bali?

Betul. Saya jadi marah. Waktu itu saya berpikir, jangan-jangan ini rekayasa. Wah, ini keterlaluan. Pengeboman itu menguntungkan Amerika. Kalau pelakunya Jamaah Islamiyah, tentu sasarannya adalah warga Amerika. Tapi kan yang banyak jadi korban justru warga Australia? Sebelumnya Australia tak setuju memerangi terorisme. Namun, begitu terjadi bom Bali, mereka berbalik. Cerita ini tentu saja tak ada buktinya, ya.


Sebelum pengeboman di Bali, saya punya cukup banyak bukti bahwa dalang peristiwa 11 September di Amerika bukan Al-Qaidah. Dalangnya adalah oknum-oknum di Amerika dan Israel.


Bisa Anda memberi cerita lebih jelas soal kecurigaan ini?

Saya pernah mendampingi beberapa jenderal Amerika. Mereka ini selalu siaga kapan saja. Nah, tak mungkin mereka tak tahu ada pesawat yang menabrak menara kembar WTC. Saya yakin, dua jam se-belum tragedi WTC itu, mereka sudah tahu.


Menurut Anda, apa sih pentingnya seorang Abu Bakar Ba'asyir bagi Amerika?

Saya pun masih bertanya sampai sekarang. Tapi ada penjelasan bahwa Amerika ingin memecah dunia antara yang pro dan yang anti-Islam, untuk menciptakan perang. Ada semacam rekayasa, membuat polarisasi, saling bertentangan agar uang masuk ke militer supaya perang bisa terjadi. Jadi, perang itu menguntungkan industri. Untungnya besar sekali, maka mereka selalu mencari cara merekayasa agar terjadi perang. Mereka ingin tercipta tokoh yang jahat, sehingga ada alasan memeranginya. Kalaupun orang itu tak ada, harus dibuat seperti ada. Jadi, selalu diupayakan untuk meyakinkan rakyat Amerika dan seluruh dunia bahwa Ba'asyir adalah orang yang jahat sekali.


Anda tak takut dicap sebagai pengkhianat?

O, saya bukan pengkhianat negara. Saya hanya mengungkap perbuatan oknum-oknum yang merugikan orang banyak di negara Amerika. Jadi, saya tak merasa sebagai pengkhianat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data