Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Apa Salahnya Bumi Karsa Menang?

ANGKASA PURA I akan menenderkan pengerjaan perluasan Bandar Udara Hasanuddin, Makassar. "Tender kontraktor sedang dalam prakualifikasi," kata Kepala Divisi Personalia dan Umum Angkasa Pura I, Herry Sikado, kepada Irmawati dari Tempo. Pembangunan Hasanuddin meliputi perpanjangan landasan pacu dari 2.500 menjadi 3.000 meter.

Terminal dibesarkan dari 10.800 meter persegi menjadi 43.800 meter persegi. Luas parkir bandara akan menjadi 32 ribu meter persegi dari semula 9.916 meter persegi. Peletakan batu pertama proyek ini sudah dilakukan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, medio Januari lalu.

Beredar kabar, penggarapan proyek itu akan jatuh ke PT Bumi Karsa, perusahaan lokal milik adik Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla. "Lha, tudingan apa lagi ini?" kata sang Wakil Presiden kepada Wenseslaus Manggut dari Tempo melalui sambungan telepon, Kamis pekan lalu. "Tender saja belum, kok!"

Betulkah PT Bumi Karsa mendapat proyek pembangunan Bandara Hasanuddin?

Ada saja orang bikin isu. Ini isu apa lagi? Tender atas proyek itu saja belum dilakukan. Kita tunggu sajalah. Tapi, kalaupun nanti pemenang tendernya Bumi Karsa, apa masalahnya? Yang penting kan ada proses tender yang jujur dan terbuka.


Jadi, memang Bumi Karsa juga berminat?

Kalau soal minat, ya…berminatlah. Bumi Karsa itu sudah 25 tahun terlibat dalam berbagai proyek pembangunan bandara kecil maupun besar seperti Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Irian Jaya Barat, Bandara Hasanuddin, Bandara Ambon, Bandara Aceh, Bandara Cengkareng, dan beberapa bandara lainnya. Jadi sudah lama ikut membangun bandara-bandara di Indonesia.


Betulkah Anda berkali-kali menekankan supaya perusahaan lokal harus didahulukan dalam tender proyek bandara ini?

Penekanan sih tidak. Tapi perusahaan lokal perlu dilibatkan agar mereka tidak sekadar menjadi penonton dari proses pembangunan yang sedang kita galakkan ini. Kalau ada perusahaan lokal mampu, ya kenapa tidak? Asal mereka mampu, berilah mereka kesempatan. Pemberian kesempatan kepada pengusaha lokal itu juga supaya lebih efisien, dan rakyat terlibat dalam berbagai proyek negara. Biayanya juga lebih murah. Jadi, apanya yang salah?


Dan di Makassar, yang paling mampu adalah Bumi Karsa?

Saya tidak akan bilang begitu. Tapi coba tunjukkan, perusahaan mana di Makassar yang lebih besar dari Bumi Karsa. Perusahaan ini sudah berpengalaman puluhan tahun. Kalau ikut tender pembangunan bandara, apa salahnya? Tapi perusahaan itu sebetulnya bukan perusahaan saya, tapi perusahaan yang dikelola adik saya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data