Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Gaya Hidup

Rumah Kedua di Negeri Seberang

Banyak orang Indonesia yang memiliki rumah di Australia. Jika dihitung-hitung, lebih menguntungkan ketimbang menyewa.

Rumah seluas 400 meter persegi itu cukup nyaman kendati berada di pinggir jalan besar. Berdiri di atas tanah yang amat lapang, seluas 720 meter persegi, rumah berkamar empat ini dikelilingi taman nan asri tanpa pagar. Di sinilah Amir Syamsuddin, 64 tahun, selalu menghabiskan waktu santainya di sela-sela kesibukannya sebagai pengacara di Jakarta.

Bukan di Bogor atau Bandung seperti umumnya orang Jakarta memiliki rumah kedua untuk beristirahat, rumah Amir berada di Glen Iris Drive No. 91, Perth, Australia. Paling tidak, sekali dalam dua bulan, ia selalu menyempatkan diri datang ke sana mengunjungi keluarganya. Istri Amir dan dua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar memang tinggal di sana. "Keluarga kami menyukai rumah itu karena lebih luas," kata Amir.

Semula rumah itu ditempati oleh putrinya, Ade Yasmin, yang sedang kuliah di sana. Setelah Ade lulus kuliah Desain Grafis dan kembali ke Indonesia, sebagai gantinya, istri dan dua anak terkecilnya yang kini mukim di sana.

Rumah tersebut juga bukan yang pertama dimiliki Amir di Australia. Sebelumnya, dia pernah membeli rumah di pinggiran Perth pada 1989. "Daripada anak saya cari kos, lebih baik tinggal di rumah sendiri. Lagi pula, bila saya berkunjung tidak usah repot-repot mencari hotel," ujar ayah beranak tujuh itu. Jadi, kata Amir lagi, "Saya membeli rumah di sana karena memang membutuhkan." Pada 2001, ia menjual rumah tersebut karena lingkungannya dirasakan sudah terlalu ramai. Advokat kelahiran Makassar ini kemudian membeli rumah di Glen Iris Drive seharga Aus$ 475 ribu atau sekitar Rp 3,32 miliar.

Memang cukup menguntungkan bisa memiliki rumah seperti itu. Bisa untuk tempat tinggal anaknya yang sedang kuliah sekaligus tempat beristirahat. Dilihat dari segi investasi, cukup aman pula.

Cara yang sama dilakukan Thomas, 51 tahun. Warga Bintaro ini memiliki rumah yang nyaman di Brisbane, Australia. Rumah seluas 250 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 800 meter persegi ini terletak di kawasan Wishart. Setidaknya, tiga kali dalam setahun Thomas berkunjung ke sana sambil menjenguk anak bungsunya yang sedang mengejar gelar master keuangan di Queensland University of Technology, Brisbane. Istrinya, Lenny, juga kerap menemani sang anak di sana, kadang-kadang hingga sembilan bulan dalam setahun, seperti yang dijalaninya tahun lalu.

Berbeda dengan rumah Amir, rumah Thomas dilengkapi kolam renang. Harganya saat dibeli pada 1999 adalah Aus$ 250 ribu atau sekitar Rp 1,7 miliar. Rumah yang lumayan luas ini cukup akomodatif untuk menampung kegiatan keluarga Thomas selama di Australia. Misalnya, dalam kunjungan terakhirnya, 17 Desember hingga 5 Januari lalu, dia mengundang 15 keluarga kenalan mereka untuk merayakan tahun baru di sana.

Hal serupa juga dilakukan Linda, 47 tahun. Paling tidak, dua kali dalam setahun, warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini berkunjung ke Sydney. Di sana, Linda memiliki rumah berukuran 80 meter persegi di atas tanah 160 meter persegi, yang berada di kawasan Marubra. Sehari-hari, rumah ini ditempati oleh anak tunggalnya, Ronny, yang tengah menimba ilmu di University of Technology Sydney. "Saya dan suami sering berkunjung ke sana untuk melepas kangen. Maklum, anak tunggal," kata Linda. Suami Linda adalah seorang pengusaha pembibitan di Jakarta.

Rumah Amir Syamsuddin, Thomas, dan Linda hanyalah sebagian kecil dari rumah-rumah di Australia yang dimiliki orang Indonesia. Menurut Thomas, jumlah orang Indonesia yang memiliki rumah di negara itu sangat banyak "Jumlahnya ribuan; paling banyak di Perth," katanya. Titon Rahmawan, Manajer Pemasaran PT Austama Pasifik Indonesia, agen properti Australia, membenarkan hal ini. Kecenderungan ini mulai menguat pada 1993, seiring dengan makin banyaknya pelajar Indonesia yang menimba ilmu di sana.

Jika dipikir-pikir, membeli rumah memang bisa lebih menguntungkan daripada menyewa. Titon punya hitungannya. Untuk sewa kamar, seorang pelajar harus membayar Aus$ 250 per minggu atau Aus$ 13 ribu per tahun. Jadi, dalam empat tahun diperlukan dana Aus$ 50 ribu. Seluruh uang itu akhirnya akan hilang. Lain halnya apabila membeli rumah.

Cara memiliki rumah di Australia pun tidaklah sulit. Untuk sebuah rumah kecil dengan tiga kamar seharga Aus$ 250 ribu, seseorang cukup membayar uang mukanya Aus$ 50 ribu. Sisanya bisa dicicil hingga 30 tahun. Uang untuk mengangsur bisa ditutup dengan mengontrakkan dua kamar yang kosong. "Yang menguntungakan, saat sekolah anaknya selesai bisa dijual dengan harga lebih tinggi, karena peningkatan harga bisa mencapai 6,5 persen per tahun," kata Titon. Amir telah membuktikannya. Rumah pertamanya yang dibeli Rp 1,75 miliar, saat dijual laku Rp 3,01 miliar.

Faktor lain yang mendorong gejala ini adalah mudahnya proses pengurusan pembelian. Menurut Thomas, saat membeli rumah di Australia, anaknya yang berstatus mahasiswa cukup menunjukkan kartu mahasiswa dan paspor. Tak perlu izin atau memberi tahu Kedutaan RI di sana, juga tak usah repot mengurus izin ke dinas perumahan kota setempat seperti bila yang membelinya bukan pelajar.

Itu pula yang dialami Linda. Saat membeli rumah di Sydney pada 2001, dia cukup menunjukkan paspor, lantas semuanya diurus oleh pengembang. Bahkan harga rumah senilai Aus$ 450 ribu bisa dicicil selama 15 tahun. Uang muka dibayar 20 persen dan dalam tiga tahun pertama yang dicicil hanya bunganya saja, yakni Aus$ 1.800 per bulan.

Untuk urusan rekening listrik dan pajak, Australia juga lebih bersahabat. Menurut Amir, pajak rumah di sana bisa lebih murah dibanding rumah-rumah mewah di Pondok Indah. Untuk urusan listrik juga sama. "Rumah saya di Cinere, setiap bulan listriknya Rp 3,5 juta, tapi di Australia pengeluaran saya hanya Rp 1 juta untuk listrik," katanya.

Hanya untuk urusan pemeliharaan, Amir harus mengeluarkan biaya ekstra. Setiap bulan ia dia harus merogoh duit sekitar Aus$ 320 untuk membayar tukang bersih dan tukang kebun yang bekerja dua minggu sekali dan harus dibayar per jam. Tak seperti di Indonesia, di sana memang susah mencari pembantu. "Sebelum peristiwa 11 September 2001 di Amerika, saya bisa dengan mudah membawa pembantu dari Indonesia. Sekarang visa untuk pembantu sulit," keluhnya.

Dalam urusan rekening bulanan, Linda juga punya pengalaman yang kurang enak. Ini terkait dengan birokrasi yang menyebalkan. Beberapa bulan lalu, anaknya mencoba mengubah nama yang tertera dalam rekening gas. Ternyata saat tagihan berikutnya datang justru dia mendapat dua tagihan ganda atas nama yang lama dan yang baru. "Anak saya sempat pusing karena perusahaan gas swasta di sana sampai menggunakan debt collector untuk menangani hal ini. Padahal jelas mereka yang salah," katanya.

Di luar urusan sepele itu, Linda menilai Australia merupakan tempat nyaman dan aman untuk dikunjungi atau tempat bermukim. Karena itu, dia merasa tenteram melepas anak tunggalnya sendirian di sana. Yang justru kerap mengganggunya adalah rasa kangen pada anak semata wayangnya itu, seperti yang dialami saat ini. "Mungkin Maret atau April nanti saya akan mengunjunginya," ujarnya.

Nurdin, Eni Saeni


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Keluarga Masih Menunggu Kabar Meninggalnya Sophan Sophian - 17 Mei 2008 | 11:46 WIB
Politikus Sophan Sophian Dikabarkan Meninggal - 17 Mei 2008 | 11:42 WIB
PAN Usul Gaji Pejabat Dipotong 30 Persen - 17 Mei 2008 | 11:00 WIB
Assegaf: Putusan Pemberhentian Todung Tidak Sah - 17 Mei 2008 | 10:29 WIB
Koantas Bima Tabrak Pejalan Kaki - 17 Mei 2008 | 09:35 WIB
Catatan Kecil Reformasi - 17 Mei 2008 | 09:34 WIB
Pengeroyokan Taruna Akpol Dibawa Ke Peradilan Umum - 17 Mei 2008 | 09:30 WIB
Truk Kontainer Menabrak Pembatas Jalan - 17 Mei 2008 | 09:21 WIB
KPU Jawa Tengah Siap Pemilihan Dua Putaran - 17 Mei 2008 | 09:15 WIB
Arab Saudi Tingkatkan Produksi Minyak - 17 Mei 2008 | 09:00 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data