|
Ban tanpa Udara
Tak perlu lagi pusing gara-gara ban mobil kempis. Pabrikan ban raksasa Michelin tengah mengembangkan teknologi ban masa depan: tanpa udara. Teknologi yang diberi nama Tweel ini didesain oleh penemu Segway Centaur, Dean Camen, dan tampil dalam North American International Auto Show, Boston, Amerika Serikat, Januari lalu.
"Revolusi besar dalam industri mobil hanya terjadi sekali dalam 100 tahun," kata Terry Gettys, Presiden Michelin Americas Research and Development Center di Greenville, S.C. "Tapi Tweel bisa mengubah dunia mobil hari ini."
Dalam uji coba pertamanya, Michelin memasang prototipe Tweel pada mobil sedan Audi A4. Banyak keunggulan ban unik ini, antara lain sangat elastis sehingga bisa mengikuti alur jalan berbatu sekalipun. Keistimewaan lainnya, Tweel tidak memerlukan pengecekan udara, spooring, atau balancing.
Bunker Antitsunami
Jangankan gempa atau banjir, bom pun tak mempan terhadap rumah ini. Inilah rumah buatan US Bunkers, perusahaan asal Amerika Serikat yang mengembangkan bangunan serba bisa. Multipurpose Platform?begitu bangunan ini disebut?adalah bunker segi enam yang diklaim tahan angin ribut, tornado, serangan bom dan tekanan ekstrem bawah air.
Bahan bunker ini adalah campuran fiberglass, baja, konsentrat tahan air, dan campuran polimer khusus. Dindingnya setebal 30 sentimeter dengan konstruksi kokoh yang bisa menanggung beban 65 hingga 100 ton. Di bagian luar, bunker ini setinggi 2,5 meter dan diameter 3,35 meter, sedangkan bagian dalam tingginya sekitar 1,9 meter dan diameter 2,75 meter.
Di dalamnya tersedia berbagai fasilitas lengkap untuk enam orang dewasa. Ada sistem penghangat, TV, DVD, komunikasi satelit, komputer, dan internet. Untuk menunjung kehidupan, tersedia alat pemurni air, pembersih udara, panel energi matahari, pusat catu daya baterai, dan kantong bahan bakar. US Bunker mengeluarkan tiga produk: The Guardian (di atas tanah), The Foxhole (di bawah tanah) dan The Posie-Dome (di bawah air) dengan berat 13-18 ton. Harganya US$ 48 ribu atau sekitar Rp 436,8 juta.
Senyum Cemerlang, Senyum Kakao!
Siapa bilang cokelat merusak gigi? Burhanuddin D. Pasiga, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan, berhasil membuktikan bahwa kakao, bahan dasar cokelat, ternyata bermanfaat sebagai komponen aktif pasta gigi. Dalam ujian promosi gelar doktor bidang ilmu kedokteran di kampusnya, Burhanuddin memaparkan hasil penelitiannya bahwa kulit kakao bisa menjadi pasta gigi alternatif. Caranya mudah: keringkan kulit kakao, lalu tumbuk hingga halus. Nah, hasil tumbukan itu bisa langsung dipakai menggosok gigi, atau dicampurkan dengan pasta gigi biasa. Khasiat pasta gigi rasa kakao ini sama dengan pasta gigi biasa, mampu menghilangkan kotoran dan mengurangi plak pada di gigi.
Kulit kakao, menurut Burhanuddin, mengandung senyawa campuran flavonoid, berserat kasar, serta potassium?semua itu komponen ideal untuk pasta gigi. Dalam satu tahun, Sulsel menghasilkan 2 juta ton limbah kakao. Dengan limbah sebanyak itu, masyarakat Sulsel bisa menggunakan kakao sebagai pasta gigi selama 10 tahun.
Irmawati (Makassar)
|