Bertahan Melawan Talasemia Dua anak kakak-beradik di Malang mengalami pertumbuhan tak normal. Penyakit talasemia menggerogoti tubuh mereka. |
USIANYA melaju lebih cepat ketimbang perkembangan tubuhnya. Andika Syahrir Ramadhan sudah berumur 17 tahun, tapi lihatlah tubuh dan wajahnya, ia lebih mirip bocah berusia sepuluh tahun. Arek Malang, Jawa Timur, ini hanya memiliki tinggi badan sekitar 1 meter dan bobot 20 kilogram. Perutnya buncit, wajahnya pucat, dan warna putih mendominasi kelopak matanya.
Syahrir hanya bisa berharap dokter di Rumah Sakit Panti Waluyo, Malang, tempat ia dirawat, bisa menghapus segala penderitaannya. Senin pekan lalu, ia tampak duduk di teras bangsal kelas tiga di rumah sakit ini. Di lengan tangannya menancap sebuah jarum suntik infus yang ditutupi plester, mengalirkan sekantong darah, tetes demi tetes. Sudah sepekan di rumah sakit, dia masih sering merasakan gatal-gatal. Itu sebabnya sekujur tubuhnya terdapat luka bekas garukan. ”Tubuh saya juga lemas dan kepala sering pusing,” ujarnya.
Penyakit yang diderita Syahrir biasa disebut talasemia. Inilah penyakit genetis alias keturunan yang menyerang sel darah merah. Akibatnya, gen penyandi hemoglobin, komponen terpenting dari sel darah merah atau hemoglobin, menjadi rusak. Sel darah merah penderita pun mengecil dan tak mampu mengangkut oksigen dan makanan. Buat menyelamatkan penderita, perlu dilakukan transfusi darah secara terus-menerus. Itu pula yang dialami Syahrir. Dia mesti mendapat bantuan darah untuk bisa bertahan hidup.
Syahrir tidak sendirian. Adiknya, Mochamad Mauludin, 10 tahun, juga menderita penyakit yang sama. Ketika sang kakak duduk di teras bangsal, ia sedang asyik bermain-main. Seolah tak peduli terhadap penyakit yang dideritanya, Mauludin berlari kecil menelusuri lorong bangsal. Sesekali, ia menadah air hujan yang mengucur dari genting bangunan rumah sakit.
Sama seperti kakaknya, perut Mauludin juga membuncit. Sekujur tubuhnya juga dipenuhi luka bekas garukan. Hanya, wajahnya tak terlihat pucat. Dia baru saja mendapat transfusi darah. ”Kini badan saya sudah segar kembali,” kata Mauludin.
Menurut Dokter Hari Yudono yang selama ini menanganinya, perut kakak-beradik itu membuncit karena limfa mereka membengkak. Pertumbuhan keduanya pun terganggu lantaran kekurangan darah dan terjadi pengeroposan tulang. ”Jika berlanjut, pengeroposan tulang ini bisa mengarah pada terjadinya patah tulang,” ujar Yudono, yang sehari-hari juga menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Nyonya Mariana baru menyadari kelainan anaknya saat Syahrir sudah duduk di kelas empat SD Islam Lawang pada 1997. Ketika itu Syahrir merasakan tubuhnya sering lemas. Bermain, berlari-lari, bersendau-gurau atau melakukan kegiatan lain yang mengeluarkan banyak tenaga akan membuat kepalanya pusing. Suhu badannya juga sering meningkat di atas normal. Sampai-sampai, tiap hari ia mandi lima kali. ”Jika tidur, dia selalu tidak memakai pakaian karena tubuhnya panas,” kata Mariana, yang tinggal di Jalan Kauman, Lawang, Malang.
Sang ibu, yang belum tahu persis penyakit anaknya, saat itu hanya memberi obat penurun panas jika Syahrir demam. Tentu saja obat ini tak banyak menolong. Akhirnya, Mariana dan suaminya, Sutrisno, membawa Syahrir ke puskesmas. Karena dokter di puskesmas angkat tangan, akhirnya si anak dibawa ke Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Dari dokter yang menanganinya, barulah mereka mengetahui bahwa anaknya menderita kelainan sel darah merah atau hemoglobin yang dikenal dengan talasemia. ”Saya tidak tahu apa sebenarnya penyakit ini. Saya cuma tahu dia harus transfusi dua bulan sekali,” ujarnya.
Begitulah, sejak itu setiap kali Nyonya Mariana mesti membawa Syahrir ke rumah sakit di Malang untuk mendapat transfusi darah. Beban keluarganya kian bertambah setelah belakangan Mauludin juga diketahui menderita penyakit yang sama. Nyonya Mariana mesti mengeluarkan duit Rp 1,2 juta sekali transfusi untuk tiap anaknya.
Kendati dua anaknya sudah terkena talasemia, Nyonya Mariana berkeberatan jika dikatakan penyakit ini berasal dari keturunan. Buktinya, ”Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya dulu tak ada yang mempunyai penyakit ini,” ujarnya. Apalagi anak perempuannya, Mifta Chairunisa, 14 tahun, sejauh ini juga tak menderita penyakit yang sama.
Kehidupan keluarga Mariana kian terpuruk setelah suaminya, yang sehari-hari menjadi tukang ojek, ”lari” tiga tahun lalu dan tak pernah pulang. Untuk biaya transfusi anak-anaknya, ia mesti mencari pinjaman ke sana kemari. Di rumahnya yang berukuran 2 x 5 meter pun tiada perabot mewah yang bisa dijual. Yang ada hanya tempat tidur dan meja kecil plus tiga kursi kayu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Mariana berjualan makanan kecil dan menjadi buruh cuci. ”Kini beban saya amat berat,” katanya.
Karena kondisi keluarga dan kelainan dirinya, Syahrir akhirnya berhenti sekolah ketika menginjak kelas dua Madrasah Tsanawiyah Negeri Lawang. Bahkan adiknya, Mauludin, tak pernah sekolah sama sekali.
Walau begitu, Syahrir tidak pernah berputus asa. ”Saya juga ingin sembuh,” ujarnya. Kalau bisa, ia ingin terus melakukan transfusi darah, meskipun kesulitan biaya. ”Saya ingin berdagang. Tapi masalahnya saya tak punya modal,” kata Syahrir sambil duduk termenung di teras rumah sakit.
Utami Widowati, Bibin Bintariadi
|