Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Luar Negeri

Jangan Lagi Asal Bos Senang!

PADA suatu Kamis, April setahun silam. Jutaan pasang mata warga Amerika Serikat tersedot ke layar televisi. Siaran langsung itu terlalu sayang dilewatkan: seorang wanita dengan tegas, mahir, dan lihai menjawab cecaran pertanyaan Komisi 11 September. Komisi itu tengah menyelidiki penyebab tragedi tewasnya lebih dari 3.000 jiwa dalam sebuah serangan teroris di Menara Kembar WTC, New York, pada 11 September 2001. Dan wanita itu, Condoleeza "Condy" Rice—perempuan Amerika pertama yang menjabat Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih—berhasil menyelamatkan masa depan politik bosnya, Presiden George W. Bush: dia mampu memberikan jawaban memuaskan bagi Komisi 11.

Bush pun memuji Condy setinggi langit. "Dunia akan melihat kekuatan, keanggunan, dan martabat negara kita dalam diri Dr Rice," kata Bush ketika menominasikan Condy sebagai Menteri Luar Negerinya dalam masa pemerintahan yang kedua.

Kini, Senat tinggal menunggu waktu untuk memastikan Condy sebagai wanita kedua—setelah Madeleine Albright di kabinet Bill Clinton—yang pernah menjabat pos tertinggi dalam struktur kabinet Amerika. Uniknya, ayah Albright, Profesor Josef Korbel, yang dulu membujuk Condy agar banting setir dari menekuni piano klasik ke studi hubungan internasional di Universitas Denver.

Tidak ada yang memperdebatkan gelarnya sebagai Bunga Magnolia Baja atau Princess Warrior, untuk melukiskan kecemerlangan intelektualnya. Lahir di Birmingham, Alabama, pada 14 November 1954, ibu Condy adalah seorang guru musik. Dari ibunya pula dia belajar piano. Ayahnya adalah kepala sekolah sekaligus seorang pendeta yang mewariskan kecintaan akan olahraga sepak bola Amerika kepada putrinya. Condy cilik tumbuh di sela-sela aroma kebencian rasis. Sahabatnya semasa taman kanak-kanak menjadi korban serangan bom kelompok Ku Klux Klan di sebuah gereja.

Sejak itu Condy memegang erat nasihat orang tuanya bahwa pendidikan adalah satu-satunya senjata untuk menyelamatkan diri dari rasialisme. Perihal ras ini pula yang membuat Condy terdorong untuk menjadi dua kali lebih pintar dari teman-temannya. Masuk kuliah di Universitas Denver pada usia 15 tahun, dia diwisuda sebagai sarjana ilmu politik pada usia 19 tahun. Gelar master dia raih di Universitas Notre Dame, sedangkan program doktor dia selesaikan di Universitas Denver.

Pada masa pemerintahan Bush senior, Condy bekerja di Dewan Keamanan Nasional sebagai Penasihat Khusus Hubungan dengan Uni Soviet. Berbekal bahasa Rusia yang fasih, ia juga mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua pemimpin blok dunia, George Bush dengan Mikhail Gor-bachev.

Populer di kabinet Bush yunior bukan berarti wanita lajang ini lepas dari kritik dan kecaman. Bekas rekan kerjanya, Penasihat Kontraterorisme Gedung Putih, Richard Clarke, pernah menuduhnya bertanggung jawab atas terjadinya serangan teroris 11 September 2001. Senator asal California, Barbara Boxer, tegas-tegas menentang penunjukan Condy sebagai Menteri Luar Negeri. Dua suara yang menentang melawan 16 yang setuju dalam Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rabu pekan lalu, adalah milik Boxer dan rekannya sesama Demokrat, John Kerry.

Senator Demokrat lainnya, Joe Biden, juga meragukannya. "Saya amat berharap ia mampu meredam kelompok neokonservatif dalam pemerintahan," ujarnya. "Tetapi mungkin dia sendiri salah seorang dari mereka," Biden melanjutkan. Condy juga dikenal amat setia pada Bush. "Asal Bush Senang," begitu olok-olok yang ditimpakan kepada cara kerja Condy oleh beberapa kalangan yang tak menyukainya.

David Rothkopf, penulis buku tentang Dewan Keamanan Nasional yang pernah mewawancarai Condy secara ekstensif, memastikan Condy lebih pragmatis. Sikap itu pula yang membuat dia terus bertahan mendampingi beberapa nama masyur di kabinet Bush: Colin Powell, Deputi Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz, dan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld. Tetapi Joe Biden khawatir Condy lupa melepaskan diri dari pekerjaannya sebagai penasihat presiden setelah dia menjadi Menter Luar Negeri.

Hampir setiap pekan Condy menghabiskan waktunya bersama Bush dan Laura di Camp David. "Saya berdoa semoga ia bersedia mengantarkan berita buruk kepada Presiden," kata Biden.

Wuragil (afp, Newsweek, bbc, Startribune)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Habib Hussein Al Habsyi Laporkan Kasus Korupsi - 24 Jul 2008 | 12:48 WIB
Rumah Mewah Terbakar, 10 Anjing Tewas - 24 Jul 2008 | 12:35 WIB
JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data