Cobaan di Awal Bulan Madu Meredakan kemarahan pemerintah Israel yang berniat memutuskan hubunganakibat serangan kaum militan Palestinaadalah tugas besar Mahmud Abbas setelah pelantikannya sebagai presiden baru Palestina. Apa saja upayanya? |
Bom bunuh diri itu ibarat suguhan pahit bagi Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas tatkala dia bersilaturahmi ke Jalur Gaza. Hanya dua jam setelah Abbas tiba, seorang pemuda Palestina meledakkan diri dekat persimpangan jalan utama Palestina. Si pemuda menerobos ke satu blok pemukiman Yahudi
lalu, blaaarrr! Delapan warga Israelterdiri dari tentara dan agen keamanan Israel Shin Bettewas beserta si pemuda. Peristiwa yang berlangsung pada Selasa pekan lalu itu membikin Ariel Sharon naik pitam. Dia bukan hanya mengancam memutuskan hubungan dengan pemerintah Otoritas Palestina. Sharon juga memberi "kebebasan penuh" bagi tentara Israel untuk "menghancurkan militan Palestina sampai ke akar-akarnya".
Kelompok militan Palestina, Hamas, mengklaim bertanggung jawab. Kantor berita The Associated Press menerima pesan pendek dari Hamas melalui telepon genggam. Isinya: identitas pelaku bom bunuh di atas bernama Omar Tabach, 21 tahun, dari Gaza. Sandi pengeboman ini disebut Operasi Menikam Hati. Inilah kematian pertama agen Shin Bet di tangan kaum militan Palestina sejak intifada September 2000.
Insiden berdarah ini adalah pukulan telak bagi Abbas setelah menang pemilu pada Minggu, 9 Januari. Padahal, Presiden Palestina yang baru ini ibaratnya baru mengawali masa bulan madu dengan jabatan baru tersebut. Abu Mazensebutan lain Mahmud Abbaspun datang ke Gaza hari itu untuk menyelesaikan kasus sebelumnya, yakni bentrokan berdarah di penyeberangan Israel dan Gaza yang menewaskan enam warga sipil Israel. Hamas, Jihad Islam, dan Brigade Martir Al-Aqsa mengaku berada di balik peristiwa berdarah ini.
Dua kejadian beruntun itu memang membikin Abbas kelabakan karena Perdana Menteri Ariel Sharon berang bukan main. "Abu Mazen tak tahu apa yang terjadi di wilayah itu," kata Sharon. Sharon juga mendesak Abbas mengungkap dan menangkap pelaku insiden. Pemerintah Israel langsung menambah pasukan tentara di Gaza untuk menyikat militan Palestina. Di Nablus, puluhan militan dibekuk. Menteri Perhubungan Israel Meir Sheetrit menutup jalan masuk komersial Jalur Gaza. Padahal, dari jalur inilah sepertiga ekonomi warga Palestina dipasok.
Respons sengit dari Tel Aviv itu segera ditanggapi Abbas. Dengan gesit dia langsung melobi para sobat di Israel agar meredakan kemarahan Pak Tua Sharon. Konon, salah satu yang ditemui Abbas adalah Konsulat Jenderal Amerika Serikat untuk Yerusalem, David Pearce. Dalam pertemuan di Ramallah, Tapi Barat, Abbas meminta Pearce untuk membujuk Sharon agar memberi tempo kepada Abbas untuk berunding dengan militan. "Amerika diminta menekan Israel agar menahan diri," kata pejabat Palestina yang tak mau disebut namanya. Dukungan terhadap Abbas juga muncul dari Negara-negara Uni Eropa dan Yordania. Mereka meminta Sharon menghentikan cara-cara kekerasan dalam menghadapi Palestina.
Aksi kaum militan memang sudah diduga bakal menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Abbas. Sebab, sejumlah kelompok militan hanya memberi sinyal gencatan senjata jika Israel menghentikan pemberontakan dan pembunuhan warga Palestina. Tapi juru bicara Hamas, Sami Abu Zukhri, menyambut positif pertemuan dengan Abbas. Dia mengatakan, "Hamas akan menerima untuk gencatan senjata, tapi ada syarat." Dari Tepi Barat, pemimpin Brigade Martir Al-Aqsa, Zachariya Zubeidi, juga meladeni keinginan Abbas.
Sejatinya Israel enggan menyetujui hal itu, tapi Sharon membuka diri lagi untuk perundingan damai. Itu terjadi setelah Abbas zig-zag bertahan berunding di tengah militan. Yang paling membuat Sharon luruh adalah langkah Abbas mengirim seribu polisi di perbatasan Gaza-Israel, Kamis pekan lalu, untuk mencegah serangan roket militan ke permukiman Yahudi. Kepada radio militer Palestina, Letnan Jenderal Abdel Razek Majaide, Pemimpin Tertinggi Pasukan Palestina, menyepakati langkah itu setelah para jenderal Israel dan Palestina bertemu.
Hasilnya? Seorang pejabat militer Israel hanya berkata begini: "Kita lihat saja seberapa efektif hasil pertemuan itu."
Eduardus Karel Dewanto (Reuters/AFP/AP/BBC)
|