Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Luar Negeri

'Hantu' Demokrasi sampai Mati

Hantu demokrasi membayangi pemerintah Cina sampai Zhao Ziyang berpulang.

PETANG 16 Mei 1989, suasana ruang rapat Politbiro Partai Komunis Cina (PKC) terasa tegang. Meja sidang dikelilingi para elite PKC, Sekretaris Jenderal Zhao Ziyang, Perdana Menteri Li Peng, dua tokoh senior partai Yang Shankun dan Bo Yibo. Pertemuan darurat itu membahas demonstrasi mahasiswa di lapangan Tiananmen, Beijing, yang menginjak hari ke-30.

Wajah-wajah keruh, suara meninggi. Pasalnya, Kamerad Zhao berseberangan dengan Li Peng di Politbiro PKC soal cara menghadapi aksi mahasiswa. Zhao yang reformis kukuh membela mahasiswa, sebaliknya Perdana Menteri Li Peng menghujat mereka. "Mayoritas mahasiswa itu patriot yang tulus," ucap Zhao. Katanya, tuntutan mahasiswa memajukan demokrasi, reformasi, dan pemberantasan korupsi sangat rasional. "Saya mengerti jika kadang mereka berlebihan dalam kata dan tindakan."

Pembelaan Zhao menggusarkan pendekar komunis lainnya. Maklum, di Tiananmen puluhan ribu mahasiswa berteriak menuntut Deng Xiaoping mundur dan menghujat pemimpin PKC lewat spanduk. "Sangat jelas segelintir minoritas mencoba menggunakan kekacauan ini untuk menolak kepemimpinan PKC dan sistem sosialis," ujar Li Peng geram.

Pertengkaran Zhao-Li Peng berlanjut dalam pertemuan dengan Deng esoknya. Li Peng menelanjangi Zhao, yang menentang kebijakan Deng mengecam aksi mahasiswa. "Kawan Zhao harus bertanggung jawab atas eskalasi gerakan mahasiswa," ujar Li Peng. Deng memutuskan: "Kita harus membawa Tentara Pembebasan Rakyat dan menyatakan keadaan darurat di Beijing." Ucapan Deng adalah sabda.

Angkat tangan, Zhao berkata, "Kawan Xiaoping, saya tak sanggup memikul keputusan ini." Pada 19 Mei 1989, Zhao menemui mahasiswa. Ia minta maaf dan mohon mahasiswa menghentikan mogok makan dan bubar. "Saya datang sangat terlambat," ujarnya sedih. Esoknya, Li Peng dan gengnya memberlakukan keadaan darurat perang dan mencopot semua jabatan Zhao.

Pada 4 Juni 1989, tank-tank pun memasuki Tiananmen, setelah malam sebelumnya anggota Divisi ke-112 dan Divisi ke-113 memicu kerusuhan. Akibatnya, 218 warga sipil dan 23 tentara tewas, dan 7.000 orang luka-luka. Senin pekan lalu, 15 tahun kemudian, Zhao Ziyang, 85 tahun, menyusul korban Tiananmen lainnya. Ia meninggal akibat radang paru-paru dalam status tahanan rumah.

Itu bukan hukuman pertama bagi anak tuan tanah di Provinsi Henan ini. Pada 1967, pendukung tokoh reformis Liu Shaoqi itu ikut tergulung revolusi kebudayaan. Jabatan pemimpin partai di Guangdong lepas, dan empat tahun mendekam di kamp kerja paksa.

Direhabilitasi Zhou Enlai pada 1973, Zhao lalu ditunjuk selaku anggota Komite Sentral PKC, berkedudukan di Provinsi Sichuan. Di sini ia sukses mendongkrak ekonomi lewat reformasi kapital yang radikal: produksi industri dan pertanian naik masing-masing menjadi 81 dan 25 persen. Ungkapan "yao chi liang, Zhao Ziyang" (jika kamu ingin makan, carilah Zhao Ziyang) dari warga Sichuan pun melekati dirinya.

Sukses itu membawa Zhao kembali ke Beijing, 1977. Tergiur dengan keberhasilan Zhou, Deng Xiaoping menjadikannya anggota penuh Politbiro PKC, 1979, dan dijadikan perdana menteri, 1980. Ia memberi keleluasaan lebih besar kepada manajer pabrik milik negara, kontrol terhadap kelebihan produksi petani, dan menjadikan provinsi pantai sebagai zona ekonomi untuk investasi asing. Kebijakan itu menumbuhkan sektor pertanian dan industri ringan sepanjang 1980-an. Zhao berbaik-baik dengan Barat agar membantu ekonomi Cina sambil membiarkan dirinya kian liberal.

Seraya tetap mempercayai partai, Zhao mendefinisikan sosialisme secara berbeda dengan kaum konservatif. Ia meyakini kemajuan ekonomi tak lepas dari demokratisasi. Lalu, awal 1986, Zhao menyerukan perubahan: rekrutmen anggota Komite Sentral PKC dari tingkat desa, transparansi pemerintahan dan rakyat ikut proses pembuatan keputusan. Hasilnya, dua tahun Zhao sebagai Sekjen PKC adalah masa keterbukaan terbesar dalam sejarah modern Cina.

Sampai kini kebebasan itu masih terus menghantui para pemimpin Cina. Pemakaman Zhao pun ditakutkan membangkitkan tuntutan akan kebebasan. Maka, hanya kantor berita Xinhua yang mengumumkan kematian Zhao dengan satu kalimat pendek: "Kamerad Zhao Ziyang meninggal di rumah sakit Beijing, Senin."

Raihul Fadjri (BBC, AFP, Wikipedia, Tiananmen Papers)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data