Jatuh Bangun Agen 013 Zyaeri dikenal sebagai seorang reserse tanpa kompromi. Gara-gara itu pula kariernya terseok. Ia piawai menangkap penjahat dengan menggunakan penjahat. |
KAU mau bantu polisi, apa pilih 8-10?” kata Kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, Letnan Kolonel Polisi Syeh Tarigan, dengan suara menggelegar. Seorang lelaki bertubuh tambun tergagap di depannya. Ia tahu 8-10 istilah polisi untuk ”dibunuh”. Sejenak lelaki bernama Tan Hok Liang alias Anton Medan itu tercenung. Sementara itu sang letkol dan anak buahnya menanti jawaban lelaki itu dengan mimik tak sabar.
Baru dua hari Anton menghirup udara bebas setelah tujuh tahun meringkuk di penjara Cipinang karena kasus perampokan. Kini belasan polisi berpakaian sipil mengerumuninya setelah sebelumnya menculiknya ketika ia sedang bersantai di depan rumah di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat. Kini ia terbengong di sebuah ruang di Polda Metro Jaya.
Anton tak merasa punya kesalahan baru. Tapi ancaman 8-10 menciutkan jantungnya. Apalagi saat itu sedang musim ”petrus” alias penembakan misterius. Maka tak ada pilihan lain bagi Anton kecuali mengikuti kemauan polisi.
Setelah menyatakan mau membantu polisi, Anton diserahkan Tarigan kepada bawahannya, Kepala Dinas Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Mayor Zyaeri. Selama enam bulan ia mengikuti operasi Zyaeri menggulung beberapa komplotan penjahat. ”Dia punya pola, kalau nangkap maling harus pakai maling,” kata Anton mengenang perkawanannya dengan mantan Kepala Staf Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) itu, 19 tahun yang lalu.
Pertemuan Anton dengan Zyaeri terjadi pertama kali pada 1976. Saat menjadi komandan Tekab (Tim Komando Anti-Bandit) Polres Jakarta Barat, Zyaeri menangkap Anton, pelaku perampokan puluhan toko emas. Setahun kemudian Anton kabur dari bui. Sejak itu ia menjadi target operasi Zyaeri, hingga akhirnya tertangkap pada 1979 dan dipenjara tujuh tahun di LP Cipinang.
Kasus pertama yang diungkap Zyaeri dengan bantuan Anton—kini berganti nama menjadi Haji Muhammad Ramdhan Effendy—adalah kasus perdagangan senjata api di Restoran Furama, Ja-karta. Mereka juga membongkar perdagangan wanita Filipina di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Kemudian, duet polisi-penjahat itu berhasil menangkap bandar heroin sebanyak 8 ons di Lampung.
Salah satu karya besar ”duet ganjil” ini adalah penangkapan raja judi Hong Lie. Tapi, menurut Anton, beberapa bos polisi dan tentara justru mendapat ”jatah reman” dari raja judi itu. Zyaeri tak ambil pusing. Hong Lie tetap ditangkap dan diseretnya ke penjara. ”Akibatnya, waktu kasus Hong Lie mencuat, Zyaeri banyak ngadepin teror dari jenderal-jenderal,” kata pengasuh Pesantren At-Taibin itu.
Mantan Kepala Polri Jenderal (Purn) Chairuddin Ismail pun mengakui keberanian Zyaeri menggalang penjahat untuk dijadikan mitra. Menurut dia, beda penjahat dengan hamba hukum itu sebenarnya hanya setipis kulit bawang. Artinya, seorang reserse yang hebat harus mampu memahami jalan pikiran dan trik penjahat yang diburunya. ”Zyaeri punya kemampuan itu,” tambahnya.
Chairuddin berpendapat, kawan seangkatannya di Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) Kepolisian 1971 itu seorang pekerja lapangan yang berani, nekat, tapi tidak macam-macam. Chai-ruddin mengaku agak terkejut ketika mendengar kawan lamanya itu ditahan polisi gara-gara kasus uang palsu. Sebab selama ini ia dikenal sebagai polisi yang bersih. ”Sejak taruna dia termasuk kelompok santri,” ujarnya.
Sebagai pengurus masjid kesatrian taruna, Zyaeri dikenal rajin berpuasa dan beribadah. Anak petani tembakau dari Kauman, Bojonegoro, Jawa Timur itu pun punya ilmu kanuragan yang hebat. Dalam berbagai acara, ia sering diminta Chairuddin—saat itu adalah Asisten Operasi Resimen Taruna Kepolisian—untuk unjuk kebolehan. ”Dia tahan dipukul bata dan digilas kendaraan bermotor,” ujarnya.
Ketika menjadi taruna, lelaki kelahiran 15 Juli 1948 itu berkenalan dengan Endang Mujiwati, seorang anggota korps drum band dari perguruan putri Tarakanita, Jakarta. Pertemuan itu kemudian berlanjut dengan kisah cinta. Mereka kemudian menikah pada 1976. Perkawinan itu membuahkan dua orang anak laki-laki, Andre Bintang Arifiyanto dan Indra Bayu Laksono.
Awalnya, karier Zyaeri cukup mencorong. Ia dikenal sebagai reserse yang disegani karena kemampuan memburu penjahat. Karena itu, ia pun diterima di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) angkatan ke-16. Di situ ia menjadi kawan sekelas Kepala Polri Jenderal Da’i Bachtiar dan Kepala Bagian Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal Suyitno Landung. Tapi Suyitno mengaku tidak terlalu dekat, ”Dia senior saya,” ujarnya.
Belakangan karier Zyaeri tersendat. Chairuddin menduga, hal itu disebabkan beberapa kasus yang ditanganinya membuatnya bergesekan dengan kepentingan elite politik. ”Selama bertahun-tahun pangkat Zyaeri mentok di letnan kolonel,” kata Chairuddin. Meski sempat ”dibuang” menjadi Wakil Kepala Polisi Wilayah Timor Timur, ia akhirnya tetap dapat masuk ke Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimpol) pada 1988.
Hampir bersamaan dengan tersendatnya karier, kehidupan perkawinan Zyaeri pun terganggu. Karena suatu masalah, perkawinannya dengan Endang tak bisa dipertahankan. Pada 1990 keduanya bercerai baik-baik. ”Meskipun kami sempat terpukul, Papa menjelaskan hal itu dengan baik,” kata Bintang, anak sulungnya. Zyaeri lalu menikah lagi dengan Wiwin Zairina. Dari perkawinan ini, lahir seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Begitu lulus dari Sespimpol, Zyaeri ditugaskan sebagai Kepala Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Timur. Setahun kemudian ia dimutasi dengan jabatan yang sama di Polda Medan. ”Waktu jadi Kaditlantas, tak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Dia biasa-biasa saja,” kata salah seorang bekas anak buahnya di Polda Jawa Timur. Menurut dia, Zyaeri lebih suka bekerja sendiri dan sangat tertutup.
Tapi, bagi keluarga dan anak-anaknya, Zyaeri adalah seorang bapak yang hebat, hangat, dan penyabar. Meski keras kepada panjahat, ia tak pernah kasar kepada anak-anaknya. ”Papa adalah orang tua yang bisa memberikan pelajaran di hati, bukan dengan fisik,” kata Bintang.
Zyaeri juga cukup dekat dengan keluarga. Anak-anaknya kerap menyapa sang ayah dengan panggilan Agen Bolong Jilu. Panggilan itu, menurut Bintang, berasal dari cerita komik lokal tahun 70-an yang menampilkan tokoh seorang anggota Tekab berinisial 013 alias bolong jilu (siji telu). Kebetulan gambaran tokoh itu mirip ayahnya yang sering mengendarai Vespa saat mengejar penjahat. ”Anak saya juga sering memanggilnya Eyang Bolong,” kata Bintang.
Menurut Bintang, ayahnya tak pernah memanjakan anak-anaknya dengan harta melimpah. Ia hanya pernah diberi sebuah motor Honda Supra X selama ayahnya menjabat Kepala Staf Harian Botasupal. Karena mendapat jatah rumah dari negara, rumah pribadi Zyaeri di Kompleks Taman Alfa Indah, Jakarta Barat, dikontrakkan. Uang kontrakan itu lalu dipakainya untuk menjalankan roda bisnis jual-beli mobil yang dikelola Wiwin di Jalan Daan Mogot, Jakarta Selatan. ”Bapak kelihatannya sering gonta-ganti mobil, padahal itu mobil dagangan Ibu,” ujarnya.
Dunia intelijen mulai dimasuki Zyaeri ketika ia dimutasikan ke Badan Intelijen ABRI (BIA). Saat itu, sebagai Perwira Pembantu (Paban) di Direktorat C/Kamtibmas, ia sempat menyelidiki kasus pembunuhan dukun santet di Jawa Barat. Saat itu Chairuddin telah menjadi Kepala Polda Jawa Barat berpangkat mayor jenderal, sementara kawannya masih kolonel. ”Saat itu dia datang menghadap saya atas perintah Kepala BIA Zacky Anwar Makarim,” kata Chairuddin.
Sebelum dimutasikan di BIN, Zyaeri pernah bertugas di staf Direktorat Penelitian PTIK. Namun, hanya enam bulan ia mengabdi di almamaternya. Menurut Gubernur PTIK Farouk Muhammad, Zyaeri mengaku tidak cocok bekerja di bidang pendidikan, karena membutuhkan kemampuan mendidik dan ketelatenan. ”Saya tidak cocok di sini karena saya orang lapangan,” kata Zyaeri kepada Farouk ketika itu.
Akhirnya, pada 2001 Zyaeri dipindah ke Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), yang kemudian menjadi Badan Intelijen Negara (BIN). Saat itu BIN dipimpin Letjen Purn A.M. Hendropriyono. Di markas intel itu Zyaeri naik pangkat menjadi brigadir jenderal. Semula, ia menjadi Direktur 55, di bawah koordinasi Deputi V BIN. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Kepala Staf Harian Botasupal.
Diangkat menjadi penanggung jawab pemberantasan uang palsu, naluri reserse Zyaeri hidup kembali. Ia menerapkan kembali ilmu lamanya: menangkap penjahat dengan penjahat. Kali ini sasarannya jaringan uang palsu. Tapi ironis: pada akhir masa tugasnya, lelaki itu justru terjerat kasus yang sedang disidiknya.
Hanibal W.Y. Wijayanta, Eni Saeni, Agung Ruliyanto
|