Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Media

Yang Bangkit dari Tsunami

Koran itu kehilangan 52 karyawan, kantor rata tanah, percetakan berhamburan. Selang tiga hari terbit kembali, bahkan dibagikan gratis selama 10 hari.

BOCAH enam tahun itu, Alif Nazar, bermimpi melihat uwaknya di dekat kandang burung. Padahal Cut Sofiati, 28 tahun, yang dipanggil "Nyak Wa" oleh si bocah, menghilang sejak gempa bumi dan tsunami menerjang Aceh, Ahad 26 Desember. Hari itu juga, Kamis dua pekan lalu, ibu si bocah, Cut Azizah, mengontak seluruh keluarga besarnya yang di Sigli dan Tangse, Kabupaten Pidie. Tentu dia juga menghubungi suami kakaknya, Mawardi ibrahim, 40 tahun, yang mengungsi ke Lhok Seumawe, Aceh Utara.

Mereka sepakat berangkat ke rumah Mawardi di Lampulo, Banda Aceh, pada Senin, 17 Januari. Semua sudut rumah yang sudah remuk itu diacak-acak, termasuk kandang burung dalam mimpi Alif. "Istri saya memang suka burung kakatua," kata Mawardi, yang Wakil Pemimpin Redaksi Harian Serambi Indonesia. Namun, yang dicari tak ketemu.

Ketika akan beranjak pulang, tiba-tiba seorang kerabat dekat Cut Sofiati kesurupan. Dia berteriak, "Bawa saya pulang?. Bawa saya pulang.?" Mawardi tersentak. "Mirip suara istri saya," katanya. Mereka tak jadi pulang, kembali mencari. Akhirnya mereka menemukan jenazah Sofiati, terimpit tembok pagar yang runtuh.

Mawardi mengaku sempat putus asa mencari istrinya. Dia sudah menjelajahi seluruh tempat pengungsian dan rumah sakit di Banda Aceh. Pria bertubuh jangkung yang semula periang itu akhirnya menyimpulkan, istrinya sudah tiada. Bersama istrinya, tewas kedua orang tua kandungnya dan beberapa kerabat dekat?semuanya 27 orang. "Baru jenazah istri saya yang ditemukan," katanya dengan wajah kelu.

Tempatnya mencari nafkah, Serambi Indonesia, rerak rantas pula. Kantor koran yang berada di Jalan Krueng Raya, Kaju, Aceh Rayeuk, itu luluh-lantak. Mesin pencetak Serambi, yang beratnya 15 ton, diangkut tsunami sampai satu kilometer. Sehari setelah tsunami, Mawardi datang ke kantornya. Mayat berserakan, tak satu pun dikenalnya. Di situ dia bertemu Sjamsul Kahar, Pemimpin Umum Serambi, dan Akmal Ibrahim, wakil redaktur pelaksana. Mereka bertangisan.

Hari itu juga mereka membentuk posko untuk mengumpulkan wartawan dan karyawan Serambi yang berjumlah 211 orang. Setelah berkumpul, tercatat 52 karyawan hilang, termasuk 10 wartawan. Di antara mereka adalah Erwiyan Syafri, redaktur pelaksana yang diperkirakan tewas bersama istri dan dua anaknya, dan Muharram M. Nur, wartawan yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen Aceh.

Meski kehilangan itu luar biasa, mereka sepakat menerbitkan kembali Serambi. "Kami menguatkan hati untuk tetap menyambangi pembaca," kata Sjamsul Kahar, 60 tahun. Bukan pekerjaan gampang, tentu. Butuh modal paling tidak Rp 20 miliar. Aset yang tersisa? Hanya sekitar Rp 3,5 miliar. Tapi semua karyawan Serambi sadar, mereka harus bangkit. Khusus bagi Sjamsul, koran dengan oplah 45 ribu eksemplar ini punya nilai sejarah: dialah yang membidani kelahiran Serambi pada 1989.

Selang tiga hari setelah tsunami, Serambi terbit gagah. Selama 10 hari koran itu terbit delapan halaman dan dibagikan cuma-cuma kepada masyarakat. Setelah itu, Serambi terbit 12 halaman dan dijual Rp 1.500 per eksemplar. Setiap hari dicetak 25 ribu eksemplar. Para wartawannya mencari berita dengan berjalan kaki. "Ada yang naik sepeda," kata Mawardi.

Berbeda dengan suasana kantor dulu yang lumayan megah, kini mereka berdesakan di sebuah ruko di Terminal Bus Beurawee, Kota Banda Aceh. Gaji mereka juga belum menentu. "Bulan ini saya digaji sejuta rupiah," kata Mawardi. "Ada wartawan yang cuma digaji Rp 200 ribu." Tapi tak ada yang mengeluh. Mereka maklum, semuanya sedang susah.

Nurlis E. Meuko dan Fajar W. Hermawan (Banda Aceh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Keluarga Masih Menunggu Kabar Meninggalnya Sophan Sophian - 17 Mei 2008 | 11:46 WIB
Politikus Sophan Sophian Dikabarkan Meninggal - 17 Mei 2008 | 11:42 WIB
PAN Usul Gaji Pejabat Dipotong 30 Persen - 17 Mei 2008 | 11:00 WIB
Assegaf: Putusan Pemberhentian Todung Tidak Sah - 17 Mei 2008 | 10:29 WIB
Koantas Bima Tabrak Pejalan Kaki - 17 Mei 2008 | 09:35 WIB
Catatan Kecil Reformasi - 17 Mei 2008 | 09:34 WIB
Pengeroyokan Taruna Akpol Dibawa Ke Peradilan Umum - 17 Mei 2008 | 09:30 WIB
Truk Kontainer Menabrak Pembatas Jalan - 17 Mei 2008 | 09:21 WIB
KPU Jawa Tengah Siap Pemilihan Dua Putaran - 17 Mei 2008 | 09:15 WIB
Arab Saudi Tingkatkan Produksi Minyak - 17 Mei 2008 | 09:00 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data