Yang Mencorong di Atas Reruntuhan |
Kolonel Geerhan Lantara sedang nongkrong di toilet saat gempa menghajar Meulaboh, Aceh Barat. Tanpa pikir panjang, Komandan Korem 012 Teuku Umar itu bergegas mengenakan seragam militernya. Karena terburu-buru, Geerhan tak sempat mengenakan pakaian dalamnya. Di kejauhan tampak gelombang laut setinggi pohon kelapa melahap tubir pantai. Geerhan beruntung. Ia sempat naik ke lantai dua sebuah ruko. Dari lantai itu, ia sempat menyelamatkan beberapa penduduk yang terbawa tsunami. "Rasanya seperti menangkap ikan lele," ujarnya.
Sejam setelah gelombang tsunami lenyap, Geerhan mengitari Meulaboh yang luluh lantak. Ratusan rumah dan bangunan rata dengan tanah. Ribuan mayat berserakan di lumpur. Meulaboh menjadi kota mati. Telekomunikasi dengan dunia luar terputus, tapi Geerhan tak kehilangan akal. Ia langsung mengumpulkan sisa-sisa pasukan TNI yang selamat. Sebagai ahli strategi perang, Geerhan segera mencari kemungkinan terbaik.
Untunglah, Gudang beras milik Depot Logistik, yang relatif jauh dari pantai, selamat. Di dalamnya tersimpan lima ton beras. Geerhan langsung memerintahkan seorang prajurit untuk membagi beras itu ke penduduk yang selamat. Setiap orang akan mendapat jatah setengah kilogram per hari. Tapi, karena keliru memahami perintah, prajurit itu membagikan setengah kilogram per hari untuk tiap keluarga. "Prajurit saya salah tangkap," kata Geerhan Lantara, "Akibatnya penduduk hanya bisa makan bubur."
Geerhan tentara sejati. Meski segalanya porak-poranda diterjang tsunami, Geerhan minta pasukannya menegakkan disiplin militer. Tak peduli rumah atau keluarganya hilang, Geerhan minta prajurit yang masih hidup langsung bekerja. Bahkan saat melakukan evakuasi mayat, prajurit TNI tetap wajib memakai seragam lengkap. Kepada Tempo, seorang prajurit Korem 012 Teuku Umar menggerutu akibat perintah itu. Para Komandan Kompi tak mentoleransi kondisi Meulaboh. Semua prajurit harus berseragam lengkap dan tetap menenteng senjata. Bila teledor, kata seorang prajurit, "Langsung diberi tendangan dan bogem mentah."
Kisah "ketegasan" Geerhan bukan cuma isapan jempol. Dua pekan lalu, Tempo menyaksikan beberapa prajurit di Kompi Senapan C-112 Meulaboh berjajar di lapangan. Seorang komandan terlihat menghajar para prajurit yang tetap berdiri tegap. Beberapa pukulan dan tendangan mampir ke tubuh para prajurit muda itu. Lamat-lamat terdengar erang kesakitan. Tak jelas, apa kesalahan para pemuda berseragam itu.
Tak heran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepincut dengan kinerja Geerhan Lantara. Dalam pertemuan dengan Legiun Veteran, SBY mengaku bangga dengan sikap Geerhan dan para prajurit di Meulaboh. Presiden menyatakan, mereka pantas mendapat penghargaan. "Mereka melakukan tugas beyond on call duty," kata Presiden Yudhoyono.
Sayang, sikap heroik Geerhan ternoda oleh perilaku prajurit TNI di Meulaboh. Beberapa relawan kemanusiaan yang mengirim bantuan untuk masyarakat Meulaboh mengaku sempat "diperas" oleh pasukan TNI. Protus Tanuhandaru, aktivis Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK), misalnya, mengaku dipalak aparat TNI berseragam. Ceritanya, pekan lalu, Protus mengirim bantuan logistik ke Meulaboh. Di kawasan Gunung Keling, beberapa kilometer dari Meulaboh, truk yang membawa logistik mogok. Tak lama berselang, beberapa tentara datang memeriksa. Tanpa menawarkan bantuan, tentara yang menenteng senjata itu malah mengambil beberapa kotak logistik dari truk "TNI juga korban tsunami, mestinya juga dapat bantuan," kata tentara itu. Untunglah, gerombolan tentara itu tak mempersulit perjalanan karena aktivis JRK membawa surat jalan dari pejabat di Banda Aceh.
Selain pemalakan, prajurit TNI juga terlihat mengais-ngais barang berharga yang ada pada mayat. Uang dan perhiasan emas yang masih menempel di jasad korban tsunami dikumpulkan oleh prajurit TNI. Tak ada pencatatan soal jumlah dan asal barang berharga itu.
Geerhan tak menyangkal bahwa prajuritnya ikut mengambil bantuan dan barang berharga milik korban. Lulusan Akabri 1975 ini mengaku pasukannya juga membutuhkan pasokan logistik. Soal pengumpulan harta benda korban, Geerhan menyatakan hal itu inisiatifnya. Semua perhiasan dan uang yang terkumpul, kata Geerhan, akan disumbangkan kepada anak yatim korban bencana. Namun, Geerhan menyatakan telah melarang anak buahnya mencopot cincin yang masih dikenakan mayat. "Bila suatu saat kuburan massal digali, cincin itu bisa jadi identitas," kata Geerhan.
Setiyardi, Nezar Patria dan Sunariah (Meulaboh)
|