Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Nasional

Jam Mati di Rumah Tuhan

Masjid Baiturrahman satu dari sedikit bangunan yang tersisa di Banda Aceh pasca-tsunami. Saksi sejarah yang tak lekang zaman.

JAM dinding itu seperti ingin mengawetkan sebuah kenangan. Jarum-jarumnya kukuh. Bingkainya berwarna prada dan bertatah huruf Arab?aksara yang juga dipakai menukilkan angka-angka di atas dasar berwarna putih. Berukuran sedikit lebih besar dari tampah, ia tergantung di atas pintu utama Masjid Baiturrahman, Banda Aceh.

Jam itu kukuh dan anggun: menancap di atas dinding berusia lebih dari seabad, sekitar empat meter di atas permukaan lantai. Tsunami 26 Desember membekukan detaknya. Jarumnya berhenti tepat di angka 8.51 WIB: ketika bumi bergemeretak dan Samudra Hindia mara ke Serambi Mekah. Empat pekan setelah bencana, jam itu masih di sana: beku, terpacak kelu.

Baiturrahman yang murung. Tak ada lagi air mancur di halaman masjid yang dulu kerap jadi tempat pesiar warga Banda Aceh. Pekan pertama setelah tsunami, mayat seperti ikan pindang di halaman dan bagian dalam masjid. Para pengungsi tidur di antara tumpukan jenazah. Jasad bahkan tersuruk hingga ke bak penampungan air wudu.

Mayat-mayat berlamparan dan orang masuk tanpa membuka alas kaki. "Masjid tak bisa dijadikan tempat salat," kata Teuku Azman, Imam Besar Baiturrahman. Gempa memang tak menggodam bangunan utama yang kukuh. Hanya meninggalkan rengat di dua menara di bagian belakang masjid, juga menara utama. Dinding bagian dalam masjid rusak ringan, dan beberapa bagian lantai marmer terkelupas.

Baiturrahman adalah sejarah Aceh yang bergolak. Semula bernama Masjid Raya, Baiturrahman didirikan pada 1614, ketika Aceh diperintah Sultan Iskandar Muda. Pada 1873, masa Perang Aceh yang gagah itu, masjid ini dibakar Belanda. Ketika itu Jenderal Kohler, pemimpin legiun Belanda, mati terbunuh. Tugu peringatan kematiannya dibangun sekitar 50 meter dari masjid, dan bertahan hingga kini.

Pada 1879, untuk merebut hati orang Aceh, Gubernur Belanda K. Van der Hayden mendirikan kembali masjid itu. Batu pertama diletakkan Teungku Malikul Adil, tokoh Aceh yang sudah berdamai dengan Belanda. Tembakan meriam 13 kali mengiringi awal pembangunan masjid.

Dua tahun kemudian, Masjid Baiturrahman selesai dibangun dan diserahkan kepada Teungku Syeh Marhaban, ulama Aceh berpengaruh yang dapat didekati Kompeni. Sebagian besar material dipasok dari luar Aceh. Kapur (zat perekat) didatangkan dari Malaya, batu dari Nederland, marmer dari Tiongkok, besi jendela dari Belgia, kayu kusen dari Birma, tiang besi dari Surabaya.

Menurut sejarawan Ibrahim Alfian, tak ada orang Aceh yang mau terlibat dalam pembangunan masjid itu. Belanda tak putus asa, mendatangkan orang Cina sebagai pekerja bangunan. Pemborongnya semula ditenderkan, tapi hanya seorang Cina bernama Lie A. Sie yang mendaftar dan menawarkan harga 203.000 gulden. Karena dibangun Belanda, ulama Aceh sempat mengharamkan orang salat di masjid itu.

Pada 1936, Gubernur Militer PPH Van Aken menambah tiga kubah pada Baiturrahman. Setelah rampung, masjid tampak seperti bangunan Eropa. Di bagian dalam pilar-pilar beton berbaris. Bagian dasar pilar berpadu hiasan sulur-sulur terbuat dari kuningan. Mimbar masjid dibuat dari kayu jati dengan ukiran sulur daun bunga teratai.

Setelah kemerdekaan, Gubernur Ali Hasymy yang penyair itu memperluas masjid dan menambah kubah menjadi lima?simbol Pancasila. Di masa Gubernur Ibrahim Hasan, dibangun dua kubah lagi. Kubah masjid yang bisa menampung 7.000 anggota jemaah ini pernah pula dimanfaatkan untuk memelihara burung walet, yang sarangnya dijual untuk membiayai pengelolaan masjid.

Sepanjang sejarahnya, beberapa kali Baiturrahman terbakar. Pada masa kekuasaan Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, 1675, masjid ini pernah
dimusnahkan kelompok wujudiyah yang tak setuju terhadap kepemimpinan perempuan di Aceh. "Tapi kemudian rakyat Aceh membangun kembali masjid, keraton, dan perpustakaan di sana," kata Ibrahim Alfian kepada Syaiful Amin dari Tempo.

Pasca-Orde Baru, halaman masjid pernah digunakan ribuan mahasiswa yang menuntut referendum. Di halaman masjid itu pernah berdiri papan pengumuman yang berisi permintaan jajak pendapat untuk menentukan nasib sendiri warga Aceh.

Waktu berlari, dan jantung masjid tak pernah berhenti berdetak. Hanya beberapa hari setelah tsunami itu, sepasang pengantin menikah di masjid tersebut.

Jam dinding di masjid itu kini memang tak lagi berdetak. Tapi tarikh bergerak?sepahit apa pun, segetir apa pun.

Arif Zulkifli, Nurlis E. Meuko, Fajar W.H., Yuswardi Suud (Banda Aceh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Habib Hussein Al Habsyi Laporkan Kasus Korupsi - 24 Jul 2008 | 12:48 WIB
Rumah Mewah Terbakar, 10 Anjing Tewas - 24 Jul 2008 | 12:35 WIB
JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data