Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXIII/24 - 30 Januari 2005
   
Olahraga

Raja Gurun yang Haus Gelar

Stephane Peterhansel telah mengumpulkan delapan gelar juara di ajang reli Dakar. Gaya hidupnya tetap sederhana.

Stephane Peterhansel tersenyum menyaksikan polah anak-anaknya. Dua bocah kesayangannya, Nicolas, 15 tahun, dan Melanie, 11 tahun, saling unjuk kebolehan menunggang kuda mengitari taman luas di belakang rumah mereka di Vesoul, Prancis. Lelaki 40 tahun ini sengaja menghabiskan hari-harinya sepanjang pekan lalu buat bersantai bersama keluarga.

Sebuah pelampiasan. Maklum, pembalap asal Prancis itu baru saja mengalami tekanan berat selama dua pekan lebih di ajang reli Barcelona-Dakar 2005. Peterhansel melukiskan, reli yang berakhir pada 16 Januari lalu ini amat berat, sulit, dan ketat hingga akhir.

Memacu mobil Mitsubishi Pajero bersama navigator Jean-Paul Cottret, ia mesti menaklukkan medan gurun sepanjang 8.956 kilometer. Di ajang yang keras ini, lima orang tewas dalam kecelakaan. Akhirnya Peterhansel tampil menjadi juara dengan waktu 52 jam, 31 menit, dan 39 detik. Dia ditempel ketat rival senegaranya, Luc Alphand (Mitsubishi), yang tertinggal 27 menit 14 detik. Adapun pembalap wanita asal Jerman, Jutta Kleinschmidt (Volkswagen), berada di tempat ketiga dengan selisih waktu 3 jam 22 menit.

Itulah gelar juara kedua yang diraih Peterhansel secara berturut-turut untuk kategori balap mobil. "Kemenangan ini membuktikan bahwa saya memang seorang pengemudi sejati, bukan sekadar bekas pembalap motor," katanya.

Sebelumnya, di ajang yang sama, ia sudah enam kali menjuarai balap motor, yakni pada 1991, 1992, 1993, 1995, 1997, dan 1998. Karena ketangguhannya, ia dijuluki si Raja Gurun. Peter menjadi satu dari dua pereli yang sukses menjadi juara di nomor motor dan mobil sekaligus, di samping pereli Ethiopia, Hubert Auriol, yang dua kali menjuarai motor dan sekali juara mobil. Dengan gelarnya yang kedelapan, Peter pun menjadi pemegang rekor juara terbanyak di ajang reli Dakar, mengalahkan Karel Loprais (Republik Ceko), yang pernah juara enam kali.

Kehebatan Peterhansel telah tampak sejak kecil. Lahir di Vesoul pada 6 April 1965, ia mulai suka ngebut pada usia delapan tahun. Kebetulan ayahnya yang seorang tukang ledeng membelikannya sepeda motor. Dia pun ikut dalam lomba-lomba kecil di kotanya, dua kali sebulan. Pribadi Peter juga tertempa oleh pendidikan kakek dan neneknya yang mengurusnya sejak kedua orang tuanya bercerai. "Mereka mengasuhku dengan sangat liberal," katanya seperti tertuang dalam situs resminya, Stephanepeterhansel.com.

Ketika berusia 12 tahun, Peter sempat tergila-gila pula pada olahraga skateboard yang mewabah di daerahnya. Dia menjadi juara nasional dan mewakili Prancis di Eropa. Peter mendapat pelajaran penting dari olahraga ini. "Saya belajar untuk mencurahkan waktu dan tenaga menjadi yang terbaik dan menggeluti sesuatu hingga ujungnya," ujarnya.

Tiga tahun kemudian, ia memutuskan berhenti total dari skateboard karena ingin mencoba tantangan baru. Pilihannya kembali pada balap motor. Dia nekat mengikuti berbagai lomba motor wilayah, meski belum cukup umur. Akibatnya, sering kali panitia mendiskualifikasi. Kendati begitu, Peter tak pernah kapok dan beberapa kali berhasil menipu panitia dengan memalsukan SIM milik ayahnya.

Sebuah langkah berani diambil saat ia berusia 17 tahun. Peter memutuskan berhenti sekolah agar bisa jadi pembalap profesional. Ayahnya sempat mengultimatum dan memberinya waktu setahun. "Kalau gagal, saya harus meneruskan usaha keluarga sebagai tukang ledeng," kata Peter mengenang.

Ancaman itu justru jadi pemacu. Dalam tempo setahun ia berhasil menjuarai berbagai kejuaraan tingkat wilayah. Bahkan Peter mendapat sponsor pertamanya dari sebuah perusahaan kecil di Prancis. Dengan dukungan dana ini, ia bisa hidup mandiri di apartemen di kotanya. Saat berlomba, kekasih yang kelak jadi istrinya, Corrine, setia menungguinya. Sang kekasih selalu membersihkan sepatu dan helm Peter dan merangkap sebagai manajer keuangan.

Peluang emas akhirnya datang pada akhir 1987. Saat berusia 22 tahun, ia dikontrak Yamaha untuk terjun di reli Dakar. Betapa bungahnya Peter. Apalagi, di ajang ini ia sempat setenda dengan pembalap idolanya, André Malherbes, juara dunia motocross. Saat berlomba, idolanya itu mengalami kecelakaan parah di hari kedua. Peter sendiri hanya berada di urutan ke-18.

Pada tahun berikutnya, Peterhansel memperbaiki prestasinya di posisi keempat. Prestasi ini semakin memacu semangatnya untuk berlatih dan belajar dari kesalahan. "Saya berusaha sebisa mungkin menghindari sentuhan dengan tanah dan menyentuh garis finish," katanya.

Ketekunan dan kesabarannya akhirnya berbuah. Impiannya menjuarai Paris-Dakar terwujud pada 1991. Kemenangan ini sekaligus mengangkat kejayaan Yamaha dan menggantikan dominasi Honda.

Prestasi itu juga mengantar Peterhansel menjadi selebriti. Ke mana dia pergi, orang-orang menyapanya. Undangan pun tak henti berdatangan. Tapi Peter justru lebih memilih menarik diri dari kehidupan glamor itu. Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya. Dia bahkan selalu menolak untuk segala jenis wawancara tentang kehidupan pribadinya.

Di arena reli Dakar, Peter terus-menerus menyebarkan pesona. Gelar juara diraihnya lagi pada tahun-tahun berikutnya, hingga enam kali. Saat meraih gelarnya yang keenam, 1998, Peter mengalami kecelakaan. Pergelangannya terkilir parah dan ototnya robek. Kendati begitu, ia bisa mencapai garis finish dan meraih gelar juara.

Kecelakaan itu membuat Peter memutuskan untuk berhenti membalap dengan motor. "Saya ingin mencoba dengan mobil," ujarnya tegas. Dia pun mencoba mengendarai Nissan pada tahun berikutnya. Hasilnya lumayan, Peter berada di urutan ke-7. Setahun kemudian, Peter meraih prestasi lebih baik, menjadi juara kedua.

Karena prestasinya yang kian mencorong, ia dikontrak oleh Mitsubishi pada 2002. Peterhansel sempat memimpin lintasan demi lintasan pada reli Dakar 2003. Tapi ia mengalami kecelakaan di etape akhir sehingga hanya berada di urutan ketiga. Kegagalan itu ditebusnya setahun berikutnya dan tahun ini.

Setelah dua kali menjadi juara untuk kategori mobil, ia justru tambah tertantang. "Saya sudah menang enam kali di atas motor dan saya ingin meraih gelar juara sebanyak itu pula dengan mobil. Tak akan mudah memang, tapi layak dicoba," katanya.

Hanya, kehidupan sehari-hari Peterhansel tak setinggi impiannya. Dia amat sederhana. Peter lebih senang menghabiskan waktu santainya dengan istri dan anak-anaknya di rumah. Selain memiliki taman yang luas dan kuda, ia juga mempunyai domba. "Saya kadang-kadang memandangi domba-domba yang digembalakan di belakang rumah atau membawa jalan-jalan anak-anak dan anjing memasuki hutan," ujarnya.

Nurdin Saleh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Keluarga Masih Menunggu Kabar Meninggalnya Sophan Sophian - 17 Mei 2008 | 11:46 WIB
Politikus Sophan Sophian Dikabarkan Meninggal - 17 Mei 2008 | 11:42 WIB
PAN Usul Gaji Pejabat Dipotong 30 Persen - 17 Mei 2008 | 11:00 WIB
Assegaf: Putusan Pemberhentian Todung Tidak Sah - 17 Mei 2008 | 10:29 WIB
Koantas Bima Tabrak Pejalan Kaki - 17 Mei 2008 | 09:35 WIB
Catatan Kecil Reformasi - 17 Mei 2008 | 09:34 WIB
Pengeroyokan Taruna Akpol Dibawa Ke Peradilan Umum - 17 Mei 2008 | 09:30 WIB
Truk Kontainer Menabrak Pembatas Jalan - 17 Mei 2008 | 09:21 WIB
KPU Jawa Tengah Siap Pemilihan Dua Putaran - 17 Mei 2008 | 09:15 WIB
Arab Saudi Tingkatkan Produksi Minyak - 17 Mei 2008 | 09:00 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data