Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXXIII/31 Januari - 06 Februari 2005
   
Luar Negeri

Boxer Si Pemberontak

Salah satu anggota Senat Amerika paling populer dan paling gigih menentang sejumlah kebijakan Presiden George W. Bush. Siapakah Barbara Boxer?

Baru beberapa pekan Senat Amerika memasuki persidangan Kongres ke-109 pada akhir tahun lalu, banyak yang bertanya begini: "Ada apa dengan Barbara Boxer?" Pada pekan pertama sidang, Boxer, 64 tahun, mempertanyakan sertifikasi hasil penghitungan suara pemilihan presiden pada November 2004 di Negara Bagian Ohio. Suara Boxer lantang: kecurangan telah terjadi. Meski 74 koleganya dari Partai Demokrat termasuk Senator Ted Kennedy dari Massachusetts dan Senator Hillary Rodham Clinton dari New York memilih mengakui keabsahan suara pemilu, Boxer tak surut semangat.

Dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri 18 Januari lalu, anggota senat ini kembali beraksi. Dia mencerca habis Condoleezza Rice dalam acara dengar pendapat yang memastikan posisi Condie sebagai Menteri Luar Negeri AS. Uraian Boxer yang panjang dan berapi-api hanya satu intinya: bahwa Condie, sang pembantu tersayang Bush, adalah pem-bohong besar.

Menurut Bu Boxer, karena argumen-argumen Condie selama inilah—sebagai Penasihat Keamanan Nasional Bush—tentara Amerika dikirim ke Irak dan kini menderita cobaan yang amat berat di negeri itu. Hingga hari itu tercatat telah 1.366 tentara Amerika tewas dan lebih dari 10.372 luka-luka.

Panas dihantam Boxer, berkali-kali Condie meminta dia agar menghentikan serangannya. "Kita dapat melanjutkan diskusi ini sesuka Anda," kata Condie. "Tetapi janganlah sekali-kali Anda meragukan integritas saya."

Boxer tidak peduli. Bagai petinju, dia terus melancarkan jab-jab tajam pada Condie Rice. Dia menentang nominasi penasihat Bush itu untuk pos Menteri Luar Negeri AS dan meminta perdebatan itu diteruskan di sidang paripurna. Sia-sia, memang. Seperti yang sudah diduga, Condie Rice resmi disumpah sebagai menteri pada Rabu pekan lalu. Dia mendapat dukungan suara 85-13 dalam sidang paripurna Senat. Tetapi, setidaknya Boxer boleh berbangga karena 13 suara yang menentang itu mencerminkan sikap oposisi terbesar yang pernah diberikan kepada seorang calon Menteri Luar Negeri sepanjang sejarah Amerika.

Sebagai anggota Senat, Boxer adalah salah satu yang paling populer. Tiga kali berturut-turut dia terpilih mewakili Negara Bagian California (dengan dukungan 57,8 suara, dukungan terbesar yang pernah diperoleh seorang senator), Boxer mengaku tak lagi asing dengan konflik. "Saya tak takut berjuang sendirian," ujarnya kepada para pendukungnya.

Pada 1991, Boxer pernah memimpin enam anggota DPR Amerika memprotes nominasi Clarence Thomas sebagai Jaksa Agung. Pasca-serangan teroris 2001 di New York dan Washington, Boxer juga serius menyerukan perbaikan intelijen dan keamanan nasional. Sejak masa itu pula ibu dua anak dan nenek seorang cucu ini menjadi seorang leading advocate untuk perihal keselamatan penerbangan sipil dari ancaman serangan rudal panggul.

Walau tentangan kerasnya terhadap Condie mendatangkan banyak tanda tanya, Boxer menegaskan tidak ada yang bersifat pribadi. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya, seperti yang biasanya," kata dia. Bekas wartawan era 1970-an ini justru merasa gerah duduk di kursi Senat apabila tidak mengkonfrontasikan Condie Rice dengan situasi di Irak. "Rakyat Cali-fornia tahu pasti apa yang saya perjuangkan," ujarnya. Faktanya, di antara korban tewas tentara Amerika di Irak, seperempatnya berasal dari California.

Wuragil (CS Monitor, The Nation, SHNS, LA Times)



Duel Dua Wanita

Boxer Berkata:
"Saya tidak akan ragu mempertanyakan perang yang dibangun bukan di atas kebenaran."

"Mungkin pernyataan paling terkenal yang pernah Anda buat adalah tentang Saddam Hussein yang membangun persenjataan nuklir. Anda memberikan bayangan yang mengerikan kepada rakyat Amerika apabila Saddam tak segera ditumbangkan."

"Saya akan mengungkapkan kembali sejumlah pernyataan lain yang juga tak konsisten dengan fakta maupun kebenaran."

"Secara pribadi, saya meyakini loyalitas terhadap misi yang Anda emban mengalahkan penghargaan Anda kepada kebenaran."

Rice Menjawab:
"Senator, saya tak pernah kehilangan penghargaan saya terhadap kebenaran dalam tugas apa pun. Itu bukan sifat saya, dan saya berharap kita dapat melanjutkan diskusi ini..., tanpa perlu meragukan kredibilitas atau integritas saya."

Boxer:
"Saya tak meragukannya. Saya hanya mengutip apa yang pernah Anda katakan. Anda menyangkal Presiden dan Anda menyangkal diri Anda sendiri."

Rice:
"Senator, saya senang sekali melanjutkan diskusi ini. Tapi saya sungguh berharap Anda tak menganggap saya meremehkan kebenaran."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Habib Hussein Al Habsyi Laporkan Kasus Korupsi - 24 Jul 2008 | 12:48 WIB
Rumah Mewah Terbakar, 10 Anjing Tewas - 24 Jul 2008 | 12:35 WIB
JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data