|
KUBURAN biasanya dibangun setelah orang mati. Tapi Anton Medan, 47 tahun, justru menyiapkannya ketika masih segar-bugar. Bekas napi Pulau Buru yang kemudian tobat menjadi mubalig ini telah membangun sepetak kuburan bagi dirinya sendiri sejak Juli tahun silam. "Orang mati bisa kapan saja. Coba kalau tiba-tiba kena tsunami," ujarnya saat bersama Tempo menyambangi calon kuburannya, pekan lalu. Bakal makam Anton itu terbujur di satu sudut halaman Pondok Pesantren At-Ta'ibin di Cibinong, Bogor. Luasnya 12 meter persegi berpayung pendapa dengan lantai dan nisan keramik hitam dan abu-abu. Di samping kuburan itu, tegak Masjid Jammi Cuang Kok Liangini nama Tionghoa Antontapi masih tahap fondasi.
Ihwal makam itu sempat ditentang para ustad. Mereka khawatir kuburan itu akan dijadikan tempat keramat. "Fikihnya kan enggak ada yang melarang," ujar Anton. Menurut dia, kalau orang sudah siap mati, artinya tidak akan macam-macam, termasuk mengeramatkan makam. "Dunia boleh dicari, akhirat jangan dilupakan," ujarnya sembari terkekeh di samping makam.
|