Juragan Baru Para Pekerja Pemerintah akan melantik direksi baru PT Jamsostek. Iwan Pontjowinoto bakal menggantikan Achmad Djunaidi. |
DIREKSI empat perusahaan negara kini tengah berdebar menunggu keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Sugiharto. Dua pekan terakhir, bertiup kabar dari Lapangan Banteng, tempat Sugiharto berkantor, Menteri akan mengganti direksi Pertamina, Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, dan Jamsostek.
Tak mengagetkan jika dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi BUMN DPR RI, Rabu pekan lalu, Sugiharto dicecar pertanyaan tentang rencana pergantian itu. Selama hampir empat jam, tak terhitung pertanyaan yang diajukan anggota DPR. Sebagian besar mempertanyakan tidak adanya proses uji kelayakan sebelum pergantian dilakukan.
Rapat akhirnya ditunda hingga Selasa pekan ini. Usai rapat, Sugiharto menjelaskan, kementeriannya sudah melaksanakan uji kelayakan sejak akhir tahun lalu. Ada tiga jenis tes yang dijalani para kandidat, yakni uji kompetensi, tes psikologi, dan pengamatan moral. Tes itu juga melibatkan konsultan luar.
"Semua anggota direksi harus melalui tes tadi guna menghindari konflik kepentingan saya atau jajaran saya," kata Sugiharto. Hasilnya, sudah ada sejumlah nama yang siap mengisi posisi di empat BUMN, di luar Pertamina. Proses seleksi kini sudah memasuki tahap akhir, yaitu pengambilan kesimpulan.
Satu nama yang melejit di bursa direksi BUMN ini adalah Iwan Pontjowinoto. Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah ini dikabarkan akan menggantikan Achmad Djunaidi sebagai Direktur Utama Jamsostek. Iwan meninggalkan para "calon kuat" lain seperti Tjarda Muchtar, mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar, yang diusung Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris. Calon kuat lainnya adalah Djoko Sungkono, Direktur Operasi dan Pelayanan Jamsostek periode 2000-2004.
Namun Fahmi Idris menolak dikatakan menjagokan koleganya, Tjarda Muchtar. Ia justru mempercayakan sepenuhnya pemilihan direksi baru BUMN yang menjadi tumpuan nasib para pekerja ini ke kantor Menteri Negara BUMN. "Saya tidak punya jagoan," katanya.
Seorang calon yang enggan disebut namanya bercerita, tes direksi Jamsostek memang sudah final. Dia sendiri mengikuti tes itu pada akhir Desember tahun lalu. "Calon terkuat memang Iwan Pontjowinoto, dan akan dilantik pada Senin pekan ini," kata sumber Tempo yang tak mau disebutkan namanya.
Iwan Pontjowinoto menolak menanggapi kabar dia akan memimpin BUMN beraset Rp 32 triliun itu. Tapi dia bersedia berbagi cerita jika pengumuman direksi baru BUMN yang mengelola uang 22 juta pekerja ini sudah digaungkan Menteri. "Saya jangan ngomong dululah," katanya. "Saya ini bersahabat dengan Sugiharto, jadi tidak mau bikin susah."
Kedekatan Iwan dengan Sugiharto memang bukan cerita baru. Di organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), masing-masing duduk sebagai ketua umum dan bendahara umum. Keduanya juga bersanding di PT Tanmiah Al-Azhar, yang membangun dan mengelola sebuah gedung baru di kompleks Masjid Al- Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Iwan sebagai direktur utama, sedangkan Sugiharto anggota Dewan Penyantun.
Jamsostek juga bukan barang baru bagi Iwan. Pada 1998-1999, ketika menjadi Direktur Utama PT Danareksa Fund Management, ia penasihat investasi PT Jamsostek. "Ketika itu saya mengusulkan direktur investasi dipisah dengan keuangan, tidak digabung seperti sekarang," katanya. Dia juga mengusulkan portofolio investasi Jamsostek diubah: lebih banyak ke investasi saham dan deposito, karena menguntungkan secara jangka panjang. Inikah tanda-tanda Iwan bakal duduk di kursi nomor satu Jamsostek?
M. Syakur Usman
|