|
Hormon Pengemudi
Jangan serahkan urusan membaca peta dan memarkirkan mobil kepada perempuan. Kaum hawa ternyata lebih sulit melakukan kedua hal tersebut ketimbang pria. Meski terkesan diskriminatif, setidaknya itulah hasil penelitian sementara dari Universitas Giessen, Jerman, yang diterbitkan jurnal Intelligence, akhir bulan lalu.
Para peneliti menyebut perempuan memiliki sedikit testosteron—hormon yang mempengaruhi kemampuan menganalisis ruang dan tempat. Uji spatial, angka, dan verbal dilakukan pada 40 orang. Hasilnya, para pria unggul dalam kemampuan spatial, sedangkan perempuan lebih untuk kemampuan verbal dan emosi.
Dr Nick Neave, psikolog Universitas Northumbria, memperkirakan tingkat testosteron mempengaruhi cara kerja otak. ”Pria bisa menghafal jalan di kepala, sedangkan perempuan perlu petunjuk. Pria kemungkinan lebih mudah menemukan kendaraan meski diparkir di tempat yang luas. Demikian juga dengan kemampuan mengemudi dan parkir.”
Namun para peneliti mengakui hasil mereka masih terbatas. Mereka belum memperhitungkan siklus menstruasi yang sangat mempengaruhi keseimbangan hormon pada perempuan.
Plastik dari Kulit Jeruk
Kebiasaan membuang kulit jeruk setelah menyantap buahnya perlu Anda pertimbangkan kembali. Siapa tahu Anda membutuhkan plastik berkualitas. Para peneliti dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, menemukan cara membuat plastik berbahan kulit jeruk dengan bantuan gas karbon dioksida (CO2).
Hasil penelitian yang diterbitkan Journal of the American Chemical Society ini menyebut plastik merupakan jenis polimer, molekul (organik) yang berbasis kar-bon. Adapun di kulit jeruk terdapat limonene, molekul karbon yang meliputi 95 persen minyak yang ada di kulit jeruk.
Geoffrey Coates, pimpinan tim itu, mengatakan dalam penelitian ini mereka menggunakan turunan dari minyak ini, yang disebut limonene oxide. Untuk mempercepat proses, digunakan katalisator agar limonene oxide ini bereaksi dengan CO2 dan membentuk polimer baru yang disebut polylimonene carbonate. Polimer ini memiliki karakteristik polystyrene yang banyak digunakan untuk produk plastik. ”Dari bahan baru ini kemungkinan kita bisa membuat plastik yang kualitasnya lebih bagus,” kata Coates.
Robot Serdadu
Tentu saja bukan semata-mata kehilangan ribuan tentara di Irak, jika Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengembangkan teknologi robot sebagai mesin perang. Robot yang disebut Special Weapon Observation Reconnaissance Detection System (SWORD) ini dirancang mampu menembakkan senjata. Sebelumnya, AS hanya menggunakan robot untuk tugas pengintaian seperti yang dilakukan di Afganistan. Satu-satunya robot bersenjata yang pernah digunakan AS adalah senapan pengganggu sinyal pada robot penjinak bom dan ranjau.
Serdadu robot ini bertinggi 1 meter, dilengkapi tiga kamera di bagian depan, belakang, dan untuk senapan, serta mikrofon dan baterai lithium ion untuk operasi 4 jam. Senjata yang bakal dipasang di robot yang mampu berlari 6,6 kilometer per jam ini adalah senapan M240 atau M249. Bahkan rencananya si robot dimungkinkan memanggul peluncur roket dan granat.
Namun ibarat pepatah, sepandai-pandai robot menembak, penarik picu dan penetapan target toh manusia juga. Ini dilakukan melalui sebuah unit pengontrol operasi. ”Kami lebih menyukai kendali otomatis, namun pengguna robot ini menyukai kendali manual,” kata juru bicara perusahaan alat perang Foster-Miller, yang mengembangkan robot. Rencananya, pemerintah AS segera mengirimkan 18 jenis robot perang ini pada Maret atau April mendatang.
|