|
|
| |
Edisi. 50/XXXIII/07 - 13 Februari 2005
|
|
Kembalinya Si Buta dari Gua Hantu
Angin berembus menderu-deru. Di puncak bukit, di bawah sinar bulan, tampaklah seorang laki-laki buta tegak. Kadang-kadang terdengar helaan napasnya yang hanyut tertiup angin. Hidupnya terasa sunyi. Kawan satu-satunya hanyalah monyet kecil setia…. Tahun 1970-an, komik Si Buta dari Gua Hantu begitu menggema. Zaman berubah, komik-komiknya menjadi barang langka. Kini, sebuah upaya penerbitan ulang seri komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes T.H. dilakukan oleh komunitas pencinta komik. Ikutilah sajian Tempo mengenang kembali seri-seri pengembaraan musafir buta yang nama aslinya Barda Mandrawata itu.
|
|
Menggempur Kebatilan sampai Donggala
|
|
Seniman Komik dari Jembatan Lima
Ia bukan jago silat, tapi cerita-ceritanya tentang sosok jagoan. Ia lemah lembut dan penyabar.
|
|
Dari Cerita Para Kolektor
Sejak di sekolah dasar mereka sudah biasa melahap banyak komik. Setelah dewasa, mereka menjadi kolektor, bahkan mendirikan perkumpulan para kolektor.
|
|
Sang Pendekar di Layar Lebar
Dari sosok Ratno Timoer, Barda Mandrawata menjelma di tubuh Hadi Leo. Sinetron baru kini tengah disiapkan. Si Buta adalah satu inspirator bagi dunia film.
|
|
Antara Dua Jagoan Buta
Keduanya punya banyak persamaan. Sama-sama buta, tapi ada sejumlah karakter Si Buta yang tak dimiliki Zatoichi.
|
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

|
|
| |
|
|
|
|