|
Di zaman Orde Baru, Badan Intelijen Strategis (Bais) merupakan lembaga intelijen yang tampak moncer ketimbang Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Apalagi di masa Jenderal L.B. Benny Moerdani, pemegang tampuk pimpinan ABRI (1983-1988), memimpin langsung lembaga ini.
Maklumlah, cikal-bakal lembaga ini, Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat), yang berada di bawah Komando Mabes ABRI, juga telah dipimpin Benny sejak 1977. Begitu Benny menjadi Panglima ABRI, Pusintelstrat ditingkatkan perannya dan namanya diubah menjadi Bais.
Bais menjadi penyaring semua kegiatan, termasuk melakukan screening untuk para calon anggota DPR/MPR, calon pejabat tinggi negara, diplomat, sampai para pejabat BUMN.
Sejak Panglima ABRI beralih ke tangan Jenderal Feisal Tanjung, peran Bais secara berangsur mulai dikurangi. Diawali dengan rencana perubahan nama dari Bais menjadi Badan Intelijen ABRI (BIA) seusai Sidang Umum MPR Maret 1993.
BIA diharapkan berperan sebatas memberi saran bagi tindakan pencegahan terhadap gangguan stabilitas politik, ekonomi, dan sosial.
Setelah reformasi, peran BIA yang kemudian kembali lagi dengan nama Bais mulai redup. Giliran Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) yang menjadi tampak berkibar. Tugas Bakin sebenarnya lebih koordinatif saja sifatnya. Ketika A.M. Hendropriyono menjabat bos Bakin, nama Bakin berganti menjadi Badan Intelijen Negara (BIN). Lembaga itu kini sedang banyak dibicarakan orang ramai karena telah dan mungkin masih akan terjadi pergantian para pejabat yang ada di dalamnya.
|