Tentang Melly Sepuluh tahun karier Melly Goeslaw disemarakkan dengan peluncuran cerpen, album solo, dan film layar lebar. Niat konser tunggalnya masih mengalami hambatan. |
Melly Goeslaw adalah badai musik berwujud manusia. Sepuluh tahun lalu ia datang menggulung cara pandang industri musik pop Indonesia yang sudah setua situs purba: bahwa perempuan adalah obyek. Entah dalam syair, entah di panggung sebagai manekin indah yang harus memiliki tubuh sebening kristal. Melly kemudian menjungkirbalikkan semua itu dengan syair-syair ”sinting” dalam lagu-lagu bersama kelompok Potret. Bertahun kemudian, Melly kemudian menjadi pencipta lagu—sekaligus penyanyi—yang paling dicari oleh para penyanyi besar. Tak ada album besar tanpa lagu ciptaan Melly.
Itulah sebabnya 10 tahun perjalanan kariernya memang layak dirayakan besar-besaran. Tiga bulan terakhir ini, setiap tanggal 10, Melly Goeslaw seolah bersalin rupa menjadi seniman serba bisa. Dimulai ketika ibu dua anak ini berperan sebagai penulis cerpen saat melepas antologi Arrrrrgh… pada bulan Desember. Lalu pada 10 Januari, album solonya yang berjudul Intuisi beredar. Dan 10 Februari lalu, film Tentang Dia yang dibesut sutradara Rudi Soedjarwo, berdasarkan cerpen Melly dengan judul sama, dirilis oleh rumah produksi SinemArt.
Ada apa dengan tanggal 10? ”Enggak, dong. Ini cuma rangkaian acara sepuluh tahun saya berkarya. 10 Maret nanti enggak ada apa-apa.” Ia terdiam sebentar, sebelum sinar jail di matanya berpendar. ”Tapi konser tunggal saya bisa saja berlangsung 10 Mei, atau 10 Juni….” Ia terkikik.
Sepuluh tahun silam, Melly menggebrak dunia musik Indonesia dengan ringan. Ia memperkenalkan sudut pandang terbalik: kurayu dirimu/kupikat hatimu/kubuai anganmu/kamu pun terbujuk (Terbujuk). Pendengar musik pop terperangah, kok bisa syair seperti ini muncul di tengah masyarakat patriarki, yang percaya bahwa posisi perempuan adalah swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka turut). Ataukah ini hanya kegenitan seorang penyanyi baru yang kebetulan berasal dari wilayah gender perempuan?
Setahun kemudian, Melly kembali berdendang riang: aku tak sebaik kau pikir/tak pernah kunantikan kamu/kucinta kamu bukan berarti ku tak mendua (Salah). Makin terlihat jelas bahwa perempuan, di syair Melly, tak lagi sekadar obyek dalam relasinya dengan lelaki. Perempuan menjadi subyek yang sah-sah saja mempermainkan pria, tak perlu setia, bahkan kalau perlu, berlaku busuk. So what?
Dengan modal dua hit yang dibungkus musik minimalis garapan sang suami Anto Hoed (bas, piano, gitar) dan Arie Ayunir (drum, tapi sejak tahun 2000 posisinya digantikan Aksan Sjuman), serta tata rias ekspresif yang sebelumnya hanya digunakan pemain teater, demam Melly mewabah di seluruh negeri.
Tiba-tiba para penyanyi yang lebih dulu tampil seperti Kris Dayanti, Titi D.J., atau Ruth Sahanaya merasa kurang percaya diri bila belum membawakan lagu yang khusus diciptakan oleh perempuan berdarah Ambon-Sunda yang lahir 31 tahun silam ini. Ia bahkan menjadi ”penyelamat” karier Ari Lasso, vokalis yang ditendang Dewa, saat mengajak Ari berduet di lagu Jika (1999).
Saking produktifnya, bahkan sekarang setelah beranak dua, dalam sebulan Melly menyelesaikan lima lagu dengan aransemen lengkap. Resepnya dalam memancing ide ternyata sederhana: sering menonton film dan membaca novel horor-misteri dan sepiring rujak pedas. ”Sehari tanpa makan rujak, saya bisa pusing tujuh keliling dan enggak karuan,” katanya kepada Tempo, yang mengikutinya seharian.
Berapa harga lagu Melly setelah jadi? Ia enggan menjawab. Namun majalah Swa edisi 26 Mei 2004 menulis, pada 2003 saja Melly menghasilkan sekitar 40 lagu yang harganya dibanderol rata-rata Rp 50 juta per lagu.
Akibat produktivitasnya, sebagian kalangan mulai menyebutnya sebagai Titiek Puspa baru. Sama-sama tak paham notasi musik, tak bisa memainkan satu pun instrumen, namun selalu menghasilkan lagu hit. Mereka yang meragukan musikalitasnya berpendapat, peran Anto Hoed dalam semua karya Melly sebanding dengan peran Mus Mualim terhadap Titiek Puspa. ”Sebelum bertemu Anto, saya sudah menulis lagu. Tapi memang, dengan Anto sebagai suami dan partner musik, lagu-lagu saya menjadi lebih solid,” katanya.
Problem baru muncul. Orisinalitas karyanya mulai dipertanyakan. Terutama setelah majalah ini menemukan kemiripan pada refrain lagu Ada Apa dengan Cinta? (2002) dengan Liebeslied (Lagu Cinta), gubahan komponis Austria Fritz Keisler (1875-1962) yang dimainkan violis Jepang Tomoko Kato di album Peaceful (lihat ”Tersandung karena Memori”, Tempo, 19 Mei 2002). ”Saya stres sekali waktu itu, sampai empat malam enggak bisa tidur,” Melly mengaku karena dia memang belum pernah mendengar lagu itu.
Ia berburu album Tomoko ke Singapura. Gagal. Dua bulan kemudian Melly baru mendapat album itu dari label tempatnya bernaung, Aquarius Musikindo. ”Gila! Ternyata memang mirip banget. Enggak salah juga kalau orang yang sudah mendengar (Tomoko) bilang saya menjiplak. Tapi saya tidak melakukan (penjiplakan) itu. Terlalu besar harga yang harus saya bayar kalau melakukan itu,” katanya. Meski begitu, setelah mendengar Liebeslied, Melly justru merasa puas karena ia merasa lebih mengerti duduk soalnya. Ia juga setuju dengan musisi Indra Lesmana, bahwa meski lagu itu memang bermelodi sama, lagu Ada Apa dengan Cinta? mempunyai ketukan nada yang berbeda. Ia juga duduk bersama musisi Addie M.S. dan Erwin Gutawa, dua musisi yang dikutip oleh majalah ini, untuk meluruskan persoalannya.
Di lain pihak, Melly mengakui inspirasi bukanlah hal yang diperolehnya secara eksklusif. Ia bisa memetiknya di mana saja. Dengarlah Tak Tahan Lagi di original sound track (OST) film Eiffel, I’m in Love. Degup synthesizer dan loop yang berkejaran saling menggunting, tak bisa tidak mengingatkan pada aransemen musik khas duo ABG asal Rusia, Tatu. ”Ya. Beat Tatu memang jadi referensi utama,” ujarnya.
Atau simak Tak Mau Putus di album terbarunya yang kental dengan polesan gitar lembut dan teduh ala Kings of Convenience. Lagi-lagi Melly mengangguk. ”Saya memang sedang suka dengan band itu. Saya sudah capek dengan warna punk, atau distorsi seperti Muse,” ujarnya. Namun bukan hanya pengaruh band lain yang membentuk musik Melly. Celoteh anak pertamanya, Ale (Anakku Lelaki Hoed), pun bisa disulap Melly menjadi interlude lagu Lelaki Idaman.
Pengamat musik Denny Sakrie mencatat, meskipun lagu Melly bermunculan, kualitas syairnya tak sematang dulu. ”Yang jelas, keliarannya berkurang,” kata Denny. Mengenai ini, Melly berkomentar bahwa ketika dia tampil sendiri sebagai Melly atau menulis untuk penyanyi lain, liriknya cenderung konvensional, tapi jika mencipta untuk Potret, dia tetap muncul ”liar”.
SETELAH merambah dunia musik, cerpen, dan skenario film, sudah puaskah Melly dengan pencapaiannya di dekade pertama kariernya ini? ”Sebetulnya saya tak begitu suka musik. Yang membuat saya enjoy itu justru menulis,” ujarnya. Menulis yang dimaksud Melly adalah membuat cerpen. ”Saya tak punya niat menulis novel,” katanya.
Namun, berbeda dengan keliaran Melly dalam menulis syair lagu, bagi penulis cerpen remaja Gola Gong, cerpen-cerpen Melly Goeslaw dalam Arrrrrgh… lebih pantas disebut sebagai draf yang butuh banyak revisi. ”Anggap saja Melly sedang refreshing, untung ia layak dijual oleh penerbit. Kalau bukan Melly, wallahualam,” ujar mantan penulis cerpen remaja era 90-an yang menelurkan Balada Si Roy ini.
Komentar lebih gamblang datang dari sastrawan Ramadhan K.H., seperti diungkap Melly sendiri. ”Setelah menerima draf saya, Om Ramadhan menulis dalam huruf besar-besar ’Betulkan dulu ejaan-ejaannya, huruf besar dan kecilnya harus rapi,’” katanya tertawa. Komentar tajam itu justru dipasang Melly di bagian depan cerpennya. Namun lain komentar sastrawan, lain pula kenyataan di lapangan. Sampai akhir Januari 2005, antologi yang diterbitkan penerbit Gagas Media ini sudah mengalami lima kali cetak ulang.
Kini Melly masih menyimpan mimpi menggelar konser tunggal. ”Tapi bukan dalam konsep beauty seperti penyanyi lain. Saya ingin lebih teatrikal,” ujarnya seraya menyebut contoh konser ketika pianis-penyanyi Tori Amos dikurung dalam sebuah akuarium kaca yang dipenuhi ular. ”Ternyata sulit sekali mencari promotor dan sponsor yang mau melihat konser sebagai pentas ide, bukan pentas kecantikan,” ujarnya separuh mengeluh. Jika tak ada sponsor yang mampu melihat dinamit dalam tubuh Melly ini, berarti mereka buta.
Akmal Nasery Basral
Melliana Goeslaw
1974
Lahir tanggal 7 Januari
1987:
Penyanyi tamu di album Elma Theana
1989:
Juara III Festival Penyanyi Populer Indonesia
1992:
Juara I Cipta Pesona Bintang RCTI, Juara I Asia Bagus (Singapura)
1993-1995:
Penyanyi latar Kris Dayanti, Ita Purnama Sari, Nicky Astria, Armand Maulana, God Bless, Katon Bagaskara
1995:
Mendirikan grup Potret bersama Anto Hoed dan Arie Ayunir
1999:
- Artis Dengan Interpretasi Terbaik (lagu Diam) dalam Grand Final Karya Cipta Video Musik Indonesia (KCVMI)
- Lagu Terbaik Kategori Alternatif-Ska (Diam)
- Album Terbaik Kategori Alternatif-Ska (Café Potret)
2002:
Lagu Terbaik dan Lagu Rekaman Terbaik (Ada Apa dengan Cinta?) dari Anugerah Musik Indonesia-Sharp Awards
2003:
- Lagu Terbaik dan Lagu Favorit (Ada Apa dengan Cinta?) dari Planet Muzik Awards, Malaysia
- Merilis album OST Eiffel, I’m in Love
2004:
- Penata Musik Terbaik (OST Ada Apa dengan Cinta?), Festival Film Indonesia 2004
- Kumpulan cerpen Arrrrrgh…
2005:
- Album solo Intuisi
- Skor Musik Tentang Dia
|