Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXIII/21 - 27 Februari 2005
   
Film

Untuk Sebuah Kenangan

Charlie Kaufman kembali dengan skenario yang menyimpan banyak tantangan psikologis. Kate Winslet dan Jim Carrey dalam akting terbaik mereka.

ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND
Sutradara: Michel Gondry
Skenario: Charlie Kaufman
Pemain: Jim Carrey, Kate Winslet, Elijah Wood, Tom Wilkinson, Mark Ruffalo, Kirsten Dunst


BERAPAKAH harga sebuah kenangan? Apalagi yang berawal dari pertemuan sepele di sebuah gerbong kereta sepulang kerja? Alkisah, seorang wanita atraktif yang gemar bicara, Clementine Kruczynski (Kate Winslet), duduk di samping seorang lelaki dengan mulut hampir selalu terkunci, Joel Barish (Jim Carrey). Arus komunikasi berjalan tak seimbang, tentu saja.

Clementine tak mudah menyerah, apalagi Joel bukan tipe lelaki penggoda yang mudah meleleh matanya setiap melihat kening mulus. Clementine meminta Joel meneleponnya, sembari menabur wangi janji. Dan setelah beberapa percakapan yang intim, mereka jatuh cinta. Joel mulai terobsesi dengan kehadiran sang gadis. Ia membutuhkannya. Clementine tak mudah menyerah.

Sebaiknya waspadalah. Kita sedang menghadapi sebuah film yang ditulis Charlie Kaufman (Human Nature, Being John Malkovich, Confessions of a Dangerous Mind), seseorang yang memperlakukan skenario bak penjelajah di daerah tak bertuan. Ia akan mengeksplorasi apa saja, dengan segala risiko. Bahkan meski harus berputar, dan mengulang lagi semuanya dari titik awal. Dan itulah yang tersaji di layar.

Tiba-tiba sikap Clem terhadap Joel berubah, seakan-akan mereka tak pernah bertemu. Ia malah mempertontonkan kemesraan dengan pacar barunya, Patrick (Elijah Wood). Joel yang bingung belakangan tahu: Clem baru menjalani proses penghapusan memori di Klinik Lacuna Inc. milik Dr Howard Mierzwiak (Tom Wilkinson). Clem menghapus eksistensi Joel dari sel-sel kelabu di otaknya seperti menjentik abu rokok yang menempel di baju. Semudah itu.

Dengan rasa marah, jengkel, dan terhina, Joel pergi ke Lacuna. Ia berniat melakukan hal yang sama: menghapus Clem dari pikiran. Tapi sebuah musibah terjadi, staf teknologi yang bertanggung jawab atas penghapusan memori (Mark Ruffalo) malah bercinta dengan asisten sang doktor (Kirsten Dunst). Joel terombang-ambing dalam perangkap masa silam dan niat yang terus berubah-ubah: membuang, menyimpan, membuang, menyimpan, atau membuang saja kenangannya tentang Clem?

Sulit membayangkan Eternal Sunshine akan enak ditonton bila Michel Gondry tak duduk di kursi sutradara. Sebagai sineas dengan jam terbang tinggi di industri klip video (Björk, Chemical Brothers), Gondry memiliki konsep visual eksotis yang bergerak cepat, liar, namun tetap terjaga indah. Di beberapa bagian, ia memercikkan humor satir, sesekali romantik.

Untungnya, duet Kaufman-Gondry pernah bekerja sama dalam Human Nature. Kelemahan Human Nature pada akhir cerita, yang menjadi ciri khas semua skenario Kaufman karena terlalu idealistis sehingga gagap menghadapi ending, teratasi dengan rapi di Eternal Sunshine.

Menyenangkan sekali melihat Jim Carrey akhirnya terbebas dari belenggu peran komikal yang selalu mempertontonkan kelebihan energinya dalam bentuk slapstick (kecuali pada The Truman Show). Gondry memaksa Carrey menyalurkan ekspresivitasnya yang meluap-luap ke dalam batin, terus menumpuk, dan "meledak" dalam dramaturgi yang memikat.

Kate Winslet lebih luar biasa. Ak-tingnya menentukan ritme film seperti seorang yang sedang bermain layang-layang. Ia mengatur tempo. Improvisasinya bertenaga, meski semua dialog mengacu ketat pada skenario. Hasilnya, Winslet dicalonkan sebagai salah satu nomine aktris terbaik dalam Academy Awards (Oscar) yang berlangsung pada akhir Februari nanti. Pe-saingnya di kategori ini adalah Annette Bening (Being Julia), Catalina Sandino Moreno (Maria Full of Grace), Imelda Staunton (Vera Drake), dan Hilary Swank (Million Dollar Baby).

Dengan ensembel totalitas seperti ini, film yang judulnya diambil dari selarik sajak berjudul Eloisa to Abelard dari penyair Alexander Pope (1688-1744) itu terlalu berharga untuk dilewatkan. Entah atas dasar penghormatan untuk sebuah kenangan, entah karena penghargaan untuk sebuah karya sinema.

Akmal Nasery Basral


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data