Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXIII/21 - 27 Februari 2005
   
Luar Negeri

Kami Tidak Akan Menjiplak Iran

Dia pernah divonis hukuman mati di masa gelap itu. Tetapi kini, kemenangan Aliansi Irak Bersatu dalam pemilu 30 Januari tak lepas dari peran sosok ini: Jawad al-Maliki. Lelaki yang pernah dijatuhi hukuman mati oleh Saddam Hussein pada 1979 ini adalah salah satu tokoh yang paling banyak dikutip wartawan asing selama pemilu. Apalagi Partai Dakwah Islamiyah (PDI) yang dipimpinnya sebagai salah seorang ketua menjadi salah satu pilar terkukuh Aliansi Irak Bersatu. Ketua Umum PDI, Ibrahim Jaafari, yang saat ini menjabat wakil presiden pemerintahan ad-interim, disebut-sebut sebagai calon kuat perdana menteri mendatang.

Di sebuah ruangan kantor dekat pangkalan udara militer, Al-Maliki menerima Tempo untuk sebuah wawancara khusus. Ia menyodorkan kartu nama yang tertulis di sana: Nuri Kamal Muhammad Hasan. Jabatan: Wakil Pertama Dewan Revolusi Islam Irak. Ia segera menyadari kebingungan Tempo. ”Itu nama asli saya. Jawad al-Maliki adalah nama rahasia untuk menghindari pembunuhan Saddam.” Berikut ini petikannya.

Aliansi Irak Bersatu yang didukung partai Anda akhirnya menang pemilu. Komentar Anda?

Alhamdulillah, kami didukung 60 persen masyarakat Syiah, dan pemilu berjalan baik tanpa pertikaian di antara pemilih.

Apakah Aliansi ini hanya untuk kaum Syiah?

Kami tidak beraliran pada sekte atau salah satu kaum. Tidak ditekankan bahwa Syiah harus memimpin Sunni. Kami tidak akan mengulangi pengalaman saat Sunni memimpin Syiah. Kami akan bekerja sama dengan semua pihak yang menghargai martabat dan kepentingan rakyat Irak dalam fase baru ini.

Soal hukum Islam, apakah Irak baru akan dibentuk seperti Iran?

Hukum Islam itu dasar konstitusi. Tapi kami yakin tidak harus menjiplak negara tertentu. Setiap negara memiliki kepribadian serta keistimewaan dan identitas masing-masing. Kami tidak akan menjiplak Iran, Mesir, Suriah, atau Arab Saudi. Faedah dari setiap negara akan kami ambil, dan disaring agar sesuai dengan kepribadian rakyat Irak.

Bagaimana konsep membangun kembali ekonomi Irak?

Saddam Hussein meninggalkan banyak utang, meski ada beberapa negara memberikan keringanan. Tetapi di situ ada beberapa syarat yang berkaitan dengan produksi minyak yang menjadi sumber devisa Irak. Perbaikan infrastruktur industri juga menjadi prioritas, dibarengi dengan perbaikan penggunaan anggaran negara. Lalu menggalang kerja sama ekonomi internasional.

Bagaimana bentuk pemerintahan yang diinginkan nantinya?

Kami tidak keberatan dengan sistem federal. Di dunia ini banyak negara federal seperti Amerika Serikat, Emirat Arab, atau Swiss, yaitu federal administrasi di bawah administrasi pusat. Tapi, jika federasi (berdasarkan etnis/agama—Red.) seperti Syiah, Sunni, Kurdi atau Arab, itu akan menjadi problem. Bukan itu yang kami maksud.

Kalau (federasi) berdasarkan geografi, oke. Misalnya untuk setiap tiga provinsi seperti Karbala, Najaf, dan Hilla menjadi satu negara federal. Lalu Basrah, Nasiriyah, dan Amarah menjadi satu negara federal lainnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Peradi Nilai Todung Mulya Lubis Langgar Etika - 16 Mei 2008 | 17:12 WIB
Pemimpin Agama se Asia Serukan Perangi Terorisme - 16 Mei 2008 | 16:56 WIB
Tunda Usut Korupsi, Kepala Kejaksaan Tinggi Akan Dicopot - 16 Mei 2008 | 16:53 WIB
Korban Lumpur Lapindo Mogok Makan - 16 Mei 2008 | 16:45 WIB
Warga Malaysia Ditangkap Bawa 35 Ribu Pil Ekstasi - 16 Mei 2008 | 16:25 WIB
BUMN Lalu Lintas Udara Dibentuk - 16 Mei 2008 | 16:23 WIB
Intel dan IM2 Bantu Pendidikan - 16 Mei 2008 | 16:22 WIB
Anggaran Infrastruktur Akan Naik 14 Persen - 16 Mei 2008 | 16:20 WIB
Dua Tewas Dalam Pawai Obor Pattimura - 16 Mei 2008 | 16:11 WIB
Purwakarta Padam Listrik - 16 Mei 2008 | 15:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data