Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXIV/14 - 20 Maret 2005
   
Laporan Utama

Memburu Emas Hitam

Shell membantah mencuri data Ambalat. Perairan itu sangat disukai para nelayan.

KETIKA "gesekan" Indonesia-Malaysia meruncing di Laut Sulawesi, sulit menghindari godaan mempertanyakan kekayaan terpendam di perairan itu. Apalagi kedua negara mengklaim blok minyak di wilayah yang bertindihan tersebut.

Sebetulnya, lokasi blok minyak itu tak persis sama (lihat infografis). Indonesia menamakan wilayahnya Blok Ambalat, dengan luas sekitar 6.700 kilometer persegi. Bagian barat dikelola oleh ENI Ambalat Ltd. (Italia), dan bagian timur dioperasikan Unocal Indonesia Ventures Ltd. (Amerika Serikat). Belakangan, bagian ENI disebut Blok (ENI) Ambalat, dan daerah Unocal disebut Blok Ambalat Timur.

Penguasaan Malaysia mencakup daerah yang lebih luas, 25.700 kilometer persegi atau hampir seluas Provinsi Sulawesi Utara. Namanya Blok ND 6 dan ND 7, yang dulu sempat dinamakan Blok Y dan Z. Kini keduanya dioperasikan Shell (Belanda) bersama Petronas Carigali Sdn. Bhd. (Malaysia).

Media massa sibuk menerka, jutaan barel minyak terkandung di daerah laut dalam itu. Konon, jumlahnya menyaingi cadangan minyak dan gas raksasa di Blok Cepu, Jawa Timur. Toh, hingga saat ini, tak ada pejabat yang berani buka mulut mengenai potensi kekayaan alam di sana.

Direktur Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Novian M. Thoyib, berkali-kali menolak dengan halus. "Ada hal-hal yang tidak mungkin saya katakan," katanya. Deputi Perencanaan Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Zanial Achmad, bahkan lebih tegas. "Kalau saya buka, nanti Malaysia makin kenceng, dong."

Sikap ini bukan tanpa alasan. Malaysia pun, kata Zanial, bungkam. Dia menceritakan, negeri serumpun itu berani menolak memberikan data ke Coordinating Committee for Coastal and Offshore Geoscience Programmes (CCOP)?lembaga riset yang sedang mengevaluasi potensi dan kegiatan beberapa negara di perairan yang disengketakan itu.

Namun sumber Tempo mengungkapkan, potensi di Blok Ambalat (Barat dan Timur) mencapai 62 juta barel minyak dan 348 miliar kaki kubik gas bumi. Menilik harga minyak dunia yang kini berada di atas US$ 50 per barel, jika jumlah itu benar-benar terbukti, bisa dibayangkan pemasukan bagi negara.

Bila dibandingkan dengan produksi lapangan minyak tua di sekitarnya, potensi Blok Ambalat memang menjanjikan. Ladang minyak Tarakan di Nunukan, Kalimantan Timur, yang dioperasikan Medco E&P, hanya memproduksi 666 barel minyak dan 363 ribu kaki kubik gas per hari. Sedangkan wilayah kerja Pertamina Bunyu hanya menghasilkan 3.000 barel minyak dan 5.000 kaki kubik gas setiap hari.

Tentu saja, dibandingkan dengan cadangan Cepu, perkiraan Ambalat masih kalah besar. Menurut Kepala Divisi Eksploitasi BP Migas, Kuswo Wahyono, cadangan minyak Cepu yang telah terbukti dan diverifikasi mencapai 85 juta barel. Jika digabungkan dengan jumlah cadangan yang masih terduga, keseluruhannya setara dengan 250 juta barel minyak.

Menurut dia, dalam teknis perminyakan, istilah "potensi" berarti cadangan sama dengan nol, selama belum terbukti dan diverifikasi. Di kawasan laut yang sangat dalam seperti Ambalat, pembuktian tidak mudah dan berisiko tinggi. Kedalaman air yang harus ditembus pun mencapai 3.000-6.000 kaki. Pengeboran tak cukup hanya satu kali, tapi berkali-kali di sejumlah lokasi. "Sekali pengeboran setidaknya membutuhkan dana US$ 4 juta," kata Kuswo. "Dan bisa saja tidak ditemukan apa pun."

Kegagalan memang lumrah di dunia perminyakan. Setidaknya, Shell sudah merasakannya. Perusahaan ini sempat melepas konsesi untuk Blok Ambalat kepada ENI (kini ENI Ambalat Ltd.) pada 2001, yang dipegangnya sejak 27 September 1999. Alasannya, setelah mengebor satu sumur?bernama Bougenville?tak ditemukan minyak. "Sumur itu ternyata kering," kata Novian.

Belakangan, tahun lalu, ENI Bukat Ltd. mengebor di Blok Bukat, yang letaknya bersebelahan dengan Blok Ambalat. BP Migas menyebutkan, dari dua sumur yang dibor, perusahaan itu berhasil menemukan indikasi minyak dan gas di salah satu sumurnya, Aster-1. Satu lagi, Padma-1, dinyatakan kering.

Pihak Direktorat Jenderal Migas curiga, hasil pengeboran ENI Bukat itu mendorong Shell untuk menggandeng Petronas di Blok ND-6 dan ND-7. Apalagi, menurut kajian Arco pada 2000, arah aliran minyak dari hasil pengeboran di Bougenville lebih ke timur atau ke kawasan Ambalat Timur, serta ND-6 dan ND-7.

Mereka menduga, data lama setelah pengeboran beberapa tahun lalu masih dipegang Shell. "Seharusnya data itu dikembalikan ke negara begitu konsesi dilepas," kata Novian. "Mungkin saja data asli diserahkan, tapi siapa tahu salinannya masih tertinggal." Tapi Shell membantah dugaan itu.

Juru bicara Shell Indonesia, Wolly Saleh, mengatakan data pegangan perusahaan adalah hasil kajian Petronas pada 2003, yang diberikan dalam tender terbuka. Selain itu, ketika melepas Ambalat, "Seluruh data sudah dikembalikan dan diaudit." Dia menambahkan, Shell bukan menjual, melainkan mengundurkan diri (withdraw) dari konsorsium kontraktor di wilayah itu. Semua sahamnya diserahkan ke pemilik saham yang tersisa, yaitu ENI. "Sebelumnya, BP (pemilik saham lain) sudah lebih dulu mundur."

Lalu mengapa Shell tidak mengikuti tender Blok Ambalat Timur di Indonesia tahun lalu? "Kami tidak sempat karena waktunya sangat sempit. Blok itu termasuk kategori penawaran langsung," kata Wolly. Novian membenarkan. "Shell hanya mengambil dokumen info, tapi tidak mengembalikan. Unocal adalah satu-satunya peminat."

Akibat sengketa itu, rencana eksplorasi Shell dan Unocal akhirnya tertunda. Dari pantauan Tempo di perairan itu, belum ada tanda-tanda kegiatan apa pun dari kedua kontraktor. Mereka memilih menunggu hasil pembicaraan antara kedua negara. "Kami tidak mau ikut campur," kata juru bicara masing-masing.

Tanpa minyak pun, wilayah yang diklaim Malaysia itu sebenarnya merupakan wilayah perikanan yang sangat produktif. "Di sana kaya akan ikan yang hidup berasosiasi dengan karang, seperti kerapu, napoleon, serta menjadi tujuan migrasi jutaan ikan dari wilayah lain," kata Direktur Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan, Alex Retraubun. Kini nelayan takut melaut. Tetap saja lapisan bawah yang merasakan kerugian langsung.

Dara Meutia Uning, Arif Kuswardono (Tarakan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data