Cerita dari Anak Benua India Pengarang India modern, R.K. Narayan, menyulap naskah terpanjang di dunia, Mahabarata, ke dalam sebuah buku tipis. |
Mahabarata
Pengarang: R.K. Narayan
Penerbit: Bentang, 2004
Tebal: 223 halaman
Kisah Drupadi adalah kisah tentang taruhan yang gila, juga keajaiban. Yudhistira, suaminya, kalah berjudi, dan istrinya (baca: taruhannya) berpindah tangan. Dalam sekejap status Drupadi amblas, dan ia seorang budak. Tapi keajaiban itu terjadi. Seorang musuhnya bangkit, merenggut kain penutup tubuhnya. Na-mun, setiap kali kain terenggut, selalu saja ada kain lain yang menutupi auratnya. Manusia terikat kesepakatan dalam permainan, tapi para dewa tidak, dan sekonyong-konyong terjadilah intervensi itu.
Drupadi yang taat tapi punya harga diri, Yudhistira yang penuh pengabdian, atau Bhisma yang selalu memegang kata-katanya, semua itu bagian dari Mahabarata, karya sastra terpanjang di dunia yang berisi 100 ribu bait puisiyang tentu saja susah dibandingkan dengan dunia kontemporer kita sekarang. Sejauh ini kita mungkin tahu, dunia Jawa kuno telah menurunkan naskah luar biasa itu dengan kreativitas yang mempesona, dan juga mewakili pemikiran yang berkembang saat penerjemahan.
Srikandi bukan lelaki gagah, sebagaimana digambarkan dalam epos Mahabarata. Baratayuda memang melukiskan Srikandi sosok yang gagah, tapi ia seorang perempuan. Sementara epos itu bercerita tentang Kresna yang pergi dari medan pertempuran untuk menghibur Subadra ibu Abimanyu, dan Uttari istri Abimanyu, kakawin Baratayuda melukiskan bagaimana kedua wanita itu berlutut di samping jenazah Abimanyu. Satu lagi yang menarik: perang besar Pandawa vs Kurawa itu melibatkan perempuan. Di medan Kurusetra, mereka meratapi para pahlawan, lalu bunuh diri di atas jenazah kekasihnya yang gugur.
P.J. Zoetmulder, dalam bukunya Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, menuliskan bahwa dalam upaya penceritaan ulang tersebut para penyair Jawa kuno telah memberikan relief yang lebih besar kepada puncak-puncak drama dengan menghapuskan pelbagai hal yang kurang penting maupun digresi. Selain itu, untuk memenuhi tuntutan tradisi kakawin serta menampilkan sifat-sifat keindahan, pengarang menyisipkan beberapa bagian tanpa mengubah cerita.
Para sastrawan Jawa kuno memang punya kreativitas yang cukup menakjubkan. Tapi R.K. Narayan, seorang sastrawan India modern, memiliki ketelatenan seorang maestro. Mahabarata berkembang dari tradisi lisan yang jalan ceritanya terus bergulung bagaikan bola salju, karya yang melambangkan pergulatan abadi manusia untuk membedakan "nilai" hitam dan putih. Dan Narayan sendiri mengakui bahwa Mahabarata delapan kali lebih panjang dari Illiad dan Odisseus, dua epos besar yang diangkat dari sejarah Yunani kuno. Narayan tak berhenti. Dan kini penulis terkemuka dari India Selatan itu mencoba menggubah sang kisah dalam bentuk narasi prosa berbahasa Inggris. Bukunya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
Dalam pengantar bukunya, Narayan mengakui tidak mungkin menerjemahkan ritme dan kedalaman kata bahasa aslinya ke dalam bahasa Inggris. Bunyi kata-kata bahasa Sanskerta memiliki kualitas hipnotis yang pasti hilang jika diterjemahkan. Namun, dia tetap mengikuti arus utama dan menjaga agar kisah yang ia ceritakan kembali tetap dalam batas-batas yang bisa dibaca. "Saya tidak membuang satu pun episode yang relevan dengan nasib para tokoh utamanya," kata Narayan.
Mahabarata versi Narayan ini mampu memberikan gambaran tentang sebab-musabab pertempuran antara Pandawa dan Kurawa. Terbit pertama kali dalam versi InggrisThe Mahabharata, pada 2000, 179 halamania menyenggol hampir setiap aspek kehidupan manusia. Mahabarata untuk orang sibuk itu memang menggambarkan kepahlawanan dengan baik. Tapi, di penghujung cerita, ada lukisan lebih yang begitu universal: kebinasaan, dan sisa-sisa mereka yang hidup dengan memori sangat suram.
Suseno
|