Sirih, Kopi, dan Calon Ahli Waris |
Begitu sampai di Hotel Santika, Jakarta, Masmundari sempat tak mau duduk. Tempat tidurnya sudah ditata begitu rapi. Di rumahnya di Gresik sana, apabila kamar sudah necis, ia akan marah bila ada orang seenaknya masuk kamar. "Setelah kami beri tahu kalau di hotel memang selalu dibersihkan, Simbah baru bisa mengerti," ujar Nursamaji, sang cucu.
Nenek lima cucu dan dua cicit ini dalam kesehariannya selalu rapi. Dia gemar membersihkan rumah dan perabot. Kalau ada barang yang diletakkan sembarangan, dia selalu mengambil dan meletakkan di tempatnya. Bila ada pakaian habis disetrika, digantung-gantung di hanger, ia akan menatanya. Apalagi setiap melukis, ia selalu membersihkan dulu tempatnya.
"Nek mboten resik, mboten telaten," katanya, menerangkan dalam bahasa Jawa: bila tak bersih, ia tak bisa menggambar dengan nikmat. Tiba-tiba, kalimatnya ditambah: "Aku ora tahu sekolah ning kon nulis (saya tak pernah sekolah, tapi disuruh menggambar)." Disusul lagi: "Gambarane wis digowo rono kabeh" (gambarnya sudah dibawa semua).
Menurut Nursamaji, neneknya memang sering bicara loncat-loncat begitu sejak pendengarannya berkurang beberapa tahun belakangan ini. "Iki kakehan ngombe obat," potong Masmundari. Rupanya, Simbah ingin berkilah kalau pendengarannya sudah tidak sempurna justru gara-gara kebanyakan minum obat.
Terlahir sebagai sulung dari 4 bersaudara, almarhum ayah Masmundari adalah seorang dalang sinom. Tatkala Masindri, saudara laki-laki satu-satunya, meninggal ketika masih kanak, sang ayah mengatakan akan menurunkan keterampilan melukis pada ketiga anak perempuannya. Tujuannya agar kesenian itu secara turun-temurun tidak hilang. Dua adik perempuannya, Masmuatin dan Masehi, yang jago membatik, sudah tiada.
Kini tinggal Masmundari yang bertahan. Sore itu ia mengenakan kebaya motif bunga-bunga warna merah dan jarit batik Pekalongan dengan dasar hitam. Rambut putihnya bergelung. Sepasang subang menghiasi telinganya. Soal baju, Masmundari selalu memilih sendiri baju yang ingin dipakainya. Dia selalu memakai baju dengan motif yang menurut dia menarik. Dia juga selalu ingat bila diberi sesuatu oleh orang. Kalau dijejer baju-bajunya, disuruh cerita dari mana saja, dia masih ingat baju-baju itu pemberian siapa saja.
Ingatannya memang masih tajam. Ada cerita, ketika mendengar Soeharto didemo mahasiswa dan kemudian lengser, dia buru-buru minta agar foto Soeharto yang terpajang di dinding rumahnya segera diturunkan. Toh di ruang tamu itu, sekarang masih terpasang foto kenangan Masmundari kala mengikuti Pameran Kerajinan Indonesia di Balai Sidang Senayan, Jakarta, beberapa tahun lampau. Kala itu Presiden Soeharto dan Tutut mampir ke stannya. Sebagai ucapan terima kasih, Masmundari memberikan tanda mata berupa lukisan damar kurung berjudul Mbok Omah Melu KB (Ibu Rumah Ikut KB).
"Kecut, kecut," di tengah perbincangan?tiba-tiba Simbah buyut ini memotong. Maksudnya minta kinang (sirih). Rohayah, sang putri, lalu mengambil bungkusan plastik, uba rampe nginang. Ketika ditanya apa resep umur panjang? "Nginang karo ngopi (sirih dan kopi)," katanya sambil menunjukkan tembakau merah di tangannya.
Ya kopi dan sirih bisa jadi membuat umurnya panjang, tapi apakah ia bakal memperkirakan usianya bakal setua ini? Ia tak menjawab. Menurut Aspiah, 60 tahun, sanaknya, suatu kali Masmundari berkata kepadanya bahwa suatu hari ia akan mengatakan kepada cucunya, Nursamaji dan Adriyanto, kapan ia meninggal, pada hari apa dan jam berapa. Saat itu, cucu-cucunya akan diwarisinya ilmu menggambar. Siang itu, di Gresik, di rumahnya, saat Nursamaji, mengantar sang Mbah ke Jakarta, kami melihat Andriyanto, 13 tahun, asyik bermain domino di teras rumah.
SJS, L. N Idayanie (Jakarta), Jojo Raharjo (Surabaya)
|