Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXIV/28 Maret - 03 April 2005
   
Ekonomi dan Bisnis

Besar Pasak daripada Tiang

Revisi APBN 2005 yang diajukan pemerintah, Rabu pekan lalu, bisa jadi bukan yang terakhir. Harga minyak mentah dunia yang dijadikan patokan dalam anggaran tahun ini memang sudah diubah dari US$ 24 per barel menjadi US$ 35. Tapi, di pasar internasional, harga minyak tengah menggila. Harga minyak ringan Amerika di Bursa New York sepanjang pekan lalu diperdagangkan pada kisaran US$ 55-57 per barel. Kenaikan harga ini salah satunya disebabkan adanya persoalan di Nigeria, salah satu produsen minyak terbesar di dunia.

Harga minyak Indonesia (Indonesian crude petroleum/ICP) rata-rata tahun ini memang masih dalam kisaran US$ 35 per barel. Tapi jangan lupa, Indonesia juga mengimpor minyak?biasanya yang dijadikan patokan jenis brent?dalam jumlah sangat besar dengan harga yang lebih tinggi ketimbang ICP (lihat tabel). Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, impor minyak Indonesia lebih besar ketimbang ekspornya.

Hal itu terjadi lantaran konsumsi BBM terus meningkat, sebaliknya produksi minyak mentah Indonesia justru menurun. Sementara pada tahun 2003 produksi minyak Indonesia masih 1,138 juta barel per hari, tahun lalu tinggal 1,04 juta barel. Perbandingan impor dan ekspor itu bisa dilihat di APBN. Tahun lalu, misalnya, nilai impor minyak dan gas Indonesia meningkat 52,4 persen, sementara nilai ekspor minyak dan gas cuma naik 13,9 persen. Akibatnya, duit yang diterima masih lebih kecil dibandingkan dengan yang dibelanjakan.

Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak Departemen Keuangan, Sahala Lumban Gaol, mengatakan penetapan asumsi harga minyak di APBN biasanya diajukan oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. "Angkanya sengaja dipilih yang konservatif, tapi masih moderat." Toh, dengan perubahan asumsi itu, menurut pemerintah, subsidi BBM bisa membengkak hingga Rp 60,13 triliun. Dengan catatan, pemerintah tidak berhasil mengurangi konsumsi BBM. Penyebabnya, ya, itu tadi: besar pasak daripada tiang.

Karena itu, jika Indonesia tak ingin imbas kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional terlalu telak menikam, satu cara yang cespleng adalah mengurangi konsumsi BBM. Repotnya, penjualan mobil dan motor justru tak bisa direm. Kenaikan harga BBM, yang dinilai terlalu tinggi pada awal Maret lalu, ternyata terbukti tak mampu mendorong rakyat menyimpan kendaraannya di garasi dan naik angkutan umum.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data