Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Ilmu dan Teknologi

Mengintip Energi di Barat Toba

Isu bencana super-volcano telah dibantah. Mengapa warga Danau Toba harus tetap waspada?

Bayangkan, sebuah gunung api super (super-volcano) akan meletus tepat dari dasar Danau Toba, seperti yang diungkapkan Ray Cas, profesor dari Monash University?s School of Geosciences, Australia, pekan lalu. Kali ini, efeknya tidak lagi hanya menyemburkan tsunami, tetapi hingga mengacaukan iklim global.

Letusan magmanya akan mampu menggulung jutaan korban jiwa, malah mungkin sampai miliaran jiwa. Dengan semburan debunya ke atmosfer, bahkan mungkin gunung itu akan berkuasa mengembalikan kondisi iklim menjadi seperti di penghujung zaman es. Diperkirakan, kondisi bumi saat itu nanti tidak akan lebih baik ketimbang sekitar 74 ribu tahun silam, ketika Toba sebagai sebuah super-volcano terbesar di dunia meletus terakhir kali.

Magma, gas, dan debu dari dalam kaldera seluas 30 ribu kilometer persegi itu diyakini menjadi kunci jawaban mengapa genom manusia sekarang ?baru? berusia puluhan ribu tahun. Ya, akibat letusan Toba saat itu tadi. Dan sebagian ilmuwan percaya, homo sapiens menjadi nyaris punah karenanya.

Komunitas geologi mencoba mendekatkan dampak ledakan super-volcano yang mahadahsyat itu dengan sebuah asteroid bergaris tengah satu kilometer yang jatuh menghunjam bumi. Asteroid seperti itu memang akan datang sekali dalam rentang 400 ribu hingga 500 ribu tahun. Celakanya, kejadian super-volcano meletus sepuluh kali lebih sering.

?Dan seperti halnya tsunami lalu, sebuah super-volcano juga akan meletus cepat atau lambat,? kata Cas. Dia mengungkapkan kekhawatirannya apabila rangkaian gempa berskala besar di Aceh dan Nias lalu akan membangunkan Toba dari ?tidurnya?. ?Kita akan melihat bencana mahadahsyat, bahkan 100 hingga 1.000 kali lebih kuat daripada letusan Krakatau 1883,? tuturnya.

Edi Sinaga, salah seorang warga Desa Tongging, sebuah desa wisata di bibir selatan Danau Toba, tidak menyadari bahwa selama ini dirinya menunggangi sebuah super-volcano. ?Tiap malam, sejak Sabtu dua pekan lalu, kami memang tidur di luar rumah untuk jaga-jaga. Tapi, bukan karena super-volcano, melainkan takut isu letusan di Pusukbukit,? kata Edi.

Pusukbukit adalah strato volcano di ujung selatan Pulau Samosir. Di sana terdapat solfataras (bekas-bekas tempat gas vulkanik keluar) yang masih aktif. Secara terpisah, dalam kaitan ini Cas menjelaskan, justru semakin tinggi intensitas gas yang keluar, semakin banyak solfataras yang terbentuk, itu menandakan sang raksasa bencana itu sedang menggeliat!

Benarkah ramalan yang sungguh mengerikan itu akan terjadi? ?Itu berita sensasional saja,? kata Kepala Sub-Direktorat Pengamatan Gunung Api Wilayah Barat Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam, Mas Ace Purba Winata. Menurut dia, Cas berbicara dalam skala waktu geologi, tidak relevan dengan present time scale. ?Kalau dengan skala seperti itu, ya, memang mungkin saja. Tetapi jangankan puluhan juta tahun, satu juta tahun ke depan saja kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bumi ini,? ujarnya meyakinkan.

Pakar gempa dari LIPI, Danny Hilman Natawidjaja, juga menyatakan kekhawatiran Cas berlebihan. Meski mengakui teorinya memang benar, dan ada contohnya di Sumatera yakni Gunung Kaba (Bengkulu) yang meletus beberapa hari saja pasca-gempa Mentawai 1833 lalu, tetap saja tidak ada data-data penelitian yang mendukung. ?Saya masih tanda tanya,? kata peneliti yang telah memetakan patahan gempa di Pulau Sumatera ini.

Sementara Danny tidak yakin, Mas Ace bisa lebih tegas membantahnya. ?Toba sudah tidak aktif, kaldera telah berubah menjadi danau,? kata dia. Aktivitas solfataras di Pusukbukit pun, disebutkannya, bukan aktivitas magmatis yang mengindikasikan Toba sebagai gunung api aktif.

Jangankan dari Toba, yang disebutkannya sedang menjelang paripurna, Mas Ace hingga pekan lalu juga tidak mendeteksi adanya peningkatan aktivitas seismik berbagai gunung api aktif yang berjajar di tepi patahan Sumatera. Tentu saja gunung-gunung itu dapat terpicu untuk meletus. Tetapi itu, kata Mas Ace, perlu waktu yang sangat lama. ?Kerak di bawah Sumatera itu sangat tebal, sekitar 20 kilometer,? kata dia.

Secara umum, kata Mas Ace lagi, kondisi pelbagai gunung api di dalam wilayah pengamatannya, termasuk Gunung Salak di Jawa Barat, masih adem ayem saja. ?Dan kita tetap memantau 24 jam,? kata Mas Ace.

Meskipun telah dikatakan Toba aman dan gunung api masih bersahabat, bukan berarti masyarakat sekitar Danau Toba terbebas dari ancaman. Danny justru mengungkapkan, ancaman gempa yang lebih nyata ?mengintip? di Patahan Sumatera, yang letaknya hanya sekitar 15 kilometer sebelah barat Danau Toba. ?Data rekaman seismogram (milik USGS dan BMG) menunjukkan kenaikan aktivitas di segmen itu,? kata dia. Termasuk Segmen yang melewati Pulau Weh, yang juga teraktivasi pasca-gempa 26 Desember (lihat peta).

Khusus pada segmen yang berada di sebelah barat Danau Toba, Danny menjelaskan, potensi energi yang siap dilepaskan sebagai gempa sudah mencapai 7,5 skala magnitudo. Hitungan itu didasarkan atas pergerakan zona tumbukan yang tiga sentimeter per tahun, sedang gempa terakhir di segmen itu terjadi pada 1916 dan 1920. ?Energinya sudah matang, potensial menjadi gempa besar,? kata dia.

Sebelumnya, Danny juga pernah memaparkan ancaman gempa di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Patahan Mentawai (lihat Tempo edisi 4-10 April 2005). Bila dibandingkan, energi yang siap dilepaskan di Patahan Mentawai diduga akan lebih kuat ketimbang barat Toba. Di patahan di dasar laut itu terdapat dua segmen, yakni Siberut dan Sipora Pagai, yang kalau pelepasan energinya terjadi bersamaan, kekuatannya diduga dapat mencapai sembilan dalam skala magnitudo. ?Itu artinya tiga kali lebih besar daripada gempa M 8,7 di Nias,? ujarnya sambil menerangkan skala logaritmik dalam perhitungan magnitudo gempa.

Wuragil


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data