Senjakala Bukit Matahari Situs megalitikum Bawomataluwo, Nias, rusak digoyang gempa. Tradisi ratusan tahun terancam. |
GEMPA yang menggoyang Nias, dua pekan lalu, tak meluputkan Bawomataluwo, dusun purba tak jauh dari Teluk Dalam, Nias Selatan. "Batu lompat itu sulit digunakan lagi," kata Memoris Wau, 50 tahun, kepala Desa Bawomataluwo, memandang "hombo batu" itu yang kini berantakan. Memoris tentu gundah: atraksi lompat batu, yang disebut fahombe, merupakan ritual penting bagi warga Desa Bawomataluwo.
Menurut kepercayaan setempat, seorang pemuda dianggap dewasa jika sanggup melompati tumpukan batu setinggi dua meter itu. Atraksi lompat batu juga menjadi penanda eksotisme Nias yang membetot minat turis. "Setiap bulan sekitar 100 turis asing berkunjung ke Bawomataluwo," ujar Memoris Wau.
Tak cuma hombo batu, tumpukan batu megalit berukuran 2x2 meter di halaman utama kampung juga luluh-lantak. Sebuah kaki menhir setinggi dua meter patah. Meja batu tempat bermusyawarah terbelah. Selama ini, tumpukan batu itu menjadi ajang pertemuan warga desa. Tempat sakral itu juga menjadi arena pengadilan bagi warga yang melakukan kejahatan.
Gempa dahsyat telah mengubah wajah situs megalitukum Bawomataluwo. Tanah di tengah desa terbelah akibat patahan tektonik. Bawomataluwo, yang berarti "bukit matahari", kini menjadi tempat yang murung. Desa dengan 230 rumah berarsitektur khas itu hingga kini dibekap kesedihan.
Moarota Fao, 50 tahun, misalnya, hanya bisa pasrah. Generasi kelima keturunan Raja Laowo Fao, yang pernah berkuasa di Nias Selatan ini, mencoba menerima nasib. Ketika Tempo pekan lalu berkunjung ke obo sebua (rumah adat besar) Bawomataluwo, Moarota Fao mengeluhkan nasib rumah warisan leluhurnya. "Banyak yang rusak. Tak tahu bagaimana memperbaikinya," katanya.
Hingga hari kelima setelah gempa, ratusan pernak-pernik warisan kerajaan masih tampak berserakan di obo sebua. Debu tebal menyaput lantai. Rumah adat kebanggaan warga Bawomataluwo itu bergeser 20 sentimeter. Untunglah, rumah kayu yang dibangun pada 1863 itu seperti dibuat dengan konstruksi tahan gempa. Ditopang enam tiang kayu jati berdiameter tiga puluh sentimeter, obo sebua masih berdiri tegak. Ke-82 tengkorak babi masih tergantung rapi di langit-langit rumah. Tengkorak babi itu dikumpulkan dari pesta yang kerap digelar raja sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan.
Memoris Wau mengaku sudah berulang kali melaporkan kondisi desanya ke Pemda Nias Selatan. Namun, seperti sebelum gempa terjadi, Memoris pulang ke desa dengan tangan hampa. Tak ada perhatian serius terhadap situs yang menjadi penanda penting peradaban Nias itu.
Sejatinya, Bawomataluwo tak hanya menarik karena situs batu megalitikum. Prabham Wulung, arsitek yang sempat mengekplorasi Desa Bawomataluwo, terpesona dengan konsep lingkungan desa kuno itu. Di mata Prabham, permukiman Bawomataluwo seperti sumbu yang sangat lurus. Ujung satu menjadi gerbang permukiman, ujung yang lain menjadi pintu menuju ruang belakang?seperti pemandian umum dan kuburan.
Pola ini membuat pengunjung memasuki "selasar" yang sangat panjang. Selasar utama itu menjadi ruang publik yang dimanfaatkan untuk pelbagai keperluan desa. Di kanan-kiri, semua rumah yang menghadap selasar memiliki bentuk serupa. "Itu menunjukan kesamaan derajat semua warga desa," kata Prabham Wulung.
Sayang, aset budaya Nias itu kini kini telantar. Juru bicara Bupati Nias Selatan, Solistis Dachi, mengakui Pemerintah Daerah Nias Selatan tak dapat memperhatikan nasib Situs Bawomataluwo. Keterbatasan biaya dan sumber daya manusia membuat pelbagai peninggalan budaya Nias Selatan telantar. Bahkan, "Kami belum punya Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya," kata Solistis Dachi.
Akibatnya, situs Bowomataluwo seperti onggokan batu dan rumah tak terurus. Tak ada promosi dan keterangan sejarah situs. Para tetua desa hanya berkisah berdasarkan cerita turun-temurun. Alih-alih mengemas situs menjadi obyek wisata yang serius, warga desa malah memanfaatkan batu-batu dari zaman megalitikum (3.000_1.500 SM) itu sebagai tempat nongkrong. Beberapa warga juga menjemur pakaian dan biji kakao di tumpukan batu.
Setiyardi, Istiqomatul Hayati (Nias)
|