Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Novel Arok Dedes karya Pramoedya ditafsirkan secara visual. Watak bersahaja seni rakyat diolah menjadi sesuatu yang "baru".

DI dinding ruang pamer Galeri Lontar?sampai 30 April ini? terpampang lebih dari 15 lukisan akrilik dengan ukuran sama: 70 x 140 cm. Ditata, menjadi rangkaian cerita kronologis. Dan padanya, kita bisa "membaca" sejarah Ken Arok dari satu panil ke panil lain. Urut dari gambar Tunggul Ametung, penculikan Dedes, sampai pemberontakan Ken Arok.

Inilah pameran tunggal karya Muhamad Yusuf, 30 tahun, salah seorang anggota komunitas seni Taring Padi. Sebuah kelompok dari Yogya yang dikenal menggali unsur-unsur yang bergelora dari buruh atau petani. Dan sering menampilkan secara kolektif (tak atas nama pribadi) pameran grafis, poster, baliho yang berbau perlawanan.

Gaya gambarnya langsung mengingatkan kita pada berbagai corak visual di slebor-slebor becak, lambung truk, di panggung ketoprak, cukilan-cukilan kayu candi. Atau kalender yang dijual emperan Sekaten.

Penuh dengan citra gunung, sawah sapi, kuda, gerobak, palawija, beringin. Kalau berada di ruangan, ya seperti di pendapa, gapura. Bila di alam bebas sering berlatar siluet candi seperti Borobudur. Cara menampilkan dalam komposisi juga seperti lukisan rakyat: dekoratif, tanpa perspektif, cenderung tanpa kontras. "Ya, saya sangat terpengaruh relief-relief di Jawa atau lukisan tradisional Bali," ujar lelaki kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini.

Dari segi tema yang dipilih, suksesi Ken Arok, terasa spirit Taring Padi ada di sana. Yusuf memilih Ken Arok versi Pramoedya Ananta Toer, karena tafsir Pram, menurut dia, lebih rasional. "Warisan Empu Gandring dalam novel Pak Pram, misalnya, bukan keris tapi gudang senjata." Gambar-gambar Yusuf menonjolkan unsur perebutan kekuasaan berlumur kekerasan. Sisi-sisi romantis, adegan percumbuan Ken Arok dan Ken Dedes katakanlah, sama sekali tak disentuh. Padahal kemungkinan visual pasti menarik.

Segera kita mafhum, ungkapan visual "seni bawah" bagi Muhamad Yusuf adalah sebuah pilihan. Ia ingin menampilkan sebuah cerita yang dikenal oleh masyarakat umum secara kritis, sekaligus juga dengan bahasa gambar yang sudah terasa akrab bagi kalangan di kampung mana pun. Bisa dipahami mengapa ia harus menahan keinginan untuk terlalu berlebihan menyuguhkan abstraksi atau deformasi. "Kalau gambar kuda, ya, harus mirip kuda," ujarnya.

Bagaimanapun, untuk membuat lukisannya "mudah dicerna" itu, pergulatan personal tetap tampak. Misalnya tafsir terhadap sosok Ken Arok sendiri, yang jelas menyimpang dari imajinasi tradisi. Arok di tangan Yusuf berpotongan rambut antara model Indian Tomahawk dan anak-anak punk. Sedangkan sosok lainnya masih dengan rambut bergelung. "Ken Arok saya bikin seperti punker karena punk simbol perlawanan terhadap kemapanan," tuturnya. Juga pada Ken Dedes, misalnya, perempuan molek dalam cerita Ken Arok, ditampilkan bak "seribu satu malam": telanjang dada, mengenakan selendang di kepala.

Itulah sebabnya, melihat rangkaian lukisannya, kadang ada kesan gado-gado?blasteran antara lukisan rakyat dan juga komik under ground. Menyaksikan Arok bergelak ria di antara para penjudi, ingatan kita bisa melayang ke lukisan-lukisan Bali di Pasar Sukawati. Adapun memperhatikan gambar Arok bersamadi?saat baru menerima ajaran dari Loh Gawe, pandita India?pikiran kita bisa terkenang akan ilustrasi komik-komik R.A. Kosasih.

Pada gambar yang lain, Masuk ke Pusat Kekuasaan, yang tampak memperhitungkan angle dalam komposisi adegan?ketika Arok bertemu Dedes di istana, dengan punggung membelakangi kita, mengingatkan ilustrasi komik-komik Jin Kartubi.

Memang, dengan potongan ala The Last Mohican itu karakter berdarah dingin Arok muncul. Lihat Skenario Penghancuran Kerusuhan, tampak Arok berdiri di antara mayat-mayat sambil menggenggam kapak perang. Atau Provokasi Skenario: bidang lukisan dibagi dua, antara Arok tengah mengatur rencana dan seorang mengendap di kamar Tunggul Ametung, siap menewaskannya. Watak "liciknya" terasa.

Yang paling menarik karyanya yang berjudul Bersatu Menggulingkan Tirani, yang ilhamnya didapat Yusuf setelah menyaksikan poster-poster Internasionale?pertemuan kaum kiri dunia itu. Arok, bersama gerombolan yang bersenjatakan palu, arit, dan golok, tampak berderap melangkah maju tak gentar. Dan seluruh tubuh mereka merah.

Sesungguhnya, tanpa embel-embel narasi tertulis, lukisan Yusuf sudah berbicara. Saat tangan Arok menunjuk, memimpin masa dalam Organisasi Perlawanan Arok, di situ seolah ada unsur gerak. Cuma, mengherankan, meski judul-judul sudah cukup verbal, Yusuf sering tergoda (pada beberapa lukisan) untuk masih menorehkan semacam kalimat perlawanan?mirip pamflet pada bidang lukisannya. Seperti juga ketika ia menampilkan tulisan Perusahaan Senjata Mpu Gandring, pada sebuah gambar gudang?seolah-olah ia takut, bila yang ditorehkan huruf-huruf Jawa, imajinasi kita tak sampai.

Seni dekoratif jarang diolah oleh perupa masa kini karena dianggap sederhana. Dekoratif sering dimaknai sekadar seni hiasan. Sementara trend terbaru seni rupa kontemporer cenderung mengeksplorasi angle yang bervisi eksperimen optik. Yusuf berusaha menyelami watak bersahaja seni rakyat dan mengolah hal itu menjadi sesuatu yang "baru"?tapi tetap tak asing. Itu yang menjadikan pameran ini menarik.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hari Ini Warga Maluku Pilih Gubernur - 09 Jul 2008 | 11:48 WIB
16 Traffic Light Mati Kemcetan Terjadi - 09 Jul 2008 | 11:43 WIB
Tujuh Pasangan Calon Gubernur Lampung Ditetapkan - 09 Jul 2008 | 11:38 WIB
Kalla akan Ambil Nomor Urut Peserta Pemilu - 09 Jul 2008 | 11:32 WIB
Menyuntik Tenaga Organizer - 09 Jul 2008 | 11:09 WIB
40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data