Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIV/11 - 17 April 2005
   
Televisi

Bangkit dengan Sinetron Religius

TPI tiba-tiba menyalip tajam. Dan hanya dalam hitungan bulan, menurut survei AC Nielsen, stasiun televisi itu meloncat tinggi: dari posisi keempat ke posisi pertama. Ya, minimal sepanjang 27 Maret hingga 2 April, rating menunjukkan ia sosok kampiun.

Dipandang dari jumlah penontonnya, TPI pada kedudukan paling atas, meninggalkan SCTV, RCTI, Indosiar, dan Lativi. Itulah catatan AC Nielsen yang mencoba menangkap kecenderungan para pemirsa televisi di sembilan kota besar di negeri ini. Sinetron bernuansa religius Rahasia Ilahi, Kembang API (Audisi Pelawak Indonesia), Takdir Ilahi dan KDI 2 (Kontes Dangdut TPI) punya andil besar menaikkan rating.

Rahasia Ilahi, yang dibuat rumah produksi PT Kusuma Era Permata Media, menembus rating 14,9 dan share penonton 40,2 persen. Kemudian Kembang API dengan rating 10,2 dan share 29,8 persen, lalu Takdir Ilahi, dari rumah produksi yang sama, berusaha menyusul dengan rating 9,8 dan share 27,8 persen. Dan terakhir, KDI-2, acara andalan TPI dengan rating 9,4 dan share 28,3 persen.

TPI, stasiun yang didirikan Mbak Tutut, Siti Hardijanti Rukmana, putri Presiden RI ke-2, banyak terlilit utang. Puncak kesulitan finansial pada 1997, tapi baru lima tahun kemudian, Februari 2002, Dandy Rukmana, putra sulung Mbak Tutut, memimpin perusahaan. TPI jadi tontonan kalangan menengah ke atas, dengan Discovery Channel, seri remaja Dawson's Creek, HBO Boxing, Ultimate Fighting Championship (UFC), sepak bola Liga Inggris, dan Animal Planet. Di antara acara-acara itu, setiap 23.30 ada UFC yang bisa mencapai rating 10, mengalahkan tayangan televisi lainnya.

Belakangan PT Media Nusantara Citra (MNC), perusahaan yang dimiliki PT Bimantara Citra Tbk., mengambil alih utang TPI US$ 15 juta. Dandy Rukmana komisaris utama, dan Mayjen (Purn) Sang Nyoman Suwisma, mantan Kepala Staf Kostrad, direktur utama. Kini Bimantara menguasai 75 persen saham TPI. Menurut Artine S. Utomo, Wakil Presiden Direktur TPI, banyak yang berubah setelah itu. Paling tidak, di mata rumah-rumah produksi, kredibilitasnya membaik. "Layar kita harus berbeda," kata Artine, membandingkan sinetron TPI dengan yang lain.

Pada 2003 ia meninggalkan tayangan Barat yang ternyata tak juga mendongkel rating. Ia berpaling ke tayangan yang Islami. Didukung tim yang terdiri dari 700 karyawan lama dan sekitar 20 orang baru, dan dengan Bimantara di pucuk pimpinan, TPI sudah membuat perubahan. Kini persaingan panas sudah terjadi. Beberapa stasiun televisi kini menawarkan tayangan terbarunya: sinetron religius.

Evieta Fadjar P.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data