Anthrax
Jum'at, 26 Maret 2004 | 10:50 WIB
Tiap tahun, keganasan anthrax selalu muncul dan menyerang, hingga akhirnya menulari manusia. Indonesia sendiri sudah mengenal anthrax (lihat: "Apa dan Bagaimana Mengatasi Anthrax") sejak jaman penjajahan Belanda, sekitar 1884 di daerah Teluk Betung. Selama 1899-1900, daerah Karesidenan Jepara mencatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, 207 ekor diantaranya mati. Pada 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah: Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Hingga selama 1976-1985, anthrax berjangkit di sembilan provinsi dan menyebabkan 4310 ekor ternak mati.
Selanjutnya, empat provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB dan NTT sering melaporkan kasus anthrax, seperti 51 orang (1996), 24 (1997), 20 (1998), 55 (1999), 34 (2000). Sementara itu, pada 2001 didapat 23 kasus, dua orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia di Kabupaten Bogor.
Pada 2003, kasus Anthrax kembali muncul di daerah yang memang sudah diketahui rawan akan penyakit itu, di wilayah Citeurup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Kabupaten Bima (lihat: "Pemerintah Berbuat Apa Terhadap Serangan Anthrax"). Apa yang dilakukan pemerintah? Dari kasus serangan itu, pemeriksaan laboratorium terhadap sample tanah dilakukan. Hasilnya, tidak ditemukan bentuk koloni anthrax (negatif anthrax). Sementara, hasil sample darah manusia dengan uji serologis menggunakan metode ELISA menunjukkan, lima orang yang diduga terkena anthrax mempunyai titer antibody sangat tinggi dan diindikasikan adanya reaktor anthrax. Hal ini didukung dengan gejala klinis dan anamnese dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, kelima orang itu positif tertular anthrax. Untuk itu, Dinas Peternakan menargetkan akan memberi vaksinasi terhadap 4000 ekor ternak yang ada.
Pemerintahpun gencar meningkatkan fungsi pemeriksaan kesehatan masyarakat veteriner di Rumah Potong Hewan (RPH) terutama dalam melakukan pemeriksaan ante mortem dan post mortem, mengaktifkan sosialisasi penyakit zoonose khususnya anthrax kepada masyarakat di sekitar lokasi untuk menghindari terjadinya pemotongan liar dan meningkatkan frekwensi pelaporan kasus penyakit secara berkala yang didukung kegiatan proaktif petugas lapangan.
Tapi ternyata, dampak kejadian itu merembet sampai ke Jakarta. Sebagai konsumen daging, tentu saja warga Jakarta akan panik ketika mendengar serangan anthrax di Bogor itu. Prabowo Sunirman, Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Dharma Jaya –perusahaan pemasok kebutuhan daging warga DKI Jakarta mengaku, begitu banyak warga yang menanyakan kemungkinan masuknya bakteri anthrax ke Jakarta lewat daging yang disediakan PD Dharma Jaya. Tapi, dirinya menegaskan, daging sapi yang keluar dari RPH Cakung -berada di bawah PD Dharma Jaya, sama sekali tidak akan ada bakteri Bacillus-anthracis-nya. Kepanikan warga itu juga sempat membuat Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengingatkan instansi terkait untuk melakukan operasi pasar.
Menanggapi kasus anthrax yang terus menyerang itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Achmad Sujudi minta masyarakat mewaspadai kemungkinan penularan anthrax lewat daging sapi, kerbau, kambing dan domba pembawa bakteri anthrax, terutama yang berasal dan daerah endemis seperti Purwakarta, Bogor, Karawang dan Serang. Tapi, dirinya mengingatkan agar masyarakat tidak panik. Karena penderita yang berobat ke rumah sakit atau Puskesmas pada stadium awal, akan sembuh. "ltu bisa diatasi dengan antibiotika. Indonesia sudah berpengalaman menangani anthrax selama puluhan tahun, termasuk kasus anthrax yang ditularkan burung unta di Purwakarta awal 2000 dan mengakibatkan puluhan orang sakit parah. Mereka berhasil disembuhkan rumah sakit setempat," katanya. Dan pada awal 2001, puluhan orang di Bogor yang diduga terkena anthrax setelah menyantap sate kambing, juga berhasil disembuhkan.
Menurut Sujudi, Indonesia, khususnya daerah Purwakarta, karawang, Bogor, dan Serang, sejak penjajah Belanda ditetapkan sebagai daerah endemis karena di kawasan itu terdapat spora anthrax yang bisa menular kepada hewan dan manusia yang tinggal di daerah itu.
Walau demikian, tampaknya pemerintah tidak memandang sebelah mata penyakit ini. Karena berbeda dengan flu yang bisa mewabah hampir di semua muka bumi dengan begitu cepatnya, anthrax justru menular sangat lambat dan tak meluas (endemik, sporadik). Tapi, kemampuan membunuh penyakit ini sangat cepat. Bayangkan, hewan ternak yang terserang penyakit ini akan menemui ajal dalam hitungan jam. Karena mematikan itu, penyakit ini layak ditakuti. Berdasar penelitan yang selama ini dilakukan pada manusia, dilaporkan tingkat kematian mencapai 18 persen (dari 100 kasus, 18 penderita meninggal).
Pemerintah Berbuat Apa Terhadap Serangan Anthrax
http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m12_s1_i183_b.pdf
Anthrax Dalam Sejarah
Abad 19:
Anthrax sudah dikenal lama dalam sejarah manusia dimana catatan pertama penyakit ini ada dalam sejarah Mesir kuno. Studi sistematis B. anthracis dimulai akhir abad 19 oleh dua ilmuwan besar, Robert Koch (ahli ilmu bakteri/bacteriology dari Jerman) dan Louis Pasteur (ahli ilmu kekebalan tubuh/immunology dari Perancis). Koch, penerima Hadiah Nobel Kedokteran 1905, untuk pertama kalinya berhasil membiakkan kultur murni B. anthracis sekaligus menunjukkan bahwa bakteri ini dapat membentuk spora serta membuktikan B. anthracis sebagai penyebab penyakit anthrax dengan menyuntikkan pada hewan percobaan pada 1877.
1881:
Menggunakan bakteri yang sama, Pasteur berhasil menunjukkan, imunisasi dapat ditimbulkan lewat penyuntikan B.anthracis yang dilemahkan dalam percobaannya di depan umum yang terkenal di Pouilly Le Front, Perancis. B. antrachis sebenarnya telah memberikan sumbangan besar bagi kemanusian dengan menjadi model awal studi bacteriology dan immunology.
1884:
Terdapat berita tentang suatu penyakit yang sangat menyerupai anthrax pada kerbau di daerah Teluk Betung. Kemudian, berita yang lebih jelas tentang berjangkitnya anthrax di beberapa daerah di Indonesia mulai bergema selama 1885- 1886.
1885:
Pada 1885, Kolonial Verslag juga melaporkan adanya penyakit anthrax di Buleleng (Bali), Rawas (Palembang), dan Lampung. Pada tahun berikutnya juga dilaporkan kejadian di daerah Banten, Padang, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
1894:
Beberapa bakteri patogen lain berhasil diisolasi di lab Koch, misalnya Clostridium tetani yang menyebabkan tetanus oleh peneliti Jepang, Shibasaburo Kitasato dan Emil Adolf von Behring dengan penelitiannya mengenai bakteri Corynebacterium diphtheriae, penyebab difteri yang mengantarkannya mendapatkan Hadiah Nobel Kedoteran pertama (1901.Kedua bakteri tadi mengeluarkan protein toksin (racun) yang menyebabkan kematian. Protein itu dapat diisolasi dari kultur biakan sehingga memudahkan studi lebih lanjut. Akan tetapi hal serupa tidak ditemukan pada B. antrachis sehingga menghambat studi patogenesis bakteri ini puluhan tahun. Misalnya, saat itu diduga penyebab kematian anthrax karena penyumbatan pembuluh kapiler, kekurangan oksigen dan fenomena lain yang disebabkan oleh bakteri itu sendiri.
1899-1930:
Selama 1899- 1900, 1914, 1927- 1928 dan 1930, tercatat kejadian-kejadian Anthrax diberbagai tempat di Jawa dan luar Jawa.
1906-1957:
Menurut Sukmanegara, anthrax pada sapi, kerbau, kambing, domba dan babi selama 1906-1957 di Indonesia, terdapat di berbagai daerah: Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Buktitinggi, Sibolga, Medan, Jakarta, Purwakarta, Bogor, Priangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Bayumas, Madiun, Bojonegoro, Sumbawa, Sumba, Lombok, Flores, Timur Roti, Bali, Sulawesi Selatan, Menado, Donggala dan Palu.
1908:
Australia terserang wabah anthrax dan terjangkit kembali pada 1999.
1910-1930:
Menurut laporan, di Sumatera, penyakit anthrax terdapat di seluruh pulau. Letupan-letupan penyakit misalnya terjadi di Jambi dan Palembang (1910), di Padang, Bengkulu, dan Palembang (1914), di Padang, Bukit Tinggi, Palembang, dan Jambi (1927, 1928), dan Sibolga, Palembang, dan Medan (1930).
1950:
Harry Smith, peneliti kimia organik bekerja sama dengan James Keppie, seorang dokter hewan, berhasil menemukan protein toksin dari darah kelinci percobaan yang terserang anthrax di Inggris. Mereka membuktikan keberadaan protein racun tersebut dengan menunjukkan bahwa bakteri sebanyak lebih dari 3 juta/ml darah, walaupun telah dibunuh dengan antibiotika, tetap menyebabkan kematian. Hal ini membuktikkan bahwa B. antrachis mengeluarkan racun penyebab kematian.
1954:
Penelitian Harry Smith dan James Keppie berhasil mengisolasi protein racun dari plasma darah menggunakan lebih dari 100 kelinci.
1975:
Menurut laporan, anthrax hanya terdapat di enam daerah, yaitu : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara, Sulewesi Selatan dan Sulewesi Tenggara. Derajat sakit (morbidity rate) tiap 100.000 populasi hewan dalam ancaman tiap provinsi menunjukkan, derajat tertinggi ada di Jambi (530 tiap 100.000) dan terendah di Jawa Barat (0,1 tiap 100.000). Dari laporan itupun diketahui, lima daerah mempunyai derajat sakit lebih rendah dari 15 tiap 100.000 populasi dalam ancaman dan hanya Jambi yang mempunyai angka ekstrim.
1980:
Di Nusa Tenggara Timur, penyakit anthrax dikenal di Sumba Timur yang meminta korban sapi, kuda, kerbau, babi, anjing, dan manusia. Hewan yang paling banyak terserang adalah kuda. Karena musim kering yang panjang, kuda-kuda makan rumput yang akar-akarnya masih mengandung spora penyakit anthrax. Manusia yang terserang tidak ada yang mati, tetapi 14 orang menderita karbunkel kulit.
1997:
April 1997, Indonesia sempat dikejutkan kasus anthrax pada sapi di Victoria dan New South Wales (Australia). Soalnya, sebagian daging sapi yang dijual di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia, berasal dari Australia. Untuk melindungi konsumen di Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan sempat mengeluarkan larangan sementara impor daging sapi dan bahan-bahan asal hewan dari Negeri Kanguru itu, sampai situasi benar-benar aman.
2000:
Awal 2000, kejutan datang lagi dengan munculnya anthrax di peternakan burung unta (Struthio camelus), di Purwakarta, Jawa Barat, bahkan satu-per satu warga yang terserang anthrax bermunculan. Meski umumnya unggas tahan terhadap anthrax, burung unta termasuk satwa yang peka.
2001:
Di Gedung Putih, Washington DC AS ditemukannya bakteri anthrax di sebuah markas tentara, sekitar 10 km dari istana kepresidenan AS tersebut. Sementara di Arab Saudi, untuk pertama kalinya, mereka diguncang kiriman tiga paket berisi bubuk mencurigakan, satu di antaranya dari Indonesia.
2003:
Sekelompok ilmuwan dari Boston berhasil membuat vaksin anthrax duo-aksi yang secara simultan mampu melindungi tubuh dari dua serangan yakni, serangan bakteri penyebab anthrax (Bacillus anhtracis) dan serangan racun yang dihasilkan olehnya. Menururt Dr.Julia A.Wang dari Brigham and Women's Hospital keunikan vaksin ini adalah ia dapat menyerang kedua komponen penyebab penyakit anthrax tersebut.Menurut catatan para peneliti, vaksin tersebut merupakan kombinasi dari antibakterial (semisal prophylactic) dan antitoksik (semisal therapeutic) dan kombinasi tersebut diletakkan dalam satu vaksin.
Apa dan Bagaimana Mengatasi Anthrax?
Anthrax adalah penyakit menular akut yang dapat menyerang hewan dan manusia (Zoonosis) dan sulit diberantas karena merupakan Soil Borned Disease –penyakit dari tanah. Sebutan penyakit ini bermacam-macam: Radang Kura, Radang Limpa, Malignant Pustula, Malignant Edema, Woolsoster’s Disease, Ragpickers Disease, Splenic Fever atau Charbon -masyarakat Jawa Barat menyebutnya Caneung Hideung. Penyebabnya, sejenis bakteri yang disebut Bacillus-anthracis -berbentuk batang (ruas-ruas) berukuran 3-8 чm. Di dalam tubuh penderita, B. antracis terdapat di dalam darah dan organ-organ dalam, terutama limpa. Itu sebabnya penyakit ini banyak dikenal dengan sebutan radang limpa.
Sebetulnya B. anthracis tidak begitu tahan terhadap suhu tinggi dan bermacam desinfektan. Tapi, bakteri itu mudah sekali membentuk spora yang tahan kekeringan dan mampu hidup lama di tanah yang basah, lembab atau di daerah yang sering tergenang air. Menurut dokter hewan Suprodjo Hardjo Utomo, MS APU dari Balitvet, bakteri ini bersifat aerob –memerlukan oksigen untuk hidup. Spora B.anthracis itu baru dapat dimusnahkan dengan uap air basah bersuhu 90 derajad celcius selama 45 menit, air mendidih atau uap air basah bersuhu 100 derajad celcius selama sepuluh menit dan panas kering pada suhu 120 derajad celcius selama satu jam.
Kasus di Bogor beberapa waktu lalu, jelas terjadi karena spora terbawa banjir. Hewan tertular lantaran memakan tanaman yang sudah ditempeli spora itu. Untuk itu, hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai. Tujuannya, menghindari B. antracis berubah menjadi spora dan tersebar ke mana-mana oleh angin, air, serangga dan mencemari tanah. Karena sekali tanah tercemar spora, spora tanah itu sangat berbahaya dan suatu saat dapat menyebabkan penyakit muncul kembali.
Utamanya, sumber penularan anthrax adalah hewan-hewan yang peka terhadap anthrax, seperti sapi, kambing, kerbau, domba, kuda, babi, burung unta serta hewan lain seperti tikus, marmut, mencit dan lainnya. Walau anjing dan hewan carnivora lainnya termasuk binatang rentan juga, tapi infeksi kuman anthrax jarang sekali terjadi pada hewan-hewan itu. Justru, infeksi anthrax dapat terjadi juga pada jenis burung, terutama burung unta. Selain itu, lingkungan yang tercemar spora B.antracis, seperti tanah, tanaman (sayur-sayuran) dan air, dapat juga menjadi sumber penularan lainnya.
Anthrax bisa tertular ke manusia lewat tiga cara:
1. Kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di tanah atau tanaman, hewan sakit dan bahan-bahan yang berasal dari hewan sakit seperti kulit, daging, tulang dan darah.
2. Menghirup bibit penyakit –spora anthrax- disaat mengerjakan, seperti mensortir, bulu hewan (domba dan lainnya).
3. Memakan daging atau produk, seperti dendeng, abon dan lainnya, yang berasal dari hewan sakit.
4. Gigitan serangga penghisap darah, misalnya Lalat penghisap darah (Tabanus sp. Atau lalat piteuk).
Umumnya, anthrax berjangkit di daerah pertanian dan menyerang hewan ternak, seperti wilayah Amerika Selatan dan Amerika Tengah, Eropa bagian selatan dan utara, Asia, Afrika, Pulau Karibia dan Timur Tengah. Tapi berdasarkan daerah penularan, anthrax dibagi tiga macam:
1. Anthrax daerah pertanian (Agricultur Anthrax). Penularan dan kejadiannya berkisar di daerah-daerah pertanian saja, seperti umumnya di Indonesia.
2. Anthrax daerah perindustrian (Industrial Anthrax), terjadi di daerah atau kawasan industri yang menggunakan bahan baku hewan atau hasil hewan, seperti bahan-bahan yang terbuat dari kulit (tas, ikat pinggang, topi, alat musik), tulang (perhiasan, industri makanan ternak), daging (dendeng, abon dan lainnya), darah (campuran makanan ternak), tanduk (perhiasan, kerajinan dan lainnya) dan lain-lain.
3. Anthrax yang terjadi di laboratorium, yaitu infeksi hewan-hewan percobaan, seperti tikus putih, marmut, kelinci, centrifugasi dan lainnya.
Masa inkubasi anthrax sendiri bervariasi: anthrax tipe kulit tujuh hari (rata-rata 1-5 hari), anthrax tipe intestinal (pencernaan) sekitar 2-5 hari dan anthrax tipe pernapasan (pulmonal) berkisar 1-5 hari (biasanya 3-4 hari).
Untuk hewan yang terserang penyakit ini, secara umum akan mengalami demam tinggi, gelisah dan gemetaran. Kemudian, produksi susu menurun, nafsu makan hilang, keluar darah kehitam-hitaman (seperti ter) dari dubur, mulut, hidung serta air kemih juga bercampur darah. Selain itu, akan terjadi kematian dalam waktu singkat.
Sementara itu, secara umum gejala klinis penderita penyakit ini adalah diawali dengan kulit gatal. Kemudian, kulit akan melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya -di sekitar keropeng akan bengkak dan nyeri. Demam akan tampak, jika anthrax sudah masuk tubuh dalam 24 jam. Selanjutnya, mual, muntah darah, sakit perut dan mencret pada anthrax usus; batuk darah dan sesak napas pada anthrax paru; sakit kepala, kaku duduk, kejang dan kesadaran menurun pada anthrax otak, akan menyerang. Berdasarkan tipenya, gejala klinis anthrax dapat dibedakan, seperti:
1. Tipe kulit (cutaneous Antrax)
- mula-mula terjadi papel, disertai gatal-gatal dan rasa sakit
- 2-3 hari kemudian akan menjadi vesikel yang berisi cairan kemerahan
- kemudian haemorrhagic dan menjadi jaringan nekrotik yang berbentuk ulcus dengan kerak berwarna hitam ditengah dan kering yang disebut eschar (tanda patognomonik anthax)
- diikuti oleh bentuk vesikel disekitarnya
- disekitar ulcus sering didapati erytema dan edema
- bila ditekan, edema itu tidak lunak dan tidak lekuk (non pitting)
- rasa nyeri jarang terjadi –jika ada, justru di daerah edema
- tidak didapatkan pus, kecuali bila diikuti dengan infeksi sekunder
- dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening regional
- demam sedang dan sakit kepala
- bila tidak segera mendapat pengobatan, dapat berkembang menjadi septicemia dan shock
2. Tipe pencernaan (Gastro Intestinal Anthrax) atau usus
- bersifat perakut atau akut
- gejala awalnya, rasa sakit perut hebat, mual, muntah, tidak nafsu makan dan suhu tubuh meningkat
- konstipasi diikuti diare akut berdarah
- hematemesis
- toxemia
- biasanya, kurang dari dua hari akan shock dan meninggal
- CFR bervariasi 5-75 persen
- tipe ini umumnya terjadi karena memakan daging yang tidak dimasak dengan sempurna
3. Tipe Pernapasan (Pulmonary Anthrax) atau paru
- Tipe ini sangat jarang terjadi. Jika terjadi, biasanya diakibatkan perluasan anthrax tipe kulit atau karena menghirup udara yang mengandung spora anthrax
- gejala awal ringan dan spesifik
- dimulai dengan lemah, lesu, subfebril, batuk non produktif (seperti tanda-tanda bronchitis)
- kemudian mendadak dispnoe, sianosis, stridor dan gangguan respirasi berat
- dalam waktu 24 jam, biasanya akan shock dan meninggal
4. Tipe Radang Otak (meningitis anthrax)
- Anthrax ini terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak
- umumnya merupakan komplikasi anthrax tipe pulmonal, intestinal atau cutaneus yang kemudian lewat aliran darah, tiba pada jaringan otak sehingga menimbulkan peradangan
- demam, sakit kepala hebat, kejang, kesadaran menurun, kaku kuduk
- muntah
- diakhiri dengan koma
- Liquor cerebro spinalis (LCS) berwarna keruh kuning kemerahan
Untuk mendiagnosa anthrax dapat dilakukan secara:
1. Klinis, berdasarkan gejala klinis yang muncul sesuai dengan tipe-tipe penyakit anthrax tersebut diatas
2. Laboratorium dengan berbagai metode atau uji:
- Mikroskopis, dengan pewarnaan metilen blue polichromatic, gram atau wright
- Kultural bakteriologik pada media agar darah dan kaldu protein
- Uji ascoli
- Identifikasi B.antracis dengan media gula-gula
- Uji biologik menggunakan hewan percobaan
- Uji serologi dengan PCR (Polymerasi Chain Reaction) dan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay)
Sampel yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium itu adalah serum darah vena, swab darah vena, usap ulcus swab, dahak dan tanah tempat hewan mati dikubur.
Tentunya, di penderita harus segera diobati. Jika tidak, bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Apalagi, obatnya sudah jelas: penisilin dan derivatnya. Pengobatan bisa disesuaikan dengan tipe atau gejala klinis yang ditemukan:
1. Tipe kulit
Procaine penicilline 2 x 1,2 juta IU diberikan secara intramuskuler (im) selama 5-7 hari. Atau dengan Benzyl penicilline 250.000 IU secara im setiap 6 jam. Perlu diperhatikan mengingat pilihan obat untuk Anthrax adalah penicilline, sehingga sebelum diberikan harus dilakukan skin test terlebih dahulu. Bila penderita atau tersangka hypersensitif terhadap penicilline dapat diberikan tetracycline, chloramphenical atau erytromycine
2. Tipe pencernaan
Tetracycline 1 gram per hari
3. Tipe pernapasan.
Penicilline G 18-24 juta IU per hari IVFD, ditambah dengan Streptomycine 1-2 gram
Selain antibiotika perlu diberikan juga obat-obat symtomatis lain.
Menjaga kebersihan individu dan lingkungan adalah cara jitu untuk mencegah datangnya serangan anthrax. Walau demikian, berbagai cara lain bisa dilakukan, seperti:
- Melapor ke dinas peternakan setempat kalau ada hewan yang sakit dengan gejala anthrax
- Tidak dibolehkan menyembelih hewan sakit anthrax
- Hewan hanya boleh disembelih di rumah potong
- Jika hewan dipotong diluar rumah potong harus mendapat izin lebih dulu dari dinas peternakan setempat
- Tidak diperbolehkan mengkonsumsi daging yang berasal dari hewan yang sakit anthrax
- Laporkan ke dinas kesehatan apabila menjumpai penderita atau tersangka anthrax
- Bila ada penderita dengan gejala-gejala anthrax segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit terdekat
- Hewan yang peka terhadap anthrax seperti sapi, kerbau, domba, kambing, kuda, secara rutin harus divaksinasi anthrax dua kali setahun
- Dianjurkan untuk tidak memandikan tubuh orang yang meninggal karena anthrax
- Dilarang membuat atau memproduksi barang-barang yang berasal dari hewan seperti kerajinan dari tanduk, kulit, bulu, tulang yang berasal dari hewan sakit atau mati karena penyakit Anthrax.
- Menjaga kebersihan kandang ternak
- Hindari hewan untuk kontak dengan peralatan barang yang tercemar bekas anthraks
- Jangan menyentuh atau mengkonsumsi bahan makanan yang berasal dari hewan yang dicurigai terkena anthraks.
- Mencuci bersih dan memasak bahan makanan sampai matang sempurna.
- Bangkai hewan yang mati karena terkena anthraks, tidak boleh dibuka dan sebaiknya segera dibakar atau dikubur ke dalam lubang sedalam 2,5 m; lalu diberi kapur dan ditimbun kembali dengan tanah.
- Kandang dan peralatan bekas hewan yang terkena anthraks, harus dihapus-hamakan dan semua yang tidak dapat disuci-hamakan harus dibakar.
Untuk itu, sangat dianjurkan untuk membeli daging dari tempat pemotongan resmi, memasak daging secara matang untuk mematikan kuman, serta mencuci tangan sebelum makan.
Pemerintahpun, seperti dikatakan staf ahli Bidang Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi Departemen Kesehatan, dokter I Nyoman Kandun MPH, sudah menyediakan obat untuk anthrax di seluruh kabupaten endemis anthrax, memberikan pelatihan surveillance dan diagnosis klinis serta laboratorium di empat provinsi endemis, mendistribusikan poster, leaflet, dan buku petunjuk penanganan anthrax.
Mengenal Bacillus Antthracis
Mekanisme kerja racun B. anthracis. Interaksi PA dengan reseptor di permukaan sel mengakibatkan berpisahnya dua molekul PA (1,2). PA63 kemudian membentuk komplek dengan sesamanya (3) yang memungkinkan EF dan LF berinteraksi dengannya (4). Komplek akhir ini yang bisa memasuki sel (5) dimana EF dan LF kemudian lepas dari komplek dan berfungsi sebagai racun (6). Protein racun B. antrachis terdiri dari 3 komponen berbeda yang saling membantu yaitu Lethal Factor (LF), Oedema Factor (EF) dan Protective Agent (PA). LF adalah komponen sentral racun ini yang bekerja sebagai protease (enzim pemotong protein) dimana aktivitasnya bergantung pada logam seng (zinc). Enzim serupa ditemukan pada beberapa bakteri patogen berbahaya seperti C. tetani, C. botulinum, Vibrio cholerae penyebab kolera, dsb. Baru-baru ini diketahui target LF dalam sel adalah protein MEK1/2 yang bertugas mengantarkan sinyal kimiawi dari luar ke dalam sel. EF adalah enzim adenylate cyclase yang bekerja mensintesa molekul cAMP sehingga peningkatan kadarnya secara tak terkontrol bisa menyebabkan hilangnya cairan tubuh. Untuk dapat berfungsi, LF dan EF perlu masuk sel. Tugas ini dibantu oleh PA. PA awalnya adalah protein yang terdiri dari satu subunit (monomer) yang bila berikatan dengan reseptor khusus dalam sel yang akan diserang, menjadi terpotong dua bagian oleh aktivitas protease furin. Berikutnya, bagian PA yang masih berikatan dengan reseptor tadi membentuk heptamer (tujuh subunit) dan memungkinkan LF dan EF berikatan yang selanjutnya bisa masuk ke dalam sel. Sebenarnya, masih ada satu lagi racun B. antrachis yang teridentifikasi, yaitu kapsul spora bakteri itu sendiri. Kapsul ini terbuat dari polimer asam amino D-glutamate yang berkatnya spora itu sukar dihancurkan oleh sel pemakan (macrophage). Akan tetapi, racun pembunuh utama adalah tiga protein tadi, khususnya LF dan PA. Konsentrasi LF sekecil 0,6 mikrogram bila ada bersama 3 mikrogram PA dapat membunuh macrophage dalam beberapa jam saja. Genom dan Vaksin B. antrachis termasuk dalam spesies Bacillus yang merupakan bakteri jenis Gram positif. Bakteri jenis ini penting untuk industri, lingkungan dan kesehatan. Misalnya. B. subtilis adalah produsen enzim amylase dan protease untuk tekstil dan makanan. B. subtilis (natto) dipakai untuk fermentasi sejenis tempe bernama natto yang digemari masyarakat Jepang. Bacillus juga model makhluk hidup paling sederhana yang melakukan metamorfosa (proses perubahan badan seperti ulat menjadi kupu-kupu) dari bakteri menjadi spora. Sehingga aspek biokimia, genetika dan fisiologinya menjadi pusat perhatian sejak 40 tahun yang lalu. Melalui kerjasama 46 lembaga di Eropa. Jepang dan Amerika, genom B. subtilis berhasil disekuen tahun 1997. LANL. Tempat dimana genom B. anthracis dibaca. Selain B. subtilis, contoh lain yang terkenal dalam spesies ini adalah B. thuringiensis yang gen dari protein racunnya, kristal protein, disisipkan pada tanaman transgenik seperti kapas, kedelai, jagung dsb agar tahan hama. Dari sekian banyak anggota spesies Bacillus, hanya B. antrachis yang bersifat patogen. Sifat yang disebabkan oleh racun-racun seperti dijelaskan di atas itu disebabkan oleh dua plasmid di bakteri ini yaitu pXO1 dan pXO2. Plasmid ini berukuran cukup besar yaitu masing-masing, 181 Kbp (kilo base pair, 1 kilo=seribu) dan 95 Kbp. Di antara 143 gen yang dikode oleh pXO1 terdapat tiga protein racun di atas. Sekuen pXO1 sudah dirampungkan tahun 1999 oleh grup peneliti dari Los Alamos National Laboratory, lembaga penelitian milik Departemen Energi Amerika. Grup yang sama sedang menyelesaikan sekuen pXO2. Dalam pXO2 sekurangnya ada tiga gen yang mengatur sintesa poly-D-glutamate, racun spora bakteri ini. B. antrachis yang tidak memiliki dua plasmid itu, tidak lagi berbahaya. Jadi hanya bagian sangat kecil saja dari genom B. anthracis yang bertanggung jawab pada sifat patogenitasnya. Selain dua plasmid ini, genom B. antrachis memiliki kromosom yang besarnya 4,2 Mbp (M=mega, 1 mega=sejuta), hampir sama dengan Eschericia coli. Sekuen kromosom ini sebentar lagi selesai, dikerjakan sendiri oleh The Institute of Genomic Research (TIGR) yang dimungkinkan berkat teknologi revolusionernya yang dikembangkan oleh Craig Venter, pendiri TIGR dan Celera Genomics yang baru saja merampungkan sekuen genom manusia. Vaksin yang digunakan Pasteur adalah bakteri yang tidak memiliki plasmid pXO1 sehingga tidak dapat memproduksi protein racun. Untuk itu efektivitas vaksin ini dipertanyakan. Namun demikian, penggunaan vaksin dengan bakteri yang memiliki pXO1 menimbulkan kekhawatiran terhadap kontaminasi lingkungan. Untuk itu, telah dibuat bakteri yang punya kedua plasmid tersebut tapi dengan rekayasa genetika dibuat agar tidak bisa membuat protein racun EF dan LF. Strain bakteri yang disebut RPLC2 ini dibuat oleh grup dari Institut Pasteur di Perancis dan terbukti ampuh menimbulkan daya tahan tanpa efek samping pada tikus. Spora B. antrachis bisa hidup puluhan sampai ratusan tahun. Sehingga hal ini menimbulkan kekhawatiran akan penggunaan spora hidup B. antrachis untuk vaksinasi walau sudah dilemahkan. Untuk itu, saat ini di Inggris dan Amerika khususnya, dipakailah protein PA yang tidak bersifat toksin secara langsung, sebagai vaksin. Tetapi efisiensinya rendah sehingga vaksinasi harus dilakukan berulang kali. Selain itu, variasi dalam asam amino PA di antara banyak strain B. antrachis menyebabkan efektivitas vaksin jenis ini dipertanyakan. Anthrax Setelah mengenal racun dan vaksin B. antrachis, dalam bagian terakhir tulisan ini akan dibahas mengenai anthrax itu sendiri. Dari perbedaan tempat infeksi di tubuh, antrax dapat dibagi menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah "cutaneous anthrax" yang disebabkan oleh infeksi melalui luka di kulit. Jenis ini meliputi >95% kasus yang dilaporkan di seluruh dunia, termasuk kasus di Bogor, Januari tahun ini. Spora dari binatang yang terinfeksi, misal di tempat penjagalan, masuk ke kulit korban melalui lubang luka. Dalam waktu 1-2 hari kemudian, muncul benjolan yang gatal, disusul dengan gelembung cairan kemudian borok hitam. Apabila cepat diobati, >99% dapat sembuh total. Tapi seperti yang terjadi di Indonesia, biasaya hal ini kurang diperhatikan sehingga infeksi lebih lanjut ke jaringan lain melalui aliran darah bisa menimbulkan kondisi yang lebih parah dan mematikan. Tampang B. anthracis. Berbentuk segi empat dengan ukuran kira-kira 1 x 4 mikron. Bulatan putih di tengah sel adalah spora. Warna biru adalah zat pewarna.Jenis kedua yang terbanyak berikutnya adalah "gastro intestinal anthrax" yang disebabkan oleh infeksi melalui makanan/daging yang sudah tertular. Spora B. antrachis sangat stabil, sehingga lebih baik dihindari memakan daging dari ternak yang mati karena anthrax. Contoh di Indonesia adalah peristiwa di Purwakarta, Jabar awal tahun 2000 akibat mengkonsumsi daging burung unta terinfeksi yang dijual murah. Gejalanya adalah sakit perut yang mendadak, disertai rasa mual, muntah-muntah dan mencret berat. Bila sudah parah, akan sampai kepada pendarahan dalam perut. Kalau tidak segera diobati, resiko kematiannya mencapai 25-60%. Yang terakhir adalah "inhaled anthrax". Jenis ini disebabkan oleh spora yang terhirup oleh korban. Jadi hanya mungkin disebabkan oleh ulah manusia yang menyebarkan spora tersebut dalam tindakan terorisme atau perang. Contohnya kasus di Amerika baru-baru ini dan kecelakaan pabrik pembuat senjata biologis Rusia tahun 1979 di kota Sverdlovsk (sekarang disebut kota Yekaterinburg). Dalam kasus ini, anthrax sangat mematikan (90% kemungkinan tewas). Ini disebabkan karena spora B. antrachis langsung terbawa ke dalam tubuh melalui paru-paru dan berinteraksi dengan sel macrophage yang menjadi sasaran pertamanya. Selain itu, gejala awalnya setelah 1-5 hari terinfeksi (masa inkubasi), sangat mirip dengan flu biasa, seperti batuk-batuk, panas dan badan lemah. Sehingga ketika kondisi makin parah seperti sulit bernafas, sudah dipastikan korban tidak tertolong lagi karena protein racun sudah menyebar ke mana-mana dan tidak bisa dimusnahkan dengan antibiotika seperti dijelaskan di awal. Kesimpulan Pengetahun mengenai B. antrachis, penyebab anthrax, sudah makin banyak diketahui mulai dari racun penyebabnya sampai kepada genom bakteri tersebut. Dapat diketahui, penyakit ini bukanlah penyakit ini yang sangat menakutkan seperti AIDS misalnya, karena dapat disembuhkan. Bila gejala awal segera ditangani, dapat diharapkan kesembuhan total. Deteksi awal, khususnya seperti dalam "inhaled anthrax", sedang menjadi perhatian khususnya sejak munculnya bioterorisme baru-baru ini.
Levi Silalahi, Berbagai Sumber





