Pangdam Jaya Mayjen Agustadi Sasongko Purnomo

Jum'at, 02 April 2004 | 13:47 WIB

Menggantikan Mayor Jenderal (kini Letjen) Joko Santoso (kini Wakil KSAD), sebelumnya Agustadi praktis tak banyak dikenal kalangan sipil. Ia tak mirip Prabowo Subianto, yang dulu tersohor layaknya pesohor. Bukan pula seperti Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikenal publik sejak bintangnya masih sebiji. Ia tenggelam dalam kependiamannya.

Lalu, apa yang membuat jenderal dari Kostrad ini menempati posisi kunci di wilayah teritorial militer paling ingar-bingar dan "gemah-ripah" ini?

Sumber di jajaran tinggi TNI menyatakan, pengangkatan Agus tidak lepas dari kepentingan politik salah satu tokoh yang tengah berburu kursi presiden. Tokoh yang masih berpengaruh pada struktur kepemimpinan militer itu diduga kuat tengah berusaha mengamankan posisinya di bekas habitatnya.

Menurut dia, dengan naiknya Agustadi ke kursi Pangdam Jaya, paling tidak tiga posisi kunci--Wakil KSAD, Pangkostrad, Pangdam Jaya--dipegang para sohibnya. Lebih lanjut, sumber itu mempersamakan jalur karier Agustadi dengan Joko Santoso, yang sempat menjadi anggota Fraksi
TNI di DPR. Keduanya bertugas di Senayan ketika sang tokoh memegang jabatan teritorial.

Namun, dugaan itu segera dibantah pengamat militer dari LIPI, Indria Samego. Ia menyatakan, apa yang dikatakan KSAD Ryamizard Ryacudu pada acara serah-terima jabatan Pangdam Jaya pekan lalu benar adanya. "Ini sekadar rotasi, penyegaran semata," tuturnya. Menurut dia, itu mutlak harus dilakukan karena saat ini jumlah jenderal di TNI-AD masih terlalu banyak. "Jadi, tidak ada
kaitannya dengan politik atau pemilu segala," kata Indria.

Kesamaan jalur karier Agustadi-Joko, tuturnya, tidak bisa dijadikan indikasi kedekatan mereka dengan salah satu figur di kabinet yang disebut-sebut akan memperebutkan kursi presiden.

Pengamat militer M.T. Arifin justru mengindikasikan menguatnya pertimbangan politik dan keamanan saat ini yang cenderung mengarah ke kawasan timur. Buktinya, banyak diangkatnya perwira yang pernah bertugas di sana. Ini menunjukkan dua hal. Pertama, perwira yang bertugas di kawasan timur memang lebih berprestasi. Kedua, menunjukkan wewenang politik dalam pergantian personel lebih besar dibanding pertimbangan teknis. "Saya melihat pengaruh dari lingkungan Polkam sangat kuat," kata Arifin.

Bagaimanapun, Jenderal Agustadi adalah perwira pintar yang sarat prestasi. "Dia itu lulusan terbaik, penerima Adhi Makayasa 1974," kata Brigjen Bambang Heru Sukmadi, rekannya seangkatan yang kini Sekretaris Dirjen Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan. Yang membuat suami Diana Wahyuni ini cenderung tak menonjol, katanya, adalah sifat pendiam dan low profile-nya, yang sudah terlihat sejak masa taruna Akabri dan masih tetap bertahan hingga kini. "Kita hanya tahu kepandaiannya kalau ia bicara dan tatkala melihat hasil ujiannya," kata Bambang.

Toh, ada suara-suara minor yang mengaitkan posisi ayah empat anak ini dengan lolosnya Alex Manuputty, terpidana empat tahun kasus makar dan Ketua Front Kedaulatan Maluku (FKM). Saat itu, Agustadi masih Pangdam Pattimura. "Tidak, soal itu kewenangan kepolisian," kata Indria Samego.

Ada aspirasi masyarakat agar TNI lebih proaktif menangani tindak kejahatan yang makin menggila di Jakarta. Itu juga menjadi pemikiran Kodam Jaya, kata Agustadi, tapi TNI perlu otoritas. Itu sebabnya perlu satu Undang-Undang TNI, kata mantan Anggota Fraksi ABRI DPR RI (1992-1999) itu, agar ada legalitas bagi TNI untuk bertindak.

Biodata

Mayjen TNI Agustadi SP lahir di Surabaya 6 Agustus 1952. Beliau menyelesaikan pendidikan militernya di AKABRI Darat tahun 1974 dengan kecabangan infantri. Sementara pendidikan pengembangan umum yang pernah diikuti antara lain Sussarcab, Sus Staf Pur dan Seskoad/1995. Pendidikan umumnya adalah Sekolah Rakyat (SR), SMP, dan SMA.

Perjalanan karir militernya diawali sebagai Danton tiga/A Yonif Linud 305/17/I/K, Danton tiga/A Yonif Linud 328/17/I/K, Danton dua/A Yonif Linud 328/17/I/K, Pasi 4 Sima Denma Brigif Linud 17/I/K, Kasi 3/Pers Yonif Linud 328/17/I/K, Dankipan A Yonif Linud 330/17/I/K, Kasiops Yonif Linud 305/17/I/K, Kasiops Yonif Linud 330/17/I/K, Kasiops & Org Sdirbinlitbang Pussenif TNI AD Dan Yonif Linud 100/I/BB, Kasiopsrem 011/LW Kodam I/BB, Dandim 0106/Aceh Tengah Kodam I/BB, Waasops Kasdam I/BB, Anggota Fraksi ABRI DPR RI (1992-1997), Anggota Fraksi ABRI DPR RI (1997-1999), Pati Mabes TNI AD, Kasdam XVII/Trikora, Pangdivif 2/Kostrad, Pangdam XVI/Pattimura, Pangdam Jaya.

Dalam bidang penugasan operasi, Agustadi pernah mengikuti Operasi Seroja di Tim-Tim (1975), Operasi Pamungkas di Tim-Tim (1978), Operasi Kikis di Tim-Tim (1981), Operasi Kilat di Tim-Tim (1983), Operasi Jaring Merah Aceh I-IV (1991-1994) dan Operasi Nuri 01 di Irian Jaya (2001).

Agustadi pun pernah ditugaskan untuk belajar ke luar negeri antara lain kunjungan ke Jepang (self deference force) tahun 1987, studi banding (bidang Dikbud) ke Norwegia tahun 1997, dan kunjungan Muhibah (pimpinan DPR RI) ke Vietnam tahun 1999.

Anugerah bintang dan tanda kehormatan yang dimiliki Agustadi antara lain SL Seroja I-IV, SL GOM VII/Ops GPK Aceh I dan II, SL GOM IX/Ops Papua, SL Kesetiaan 24 tahun, SL Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, SL Veteran Pembela Kemerdekaan dan Bintang Yudha Dharma Nararya.

Mayjen TNI Agustadi SP menikah dengan Diana Wahyuni dan dikaruniai empat orang anak.


Sumber: Majalah Tempo