Hambali

Sabtu, 17 April 2004 | 17:55 WIB

Para petugas polisi dan intelijen Asia menyatakan, mereka bersiap-siap menghadapi ancaman global yang dilakukan oleh kaum militan Islam Asia Tenggara, yaitu seorang ulama Indonesia berjenggot yang bernama Ridwan Isamuddin.

Ia lebih dikenal dengan sebutan Hambali, seorang pria berusia 36 tahun. Hambali merupakan veteran perang Afghanistan melawan Uni Soviet, sekitar 1980. Hambali merupakan tokoh utama jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara, yang merencanakan serangan teroris paling ambisius terhadap Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya. Hal ini dinyatakan para agen keamanan Singapuran dan negara-negara Asia lainnya, seperti Filiphina dan Malaysia. Rencana itu termasuk serangan 11 September 2001 di New York dan Washington, dan ini sudah direncanakan sejak 1994. Sandinya bernama Bojinka –bertujuan untuk membajak dan meledakkan 11 pesawat jet AS yang menjalani rute penerbangan di Asia.

Tentu saja, ketika para penyelidik lebih memfokuskan penyelidikannya di kawasan Eropa dan Afrika terhadap tragedi 11 September, para agen keamanan di Asia Tenggara menyatakan, mereka semakin percaya bahwa kawasan mereka merupakan daerah persinggahan utama bagi pelaku yang terlibat dalam serangan atas World Trade Center (WTC) dan Pentagon.

Para polisi Singapura, Malaysia dan Filiphina pun menyatakan mempunyai bukti-bukti yang mengarah kepada Hambali sebagai pelaku utama yang merencanakan berbagai aksi serangan teroris lainnya, seperti pemboman Kedutaan Besar AS dan kantor-kantor perdagangan dan instansi militer AS di Singapura. Polisi Asia Tenggara telah menangkap hampir 50 tersangka yang terkait dengan rencana itu, dimana mereka langsung berpencar ketika ditemukannya sebuah rekaman pos penjagaan di markas Al-Qaidah di Afghanistan. Pemerintah Singapura menuduh Hambali sebagai dalang rencana serangan teroris yang dilakukan satu kelompok militan Islam Asia Tenggara. Kelompok itu sebelumnya dipimpin seorang ulama yang merupakan bekas guru Hambali, Abu Bakar Ba’asyir. Ulama Islam itu, telah dimintai keterangannya oleh pihak kepolisian Indonesia dan juga sedang diburu oleh kepolisian Malaysia. Abu Bakar Ba’asyir telah menyangkal semua tuduhan, dirinya berperan dalam kegiatan teroris. Pemerintah Singapura pun yakin, jaringan teroris Singapura melaporkan kepada struktur kepemimpinan yang bermarkas di Malaysia pimpinan Hambali.

Tapi, para agen intelijen Asia mengatakan, Hambali dan Al-Qaidah juga sedang mengejar rencana jangka panjang yang jauh lebih ambisius, yaitu mendirikan negara Islam yang mencakup Indonesia, Malaysia dan kepulauan Muslim di sebelah Selatan Filiphina. Diduga keras, Hambali dan kelompoknya telah merencanakan pembunuhan dan pemboman di ketiga negara itu dan juga telah mendukung aksi jihad atau perang suci melawan umat Kristen.

Kegiatan Hambali selama delapan tahun terakhir, memberikan gambaran mengenai karakteristik terorisme di Asia Tenggara yang berpusat di ketiga negara itu. Sebelumnya, para agen intelijen barat memandang kaum militan Islam Asia sebagai kaum pinggiran yang semata-mata dipandang sebagai isu domestik. Rencana para teroris itu –seperti Bojinka– dirasakan sebagai kerja dari orang-orang asing yang bekerja di kawasan ini. Kegiatan Hambali di empat negara Asia, sepertinya menunjukkan Asia Tenggara sebagai tempat peneluran kaum militan untuk go internasional. Kepolisian Filipina bahkan menyatakan, sejak operasi 1994, jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara tidak pernah benar-benar hancur, dan itu telah mendorong ekspansi yang cepat dari ekstremisme Islam di kawasan itu.

Pihak kepolisian Indonesia dan Malaysia sendiri memburu Hambali berkaitan dengan aksi pemboman dan tuduhan tindakan subversif. Beberapa rekan Hambali menyangkal jika Hambali dikatakan teroris. Usaha untuk menemukan Hambali di Indonesia dan Malaysia telah mengalami kegagalan.

Jelas, penangkapan terhadap Hambali jadi prioritas utama para agen keamanan di Asia Tenggara, karena pemerintahan Bush telah memperluas perang global terhadap Al-Qaidah di kawasan ini. Lebih dari 600 pasukan AS tiba di selatan Filipina untuk membantu Manila mengalahkan Abu Sayyaf -kelompok pemberontak Muslim yang terkait dengan Usamah bin Ladin dan Al-Qaidah. Beberapa pejabat AS menyatakan, Washington mungkin akan memperluas peranannya, membantu pasukan Filipina memerangi kelompok militan lainnya atau menghadapi ekstremis yang beroperasi di Indonesia.

Penangkapan terhadap Hambali mungkin tidaklah mudah. Ketidakberdayaan hukum di Indonesia dan Filipina jadi surga bagi para pemberontak dan teroris. Para polisi Indonesia dan Malaysia menyebutkan, Hambali dan kelompoknya terlindungi lewat pembagian organisasi mereka ke dalam sel-sel kecil -masing-masing anggotanya sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Para pejabat AS dan Asia merasa takut jika kelompok-kelompok yang terkait dengan Al-Qaidah masih dapat melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran mereka di Asia.

Lahir dari keluarga kelas menengah di Jawa, Hambali merasa kesal dengan kesulitan menjadi seorang muslim yang taat ketika Indonesia dipimpin Soeharto. Ketika belajar di satu pondok pesantren fundamentalis, Hambali berfikir, merupakan tugas seorang Muslim untuk berjuang menegakkan syariat atau hukum Islam di negara yang mayoritas masyarakatnya Muslim, seperti Indonesia. Tapi, Presiden Soeharto, seorang sekuler, telah menekan gerakan-gerakan Islam. Hambali merasa frustasi dan meninggalkan Indonesia menuju Malaysia, pada 1980-an, setelah sejumlah guru-guru agamanya dipenjara Soeharto.

Di Malaysia, kata polisi dan bekas teman-temannya, Hambali bergabung dengan kelompok Islam yang dianggap mendorong jihad melawan ketakutan. Dalam perjalanan ke Asia Barat, Hambali membantu Al-Qaidah setelah rencana Bojinka terbongkar. Polisi Filipina menangkap Wali Khan pada Januari 1995, setelah menggerebek apartemen Yousef di Manila. Tapi dia segera melarikan diri. Para agen intelijen yang bermarkas di Asia menyatakan, Hambali membantu Wali Khan membuat identitas baru dengan memberikan dokumen perjalanan palsu yang membantunya masuk ke Malaysia. Wali Khan berencana membuka restoran di pulau Langkawi, bagian utara Malaysia. Restoran itu disinyalir, dimaksudkan untuk menyediakan markas baru kegiatan Al-Qaidah di Asia Tenggara. Hambali dan ulama radikal Indonesia lainnya yang kabur ke Malaysia sejak 1980-an, kemudian kembali ke Indonesia dan mendirikan kelompok veteran perang Afghanistan yang disebut Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Para anggota kelompok itu merekrut dan melatih umat Islam dan mengirim mereka untuk berperang di Maluku. Polisi Malaysia menyatakan, Hambali berkonsentrasi untuk menyiapkan kamp pelatihan di Sulawesi, seperti halnya Mindanao. Hampir 10 ribu orang Indonesia terbunuh di Maluku dalam kekerasan antar golongan selama tiga tahun.

Anggota MMI mengaku, memang Hambali berperan dalam mengobarkan semangat jihad di Maluku, tapi tidak terkait dengan terorisme. Karena memang tujuan MMI adalah mempersiapkan suatu negara Islam di Asia Tenggara. Sehingga, muslim di mana saja harus siap untuk mati, untuk membela saudara muslim lainnya.

Hambali diburu pihak kepolisian Indonesia lantaran disangka terlibat dalam pemboman gereja di Jawa Timur pada Malam Natal 2000. Anggota MMI lainnya yang juga kawan Hambali, seorang warga Malaysia bernama Taufik Abdul Halim, telah dipenjara di Indonesia setelah satu bom yang dibawanya meledak di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta pada 1 Agustus 2001, yang menghancurkan salah satu kakinya.

Pemerintah Filipina sendiri kemudian menangkap Fathur Rohman Al-Ghozi –warganegara Indonesia dan sudah lama kenal dengan Hambali dan kelompoknya. Al-Ghozi ditangkap ketika mencoba mengirimkan satu metrik ton bahan peledak ke Singapura dalam rangka persiapan serangan teroris di sana. Al-Ghozi mengaku, dirinya melapor kepada Hambali dan kelompoknya akan status serangan itu. Ayah Al-Ghozi, Muhammad Zaenuri menyatakan, dirinya tidak pernah bertemu anaknya dan terkejut mengetahui tuduhan itu.

Hambali juga dinyatakan sebagai tokoh utama dalam kelompok militan di Malaysia, Kelompok Mujahidin Malaysia (KMM). Petunjuk itu didapat dari peristiwa perampokan bank yang ceroboh. Ketika polisi memeriksa rumah dua orang Malaysia yang ditangkap, mereka menemukan foto Hambali. Foto itu mirip dengan foto yang ditemukan di apartemen milik Ramzi Yousef di Manila, pada 1995. Foto itu merupakan petunjuk, kelompok Islam militan di Malaysia memiliki keterkaitan dengan jaringan Al-Qaidah.

Bukti lebih kuat muncul setelah serangan 11 September. Dua orang pembajak pesawat American Airlines yang menabrak Pentagon –Khalid Al-Midhar dan Nawaf Al-Hazmi– berkunjung ke Kuala Lumpur dan ditangkap polisi Malaysia pada saat itu juga. Para pejabat intelijen yang bermarkas di Asia menyatakan, rekaman pengamatan itu dibuat selama kinjungan itu menunjukkan, Hambali telah bertemu dengan dua orang Al-Qaidah yang beroperasi beberapa kali. Hambali merupakan orang yang mempersiapkan pembajak masa depan yang diinapkan di apartemen miliknya oleh seorang rekan karibnya warga Malaysia, Yazid Sufaat. Sekarang ia ada dalam tahanan polisi dengan tuduhan sebagai anggota KMM.

Hambali memperkenalkan Yazid kepada Zacarias Moussaoui –tersangka dalam serangan 11 September yang disidang di AS– ketika Moussaoui mengunjungi Kuala Lumpur pada September dan Oktober 2000. Selama kunjungannya itu, Yazid memberikannya surat penunjukkan dirinya sebagai agen pemasaran perusahaan perangkat lunak komputer yang bernama Infocus Tech Sdn. Bhd. Direktur Manajemen perusahaan itu, Ahmad Zeki Embi, membantah soal surat itu dan menyatakan, dirinya tidak tahu sama sekali bagaiman surat itu ada pada Moussaoui. Polisi Malaysia tidak akan mengizinkan Yazid masuk ke Malaysia, berdasarkan UU keamanan negara.

Strategi serangan bunuh diri 11 September merupakan cermin dari kegagalan rencana Bojinka Wali Khan pada 1994. Salah seorang anggota Al-Qaidah yang ditangkap pada 1994, Abdul Hakim Murad, mengambil kursus terbang selama satu tahun dan ditangkap bersama komputer laptop milik Yousef, yang menggambarkan secara rinci rencana penerbangan 11 pesawat terbang AS yang merupakan sasaran dari rencana Bojinka.

Para pejabat Filipina menyangka Hambali dan Yazid mungkin membantu melarikan beberapa orang pembajak 11 September keluar dari AS. Padahal, seharusnya Filipina lebih agresif pada 1994 mengikuti jejak operasi itu. Pejabat Malaysia juga menyatakan, kegiatan Hambali masih tampak. Sebagai contoh, Hambali memerintahkan Yazid untuk membawa empat metrik ton amonia nitrat, satu fertilizer yang kadang-kadang digunakan untuk membuat bom, pada Oktober 2000, bersamaan waktunya dengan kunjungan Moussaoui ke Malaysia. Diduga, bahan itu akan digunakan Jamaah Islamiyah untuk menyerang Kedubes AS dan sasaran-sasaran lainnya di Singapura.

Agen keamanan Malaysia dan Filipina menyatakan, Hambali dan kelompoknya aktif di kedua negara itu. Pada pertengahan 2000, Presiden Filipina, Joseph Estrada, menyerang Front Pembebasan Islam Moro (MILF) -kelompok pemberontak muslim yang melawan penguasa Filipina di Mindanao. Pembicaraan damaipun ditempuh, tapi Estrada akhirnya memerintahkan untuk menyerang kamp MILF yang diyakini pejabat intelijen Malaysia dan Filipina sebagai pusat pelatihan kaum militan Asia tenggara.

Hambali segera membantu aksi balas dendam MILF. Pada 1 Agustus 2000, bom meledak di luar rumah Duta Besar Filipina di Jakarta, yang menewaskan dua orang dan melukai beberapa orang diplomat. Kemudian pada 30 desember 2000, bom meledak di dalam kereta penumpang di Manila, yang menewaskan 22 warga Filipina. Sebenarnya, pihak kepolisian Indonesia dan Filipina tidak yakin siapa yang merencanakan kedua serangan itu. Tapi, penyadapan telepon dan interogasi menangkap adanya operasi Al-Qaidah di Filiphina.

Napak Tilas Jejak Hambali
Hambali meninggalkan Indonesia setelah meledakkan bom pada Malam Natal 24 Desember 2000. Dari bukti forensik bom yang diledakkan di beberapa daerah di Indonesia: Medan (15 titik), Batam, Pekanbaru, Jakarta (tujuh titik), Bandung (tiga titik), Pangandaran, Sukabumi, Mojokerto dan Nusa Tenggara Barat itu, penyidikan bom Natal mengungkap satu kelompok yang dikendalikan Hambali. Hambali terdeteksi berada di Indonesia, tepatnya di Cianjur. Tapi setelah dilacak, ternyata Hambali sudah kabur ke Malaysia. Para tersangka bom Natal yang ditangkap menyebut Hambali sering keluar masuk Indonesia–Malaysia sebagai pedagang batik.

Kemudian, tim gabungan Polda Jawa Barat dan Markas Besar Polri berangkat ke Malaysia untuk menangkap Hambali. Polisi Diraja Malaysia membantu tim selama 12 hari dan ternyata Hambali sudah kabur ke Timur Tengah, pertengahan 2001. Keterangan itu dari saksi Ahmad Sajudi, warga Indonesia di Malaysia yang mengurus paspor dan visa Hambali. Tim kembali ke Indonesia dan berpesan ke polisi Malaysia agar menangkap Hambali jika sewaktu-waktu kembali ke Malaysia. Dalam Paspor berdasarkan pelacakan ke Kantor Imigrasi Malaysia diketahui, Hambali beserta isterinya berangkat ke Pakistan.

Februari 2001, ada informasi Hambali di Bangkok untuk memimpin rencana peledakan bom berikutnya yang kemudian terjadi ledakan bom di Bali. Dari Bangkok, Hambali bersembunyi di perkampungan di Kamboja Selatan (Kampung Champ), lalu bergeser lagi ke Satani (Thailand Selatan).

Polisi kehilangan jejak Hambali, termasuk kepergiannya ke Afghanistan. Polisi Indonesia sulit melacak karena keterbatasan ruang gerak masuk ke negara lain. Kemudian terjadi Bom Bali Desember 2001, yang dalam rencana sebelumnya tidak disebut spesifik. Mereka hanya menyebut "Amalia" (sandi pengeboman) di kawasan Jihad Mantigi Dua (Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara Barat).

Polisi kesulitan menangkap Hambali di Indonesia, Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar membentuk Joint Task Force dengan Australia, Thailand, Singapura, Fillipina, untuk mengejar Hambali. Joint Task Force ini sepakat untuk saling membagi informasi keberadaan dan menangkap Hambali. Akhirnya 12 Agustus 2003, Hambali ditangkap di Thailand. Kini, keberadaannya masih tetap menjadi rahasia.

Levi Silalahi, Faisal A