Tim Relawan: Korban Biasanya Orang Kecil
Jum'at, 10 September 2004 | 19:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Korban bom seringkali menimpa orang-orang dari kalangan warga kelas bawah atau orang kebanyakan. Bom di depan Kedubes Australia, Jalan Rasuna Said Kuningan, Jakarta, juga memakan korban warga biasa, bukan pejabat kedutaan atau tamu-tamu penting kedutaan. Korbannya adalah satpam, tukang kebun di sekitar kedutaan, seorang mahasiswi, juga ibu-ibu yang sedang melamar kerja di kedutaan. Mereka adalah orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang “misi” di balik peledakan bom tersebut.
Kondisi seperti ini disadari oleh Tim Relawan untuk Kemanusiaan, yang berpengalaman membantu korban-korban kekerasan, baik bom atau bentrokan, sejak tragedi 27 Juli 1996 hingga kejadian bom Kuningan.
Satu jam setelah menerima kabar bom di depan Kedubes Australia, salah seorang pendiri Tim Relawan, Ade Rostina Sitompul, mengontak setidaknya enam relawan untuk langsung melihat kondisi di lapangan dan rumah sakit-rumah sakit. “Dari pengalaman yang sudah-sudah, orang-orang kecil yang selalu menjadi korban, mereka memerlukan bantuan finansial,” perempuan yang akrab dipanggil Ibu Ade.
Langkah yang ditempuh Tim Relawan, kata Ade, berupaya mewawancarai keluarga dan korban, sehingga diperoleh data-data alamat korban dan kebutuhan mereka pasca perawatan di rumah sakit.
Bantuan evakuasi tidak lagi dilakukan Tim Relawan, karena aparat sudah tanggap. Aparat, kata Ade, sejak kasus bom di Hotel JW Marriott, setahun lalu, lebih cepat menangani korban dibandingkan pengalaman bom-bom sebelumnya.
Dari pengumpulan data dan investigasi lanjutan, Tim Relawan kemudian dapat menentukan bantuan yang akan diberikan, apakah berupa biaya berobat jalan, biaya transportasi keluarga yang membesuk, atau biaya keluarga yang menemani korban di rumah sakit.
Data-data yang dimiliki Tim Relawan tersebut sifatnya terbuka bagi berbagai pihak. “Mereka yang meminta data ke kami biasanya sudah mengetahui kegiatan pengumpulan data tersebut. Mereka biasanya menyalurkan bantuan buat korban seperti PMI atau Kementerian Pemberdayaan Wanita,” ujar Ade.
Di rumah sakit, selain mendata korban, Tim Relawan juga melakukan advokasi terhadap korban. Misalnya, pada tahap-tahap awal di mana rumah sakit kedapatan membebankan biaya pada korban, baik itu biaya uang muka untuk melakukan operasi atau biaya pengambilan jenazah.
Taat Ujianto, salah seorang anggota Tim Relawan mengatakan biaya-biaya yang dibebankan oleh rumah sakit kepada korban, akibat tidak tersosialisasinya surat edaran dari Menteri Kesehatan yang menyatakan menanggung seluruh biaya korban di rumah sakit.
Memang, diakui Ade, hingga kini Tim Relawan belum memberikan bantuan finansial kepada korban bom Kuningan. Namun, ia yakin dengan data korban dan jaringan yang dimilikinya mereka akan tetap berusaha memberikan bantuan. “Semampu kami, walaupun kecil,” ujarnya.
Erwin PZ - Tempo


